Saturday, August 29, 2015

Artikel ini membahas tentang Masa Peradaban Yang Berpengaruh Pada Dunia Seni. Semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Masa Peradaban Yang Berpengaruh Pada Dunia Seni


Pada dasarnya peradaban Indonesia ini terbagi atas beberapa masa peradaban yang mempengaruhi dunia seni. Telah terkemukakan bahwa indonesi ini memeliki 4 masa peradaban yang saling beringkatan yakni
1. peradaban masa zaman batu,
2. peradaban masa zaman hindu-budha,
3. peradaban masa zaman Islam dan
4. masa moderan saat ini.

Artinya indonesia mempunyai 4 masa peradaban yang mengawali zaman modern saat ini.

Telah lama dikenal juga juga bahwa zaman batu telah melahirkan bentuk-bentuk seni rupa yang sangat menarik baik itu dari seni kriya sendiri yang berupa patung ataupun seni rupa yang berupa gambaran yang menjadi anggapan itu adalah nenek moyang mereka yang dapat menjadikan mereka tempat bersandar akan segala masalah yang mereka hadapi di dunia. Hingga saat ini zaman modern telah dikenal bahwa seni rupa mempunyai fungsi yang amat sanga penting dalam dunia masyarakat sebagaiman terbukti pada masa lalu pula. Hal ini terlihat bahwa seni dizaman batu masih terpakai untuk saat ini dan zaman batu menjadikan zaman itu mempunyai ciri khas tersendiri. Begitu juga zaman peradaban hindu – budha dan zaman peradaban masa zaman Islam yang sangat mempengaruhi unsure kepercayaan.

Kongkrit bahwa 3 peradaban dimasa lalu mempunyai khasanah tersendiri yang mengubah paradigma banyak hal. Zaman ini karya seni yang dianggap modern adalah karya yang kebanyakan seni rupa atau dengan kata lain berupa lukisan. Sebelum lahirnya Persagi yang mengatasnamakan diri mereka adalah ahli gambar. Tentunya ini dapat menjadi pengkajian yang sangat efektif. Tentu saja jika dikatakan Persagi dibentuk, adakah mereka zaman seni modern. Sepertinya tidak. Karena dapat dikatakan mungkin saja mereka sebagai peng-reka dari seni masa lalu untuk masa modern dan tidak mustahil.jika itu masa modern tentunya bukan sebuah nama zaman. Banyak itu modern adalah hal yang baru atau melinium.

Dapat digambarkan seperti zaman terhulu yakni pada masa peralihan dari zaman batu kezaman hindu-budha, tentunya masa zaman hindu-budha adalah zaman moderen pada amsa itu.(retorika modern: rahmat J 2004). Dapat dikategorikan bahwa zaman saat ini yang terssebut modern masih mengadobsi zaman sebelumnya yang menjadikan zaman ini hanya pengembangan seni secara sederhana saja. Mengapa tidak? Jika dikatakan karya lukisan saat ini sangan bagus tentung dapat diperhatikan? Apakah yang dihasilkan seni lukisan saat ini. Adakan keterkaitan dengan masa zaman masa lalu dan ini tidak dapat diumgkiri. Jika ada maka terlihat bahwa unsure seni masa lalu masih terpakai untuk saat ini. Jika seni yang ada pada masa 3 peradaban yang lalu memberikan kontribusi yang sangat kepada banyak kalangan. Dapat dipertanyakan, adakan hasil cipta masa saat ini yang amat memberi kontribusi tanpa pengeruh apapun termasuk seperti pada masa lalu. Contoh dari segi nilai dasar perjuangan akan kepercayaan ; masa peradaban zaman batu masih menyembah unsure tidak bertuhan, tentu pada masa hindu-budha telah ada pengembangan dengan mengakui tuhan walaupun belum sempurna, dan masa selanjutnya pula terlah masuk agam Islam sebagai agama benar walaupun hindu-budha masih ada, nah dpatkan pada masa saat ini seni membuktikan yang paling benar antara keduanya.
Dan hal seperti inilah yang menjadi kan satu kontribusi yang sanagt berarti. Namun terlihat saat ini bahwa seni yang ditimbulan tidak seperti itu. Jika dikataka seni saat ini yang berupa lukisan telah sangat nyata.

Masa Peradaban Yang Berpengaruh Pada Dunia SeniNamun bagimana dengan pengaruh elektronik yang lebih canggih yang dapat menghasilkan karya lebih bagus sebab pada umum masyarakan dapat menjadikan satu unsure kebutuhan apabila itu dapat menjadi satu kebutuhan dan menarik. Jik dikatakan pula bahwa walaupun tidak menarik itu juga seni, dapat digaris bawahi apakah seni menjadi konsumsi umu atau tidak? Jika tidak untuk apa seni dipamerkan? Artinya seni yang ditimbulkan saat ini masih memerlukan pengembangan dan tidak menjadikan seni saat ini sebagai wacana yang dibesar-besarkan.peradaban pada lalu menjawab bahwa zaman saat ini yang dianggap modern mungkin saja belum mempunyai nama yang mempunyai hak paten dalam perberian nama, namun jika saat ini kita yang dianggap seniman pula wajib menjadi penonton seni pada lalu, sepertinya tidak. Sebagai senima diharuskan melahirkan seni dalam berkarya yang lebih menarik dan bila perlu tidak menadobsi masa lalu. Karena titik kreativitas memliki 2 dimensi yakni kreatif sebagai pencipta atau sebagai pngembangan saja. Hal seperti ini akan menjawab bahwa seni saat ini yang di anggap modern sebagai apakah itu? Pengembangan ataukah penciptaan? Dan ini dapat terjawab oleh semua kalangan.





Artikel ini membahas tentang Hubungan Antara Kebudayaan dan Seni di Indonesia. Semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Hubungan Antara Kebudayaan dan Seni di Indonesia

Perkembangan seni moderen di Indonesia sebagai segi dari perubahan budaya tentu adalah sebuah dari pertanyaan yang lebih luas mengenai pengaruh seni. Pada perdebatan antara pihak timur dan barat mengenai mederenisasi dan westerenisasi? Karena pengaruh itu berpengaruh pada kehidupan barat yang semakin lama semakin masuk kewilayah timur secara menyeluruh.

Secara empiris dapat terlihat bahwa seni yang berkembang di Indonesia telah mengalami stilisasi dari dunia luar, seperti halnya pada masa dunia luar masuk kewilayah aceh ataupun Indonesia pada masa silam yang mereka rata-rata adalah pedagang yang tentunya sudah pasti banyak sisi kebudayaan yang masuk keindonesia yang terus-menerus menjadi awal kebudayaan baru yang menjadikan seni mempunyai banyak pengaruh dari dunia luar.

Antara Kebudayaan dan Seni di IndonesiaIndonesia terkenal sebagai daerah yang dimasuki oleh masyarakat purba dari wilayah cina selatan (teori). Secara kondisional pula Indonesia telah dimasuki banyak daerah seperti halnya pada masa penjajahan dan masa globalisasi 2020 yang itupin akan sangat berpengaruh pada perkembangan dunia kebudayaan yang mengarah pada seni kebudayaan. Jelas terlihat bahwa kebudayaan Indonesia ini tidak dapat dijadikan hak paten masa lalu tetapi selepas Indonesia Merdeka barulah timbul hal yang seperti ini dan bukan tidak mungkin ini adalah stilisasi dari masa terdahulu yang menjdi kebiasaan. Nah jika hal itu terlah benar terjadi. Berarti Indonesia telah mempunyai penggayaan baru dari dunia luar akan han seni dan kebudayaan.

Pendifinisian seni dan kebudayaan secara mendasar juga saling berkaitan yang juga saling berhubung. Dan seni di Indonesia telah terkontaminasi dari duni luar. Hal ini juga berpengaruh pada seni terdahulu. Jika digaris bawahi sifat manusia dahulu adalah nomaden artinya tidak ada yang memurnikan unsure seni sebagai hak kecuali untuk pengaruh latar yang menjadikan tempat. Terlihat bahwa unsure kebudayaan indonesia juga dimiliki oleh orang lain hanya terdapat hal yang dimiliki oleh daerah untuk membedakan sebagai popularitas kabangsaan.





Friday, August 28, 2015

Artikel ini membahas tentang Pengertian Nirmana Dua Dimensi. Semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Pengertian Nirmana Dua Dimensi



Nirmana dibentuk dari dua kata yaitu nir berarti tidak, mana berarti makna, jika digabungkan berarti tidak berarti atau tidak mempunyai makna. Jika di artikan lebih dalam nirmana berarti lambang-lambang bentuk tidak bermakna, dilihat sebagai kesatuan pola, warna, komposisi, irama, nada dalam desain. Bentuk yang dipelajari biasanya diawali dari bentuk dasar sepertikota k, segitiga, bulat yang sebelumnya tidak berarti diracik sedemikian rupa menjadi mempunyai makna tertentu.

nirmana berbicara mengenai harmoni, keselarasan soal rasa, dan impresi pada sebuah bentuk. nirmana tidak hanya mencakup 2 dan 3 dimensi saja melainkan menjelajah sebuah ruang yang disebut dengan ruang maya.

Pengaplikasian nirmana absolut dilakukan dalam semua bidang seni rupa dan desain. Contohnya adalah fotografi, bidang seni ini mempunyai kemampuan melaksanakan eksekusi ini dengan sangat baik. Kapabilitas fotografi yang merekam obyek setepat-tepatnya dapat kita kacaukan dengan nirmana. Tentu kita sudah biasa jika melihat langit yang jauh yang berwarna biru dan pepohonan yang dekat dengan warna hijau. Namun dengan nirmana, langit dapat kita beri warna panas (orange/ kuning) untuk menciptakan kesan objek itu dekat dengan kita. Dan pohon dengan warna dingin (misal biru) untuk memberi kesan objek itu jauh dengan kita.

Hal ini dapat kita terima sebab kita memandang dari nalar bentuk. Disinilah seni dan desain dapat dinilai atas dasar kualitas artistiknya, yaitu menilai segala sesuatunya dari sisi bentuk, bukan dari hal-hal di luar bentuk.

Nirmana terdiri dari 2 jenis, yaitu nirmana 2D (dwimatra) atau lebih dikenal nirmana datar , nirmana 3D (trimatra) atau dikenal nirmana ruang. Nirmana 2D adalah nirmana yang dibuat diatas bidang datar, mempunyai panjang dan lebar.nirmana 2D melatih kepekaan seorang seniman untuk unsur-unsur rupa seperti warna, bentuk, garis,dan penerapannya. Dan mempertimbangkan komposisi, irama, dan kesatua kedalam karya bidang datar itu sendiri menjadi kesatuan yang harmoni.atau selaras. Nirmana 3D dibuat diatas bidang yang mempunyai panjang, lebar, tinggi, dan mempunyai ketebalan, ruang serta volume. Sama seperti nirmana datar, sama-sama melatih kepekaan, melatih kreatifitas dan kepekaan estetis dalam bentuk 3 dimensi, serta pengenalan material seperti bahan ,struktur dan juga sifatnya. Perbedaannya dengan nirmana datar hanyalah karya 3 dimensi dinikmati dari berbagai sudut pandang secara serempak untuk mencapai keserasian rupa.


Elemen–elemen seni rupa dapat dikelompokan menjadi 4 bagian berdasar bentuknya.

  1. Titik, titik adalah suatu bentuk kecil yang tidak mempunyai dimensi. Raut titik yang paling umum adalah bundaran sederhana, mampat, tidak bersudut dan tanpa arah.
  2. Garis, garis adalah suatu hasil goresan nyata dan batas limit suatu benda, ruang, rangkaian masa dan warna.
  3. Bidang, bidang adalah suatu bentuk pipih tanpa ketebalan, mempunyai dimensi pajang, lebar dan luas; mempunyai kedudukan, arah dan dibatasi oleh garis.
  4. Gempal, gempal adalah bentuk bidang yang mempunyai dimensi ketebalan dan kedalaman.
Penyusunan adalah suatu proses pengaturan atau disebut juga komposisi dari bentuk-bentuk menjadi satu susunan baik. Ada beberapa ketentuan yang perlu digunakan untuk menyusun bentuk-bentuk itu. Walaupun penerapan prinsip-prinsip penyusunan tidak bersifat mutlak, namun karya seni yang tercipta wajib layak disebut karya baik. Perlu diketahui bahwa prinsip-prinsip ini bersifat subyektif pada penciptanya.

Dalam ilmu desain grafis, selain prinsip-prinsip diatas ada beberapa prinsip utama untuk tujuan komunikasi dari sebuah karya desain.

1. Ruang Kosong (White Space)
Ruang kosong dimaksudkan agar karya tidak terlalu padat dalam penempatannya pada sebuah bidang dan menjadikan sebuah obyek menjadi dominan.

2. Kejelasan (Clarity)
Kejelasan atau clarity mempengaruhi penafsiran penonton akan sebuah karya. Bagaimana sebuah karya itu dapat mudah dimengerti dan tidak menimbulkan ambigu/ makna ganda.

3. Kesederhanaan (Simplicity)
Kesederhanaan menuntut penciptaan karya yang tidak lebih dan tidak kurang. Kesederhanaan sering juga diartikan tepat dan tidak berlebihan. Pencapaian kesederhanaan mendorong penikmat untuk menatap lama dan tidak merasa jenuh.

4. Emphasis (Point of Interest)
Emphasis atau disebut juga pusat perhatian, adalah pengembangan dominasi yang memiliki tujuan untuk menonjolkan salah satu unsur sebagai pusat perhatian sehingga mencapai nilai artistic.

Prinsip – prinsip dasar seni rupa
1. Kesatuan (Unity)
Kesatuan adalah salah satu prinsip dasar tata rupa yang sangat penting. Tidak adanya kesatuan dalam sebuah karya rupa akan membuat karya itu terlihat cerai-berai, kacau-balau yang mengakibatkan karya itu tidak nyaman dipandang. Prinsip ini sesungguhnya adalah prinsip hubungan. Jika salah satu atau beberapa unsur rupa mempunyai hubungan (warna, raut, arah, dll), maka kesatuan telah tercapai.

2. Keseimbangan (Balance)
Karya seni dan desain wajib memiliki keseimbangan agar nyaman dilihat dan tidak membuat gelisah. Seperti halnya jika kita melihat pohon atau bangunan yang akan roboh, kita merasa tidak nyaman dan cenderung gelisah. Keseimbangan adalah keadaan yang dialami oleh suatu benda jika semua daya yang bekerja saling meniadakan. Dalam bidang seni keseimbangan ini tidak dapat diukur tapi dapat dirasakan, yaitu suatu keadaan dimana semua bagian dalam sebuah karya tidak ada yang saling membebani.

3. Proporsi (Proportion)
Proporsi termasuk prinsip dasar tata rupa untuk mendapat keserasian. Untuk mendapat keserasian dalam sebuah karya diperlukan perbandingan –perbandingan yang tepat. Pada dasarnya proporsi adalah perbandingan matematis dalam sebuah bidang. Proporsi Agung (The Golden Mean) adalah proporsi yang paling populer dan dipakai hingga saat ini dalam karya seni rupa hingga karya arsitektur. Proporsi ini menggunakan deret bilangan Fibonacci yang mempunyai perbandingan 1:1,618, sering juga dipakai 8 : 13. Konon proporsi ini adalah perbandingan yang ditemukan di benda-benda alam termasuk struktur ukuran tubuh manusia sehingga dianggap proporsi yang diturunkan oleh Tuhan sendiri. Dalam bidang desain proporsi ini dapat kita lihat dalam perbandingan ukuran kertas dan layout halaman.

4. Irama (Rhythm)
Irama adalah pengulangan gerak yang teratur dan terus menerus. Dalam bentuk –bentuk alam bisa kita ambil contoh pengulangan gerak pada ombak laut, barisan semut, gerak dedaunan, dan lain-lain. Prinsip irama sesungguhnya adalah hubungan pengulangan dari bentuk –bentuk unsur rupa.

5. Dominasi (Domination)
Dominasi adalah salah satu prinsip dasar tatarupa yang wajib ada dalam karya seni dan deisan. Dominasi berasal dari kata Dominance yang berarti keunggulan . Sifat unggul dan istimewa ini akan menjadikan suatu unsure sebagai penarik dan pusat perhatian. Dalam dunia desain, dominasi sering juga disebut Center of Interest, Focal Point dan Eye Catcher. Dominasi mempunyai bebrapa tujuan yaitu utnuk menarik perhatian, menghilangkan kebosanan dan untuk memecah keberaturan.

Warna dapat didefinisikan secara obyektif/fisik sebagai sifat cahaya yang diapancarkan, atau secara subyektif/psikologis sebagai bagian dari pengalaman indera pengelihatan. Secara obyektif atau fisik, warna dapat diberikan oleh panajang gelombang. Dilihat dari panjang gelombang, cahaya yang tampak oleh mata adalah salah satu bentuk pancaran energi yang adalah bagian yang sempit dari gelombang elektromagnetik.

Cahaya yang dapat ditangkap indera manusia mempunyai panjang gelombang 380 sampai 780 nanometer. Cahaya antara dua jarak nanometer itu dapat diurai melalui prisma kaca menjadi warna-warna pelangi yang disebut spectrum atau warna cahaya, mulai berkas cahaya warna ungu, violet, biru, hijau, kuning, jingga, hingga merah. Di luar cahaya ungu /violet terdapat gelombang-gelombang ultraviolet, sinar X, sinar gamma, dan sinar cosmic. Di luar cahaya merah terdapat gelombang / sinar inframerah, gelombang Hertz, gelombang Radio pendek, dan gelombang radio panjang, yang banyak digunakan untuk pemancaran radio dan TV. Proses terlihatnya warna adalah dikarenakan adanya cahaya yang menimpa suatu benda, dan benda itu memantulkan cahaya ke mata (retina) kita hingga terlihatlah warna. Benda berwarna merah sebab sifat pigmen benda itu memantulkan warna merah dan menyerap warna lainnya. Benda berwarna hitam sebab sifat pigmen benda itu menyerap semua warna pelangi. Sebaliknya suatu benda berwarna putih sebab sifat pigmen benda itu memantulkan semua warna pelangi.

Sebagai bagian dari elemen tata rupa, warna memegang peran sebagai sarana untuk lebih mempertegas dan memperkuat kesan atau tujuan dari sebuah karya desain. Dalam perencanaan corporate identity, warna mempunyai fungsi untuk memperkuat aspek identitas. Lebih lanjut dikatakan oleh Henry Dreyfuss , bahwa warna digunakan dalam simbol-simbol grafis untuk mempertegas maksud dari simbol-simbol itu . Sebagai contoh adalah penggunaan warna merah pada segitiga pengaman, warna-warna yang digunakan untuk traffic light merah untuk berhenti, kuning untuk bersiap-siap dan hijau untuk jalan. Dari contoh itu ternyata pengaruh warna mampu memberikan impresi yang cepat dan kuat.
Kemampuan warna menciptakan impresi, mampu menimbulkan efek-efek tertentu. Secara psikologis diuraikan oleh J. Linschoten dan Drs. Mansyur mengenai warna sbb: Warna-warna itu bukanlah suatu gejala yang hanya dapat diamati saja, warna itu mempengaruhi kelakuan, memegang peranan penting dalam penilaian estetis dan turut menentukan suka tidaknya kita akanmacam -macam benda.

Dari pemahaman diatas dapat dijelaskan bahwa warna, selain hanya dapat dilihat dengan mata ternyata mampu mempengaruhi perilaku seseorang, mempengaruhi penilaian estetis dan turut menentukan suka tidaknya seseorang pada suatu benda. Berikut kami sajikan potensi karakter warna yang mampu memberikan kesan pada seseorang sbb :

  1. Hitam, sebagai warna yang tertua (gelap) dengan sendirinya menjadi lambang untuk sifat gulita dan kegelapan (juga dalam hal emosi).
  2. Putih, sebagai warna yang paling terang, melambangkan cahaya, kesucian.
  3. Abu-abu, adalah warna yang paling netral dengan tidak adanya sifat atau kehidupan spesifik.
  4. Merah, bersifat menaklukkan, ekspansif (meluas), dominan (berkuasa), aktif dan vital (hidup).
  5. Kuning, dengan sinarnya yang bersifat kurang dalam, adalah wakil dari hal-hal atau benda yang bersifat cahaya, momentum dan mengesankan sesuatu.
  6. Biru, sebagai warna yang menimbulkan kesan dalamnya sesuatu (dediepte), sifat yang tidak terhingga dan transenden, disamping itu mempunyai sifat tantangan.
  7. Hijau, mempunyai sifat keseimbangan dan selaras, membangkitkan ketenangan dan tempat mengumpulkan daya-daya baru.

Dari sekian banyak warna, dapat dibagi dalam beberapa bagian yang sering dinamakan dengan sistem warna Prang System yang ditemukan oleh Louis Prang pada 1876 meliputi :

  1. Hue, adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan nama dari suatu warna, seperti merah, biru, hijau dsb.
  2. Value, adalah dimensi kedua atau tentang terang gelapnya warna. Contohnya adalah tingkatan warna dari putih hingga hitam.
  3. Intensity, seringkali disebut dengan chroma, adalah dimensi yang berhubungan dengan cerah atau suramnya warna.

Selain Prang System terdapat beberapa sistem warna lain yakni, CMYK atau Process Color System, Munsell Color System, Ostwald Color System, Schopenhauer/Goethe Weighted Color System, Substractive Color System serta Additive Color/RGB Color System.

Diantaramacam  sistem warna diatas, kini yang banyak dipergunakan dalam industri media visual cetak adalah CMYK atau Process Color System yang membagi warna dasarnya menjadi Cyan, Magenta, Yellow dan Black. Sedangkan RGB Color System dipergunakan dalam industri media visual elektronika.

Sumber :
http://firefrox.blogspot.com
http://sen1budaya.blogspot.com




Thursday, August 27, 2015

Artikel ini membahas tentang Prosedur Pertunjukan Musik. Semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Prosedur Pertunjukan Musik

Setelah teknik pertunjukan musik, aspek lain yang perlu kamu pahami adalah prosedur pertunjukan musik. Prosedur dapat dipandang sebagai cara-cara tertentu untuk menyempurnakan suatu tindakan. Dalam hal ini, tindakan yang dimaksud adalah pertunjukan. Oleh karena itu prosedur pertunjukan dapat diartikan sebagai cara-cara tertentu untuk menyempurnakan pertunjukan. Hal-hal apa saja yang dapat menyempurnakan suatu pertunjukan?

Untuk membuat suatu pertunjukan musik  yang baik maka kamu harus menentukan bentuk kolaborasi seni dengan tema yang jelas. Kira-kira 3 – 6 bulan sebelum pertunjukan. Setelah tema yang jelas telah disepakati maka tindakan selanjutnya adalah menyeleksi permainan musik atau lagu-lagu dan instrumen yang akan digunakan dalam pertunjukan. Kemukakan rencana kamu kepada guru yang akan meneruskan rencana tersebut ke Kepala Sekolah. Kalau memungkinkan, guru bisa meminta pihak sekolah untuk menyediakan pelatih, baik untuk pemain musik, penari, maupun pemeran lakon.

Prosedur Pertunjukan MusikTahap selanjutnya adalah membuat jadwal latihan. Hal pertama yang dilakukan dalam jadwal latihan adalah melatih permainan musik dengan menggunakan instrumen-instrumen yang sudah ditentukan, latihan gerakan dengan musik, dan latihan memerankan lakon yang sesuai dengan peran yang akan dimainkan. Setelah permainan musik, gerakan, dan memerankan lakon sudah dianggap cukup baik maka jadwal selanjutnya adalah menggabungkan seluruh unsur itu dalam suatu kesatuan atau kolaborasi seni. Tahap selanjutnya adalah merancang kostum dan properti yang akan digunakan oleh seluruh kelompok pemain. Kostum tersebut sebaiknya disesuaikan dengan tema pertunjukan.

Kira-kira dua bulan sebelum pelaksanaan pertunjukan, kamu sebaiknya mulai membuat keputusan tentang latar dan properti panggung yang sesuai dengan tema yang telah ditentukan. Setelah disepakati, mulailah membuat latar dan properti panggung. Apabila latar dan properti panggung telah selesai dibuat, kamu perlu membiasakan diri dengan kedua elemen tersebut menjelang pelaksanaan pertunjukan.

Apakah kamu berharap agar pertunjukan musik yang kamu rencanakan akan dilihat orang? Apa yang perlu kita lakukan untuk menginformasikan pertunjukan musik tersebut? Ya! Penyebaran informasi tentang pertunjukan kepada masyarakat. Agar pertunjukan musik yang akan kamu rencanakan diketahui oleh orang-orang lain atau masyarakat maka tindakan selanjutnya adalah mempersiapkan pemberitaan atau publikasi.Bagaimana publisitas pertunjukan musik dapat kamu lakukan?

Coba kalian sebutkan tiga cara untuk menginformasikan pertunjukan musik yang akan kalian lakukan ke masyarakat. Uraikan secara singkat mengapa cara-cara itu yang kalian pilih.

Selain itu, kamu sebaiknya juga mempersiapkan rancangan buku program pertunjukan atau buku acara. Bagaimana bentuk buku program pertunjukan? Apa kegunaan buku program pertunjukan tersebut? apa saja yang perlu dicantumkan dalam buku program pertunjukan tersebut?.

Coba kalian lihat beberapa buku program pertunjukan, kemudian ilustrasikan buku program pertunjukan musik yang akan kalian lakukan.

Ilustrasikan buku program pertunjukan musik yang akan kalian lakukan: Mendekati hari pelaksanaan pertunjukan, perbanyaklah buku program tersebut sesuai dengan perkiraan kamu terhadap jumlah penonton yang akan hadir.

Apabila sekolah mengizinkan, kamu dapat merencanakan pembuatan tiket pertunjukan. Harga tiket sebaiknya terjangkau oleh para siswa karena tujuan dari penjualan tiket dalam pertunjukan musik bagi siswa di sekolah bukan untuk kepentingan bisnis. Tiket dapat diperbanyak bersamaan dengan memperbanyak buku program.

Mengapa harga penjualan tiket pertunjukan musik siswa di sekolah harus sesuai dengan kemampuan siswa untuk membeli tiket tersebut? apa tujuannya?

Hal penting lainnya yang perlu dipersiapkan adalah pembentukan tim panitia pertunjukan. Berdasarkan beberapa gambar pertunjukan musik yang telah dicantumkan dalam bab ini, apakah yang dimaksud dengan panitia pertunjukan? apa peran mereka dalam pertunjukan musik? dan, mengapa suatu pertunjukan musik memerlukan tim panitia?

Coba kalian lihat beberapa gambar pertunjukan musik di internet. Berdasarkan gambar-gambar itu, buatlah penggolongan panitia, peran masing-masing golongan dalam pertunjukan musik, dan jelaskan manfaat keberadaan mereka dalam pertunjukan musik.

Untuk memperlancar proses pertunjukan, kamu juga perlu mempertimbangkan tersedianya ruang untuk para pemain melakukan pemanasan atau berkumpul dan ruang untuk mengganti kostum.

Prosedur terakhir yang harus dilakukan adalah memeriksa seluruh peralatan yang akan digunakan, seperti peralatan (termasuk instrumen), sound system, properti, tirai panggung, menyetem instrumen, dan memeriksa keamanan lantai panggung. Selain itu, menjelang dimulainya pertunjukan musik, kamu harus melakukan sedikit pemanasan agar tubuh kamu menjadi lebih rileks, baik dalam permainan musik maupun menari.




Artikel ini membahas tentang Analisis Peran dalam Kreativitas Pemeranan Teater. Semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Analisis Peran dalam Kreativitas Pemeranan Teater


Kreativitas pemeranan adalah suatu metode atau cara untuk mengoptimalkan kemampuan pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam pembelajaran pemeran pada penguasaan dan pengolahan; tubuh, suara, sukma dan pikir yang dimiliki murid dengan totalitas, penuh kesadaran, dan tanggungjawab atas peran yang diembannya. Sehingga diperoleh manfaat ganda, berupa: kebugaran, kecerdasan dan terjadi peningkatan kualitas dalam seni peran dari suatu watak tokoh yang diperankan.

Pembelajaran seni teater melalui kreativitas pemeraan dapat kalian lakukan dengan menggunakan keberanian trial and error dan bebas terbimbing melalui langkah-langkah pembelajaran seperti berikut ini:

Analisis Peran

Analisis artinya mengurai, memecahkan atau membedah sesuatu hal berdasar kaidah ilmiah dengan memfungsinya daya pikir kamu. Analisis peran dalam seni teater adalah kemampuan kalian untuk mengurai dan menghubungkan tokoh yang ada didalam naskah yang kalian baca, yang akan teman kalian perankan dengan tokoh yang kalian akan bawakan dalam bentuk seni peran. Kegiatan analisis peran atau penokohan dari sumber naskah yang kalian baca dituangkan dalam bentuk draf atau format analisis peran.
Analisis Peran dalam Kreativitas Pemeranan Teater

Keuntungan seorang pemeran dengan membuat analisis tokoh adalah untuk memudahkan koordinasi kerja dalam melaksanakan latihan pemeranan secara bersama dan bekerjasama dalam hal membangun kesamaan visi dan misi pemeranan yang akan ditampilkan oleh pemeran tokoh lain dalam kelompok kamu. Adapun tujuan akhirnya dengan melaksanakan analisis peran adalah terciptanya; keutuhan, keterpaduan dan keharmonisan pemeranan sesuai dengan watak tokoh dari naskah yang kalian dan kelompok kalian akan tampilkan. Langkah selanjutnya dalam kreativitas pemeranan adalah melaksanakan latihan bersifat individu dan kelompok, hingga melaksanakan presentasi pemeranan lisan dan tulisan secara kelompok.

  1. Sebelum berlatih pemeranan dibiasakan melaksanakan olah tubuh atau minimal pemanasan, peregangan dan melatih kepekaan terhadap: tubuh, wajah, mulut, vocal, dan sukma yang kalian akan gunakan dalam mengeklorasi watak tokoh dalam pemeranan.
  2. Bacalah naskah dibawah ini sampai akhir atau tuntas secara sendiri atau kelompok (langkah reading) !
  3. Lakukan pemilihan dan penentuan peran atau tokoh (casting) yang cocok dengan keinginanmu atau berdasar pembagian kelompok yang dibentuk!
  4. Lakukan analisis tokoh dan perwatakannya sesuai dengan peran yang akan kalian bawakan berdasar petunjuk naskah (pengarang) atau tanda-tanda yang diungkapkan dari kata-kata melalui dialog tokoh didalam naskah!
  5. Lakukan observasi tokoh dan perwatakan sesuai dengan peran yang akan kalian dan teman kalian bawakan berdasar pengamatan kalian terhadap orang-orang di lingkungan sekitar dengan keunikan, kekhasan dan mempunyai daya pesona atau greget.
  6. Hapalkan dialog (percakapan antar tokoh) dan ekplorasi (menggali) gerak tubuh, suara, dan penghayatan peran berdasar tokoh yang kalian akan bawakan berdasar naskah!
  7. Setelah hapal naskah dan mengetahui tanda akhir dialog lawan main pemeranan (kyu), lakukan olah atau eksplorasi ruang berupa: blocking, moving, business, leveling, waktu dan suasana dalam membangun irama permainan kelompok.
  8. Setelah lepas naskah, ekplorasi melalui teknik pemeranan dan eksplorasi pada unsur penunjang pemeranan (rias, busana dan properti). Selanjutnya kegiatan kalian adalah menyeleksi, dan menyusun ekspreasi pemeranan sesuai watak tokoh yang dibawakan dalam latihan kelompok!
  9. Menyongsong minggu terakhir penampilan, kalian dan kelompok kalian harus melaksanakan kegiatan membentuk: gladi kotor dan gladi bersih di tempat, di kelas, atau di panggung yang akan kalian gunakan untuk menampilkan kreativitas pemeranan dalam seni teater secara kelompok.
  10. Akhirnya kelompok kalian mempresentasikan atau konsep dan memaknai pembelajaran pemeranan sebagai hasil analisis watak tokoh dalam bentuk tulisan dan bermain seni peran dengan watak tokoh yang kalian bawakan secara individu dan kelompok sebagai hasil dalam berkreativitas seni peran.


Pada prinsipnya bahwa kreativitas dalam pemeranan adalah berupa prosedur atau tahapan dalam proses implementasi pemeranan sesuai watak tokoh dengan naskah yang kalian baca! Untuk mendapat hasil pemeranan yang maksimal kalian harus melaksanakan tahapan seperti berikut ini:

  1. Memilih dan menentukan naskah,
  2. Membaca naskah (Reading),
  3. Pembagian peran/tokoh (Casting),
  4. Menganalisis peran/tokoh,
  5. Menghapal naskah,
  6. Mengamati watak tokoh dari orang-orang disekitarmu,
  7. Mengeksplorasi pemeranan dengan dialog dan teknik pemeranan melalui latihan individu dan kelompok,
  8. Menyeleksi watak tokoh pemeranan,
  9. Menyusun watak tokoh pemeranan,
  10. Menggabungkan watak tokoh dengan aspek pemeranan dalam latihan kelompok,
  11. Membentuk pemeranan (gladi kotor dan gladi bersih) sebagai hasil latihan kelompok, dengan lisan (praktik
  12. Menampilkan pemeranan kelompok pemeranan) dan tulisan konsep pemeranan), dan
  13. Memaknai Pembelajaran Pemeranan.
Setelah kalian belajar mengenai lingkup dan berkreativitas pemeranan melalui aktifitas; analisis watak tokoh, proses latihan dan menampilkan karya pemeranan kalian dan kelompok kalian bersumber naskah yang ditentukan dan dipilih bersama.




Artikel ini membahas tentang Teknik Dasar Pemeranan dalam Teater. Semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Teknik Dasar Pemeranan dalam Teater


Belajar pemeranan, seni peran, akting tidak dapat lepas dari beberapa unsur atau unsur atau elemen di dalamnya. Unsur-unsur dalam pemeranan dapat kalian ketahui melalui pembelajaran teori dan praktik dengan materi berupa teknik pemeranan: Olah Tubuh, Olah Suara, Olah Sukma dan mengenai Ruang dengan beberapa unsur pendalam dengan bimbingan guru.

Teknik adalah cara, metode dan strategi dalam melaksanakan atau menyelesaikan sesuatu kegiatan dengan baik dan benar atau aman. Teknik pemeranan dapat kalian pahami sebagai suatu cara, metode atau cara untuk mengoptimalkan keterampilan potensi pikir, perasaan, vokal dan tubuhnya dalam membawakan peran atau tokoh dengan totalitas dan penuh kesadaran, sehingga diperoleh manfaat dalam meningkatkan akting atau seni peran dari suatu tokoh atau peran yang diekspresikan.

Pembelajaran teknik pemeraan dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan yang dilakukan Boleslavsky melalui aplikasinya dilakukan melalui tahapan-tahapan teknik pemeranan seperti berikut ini:

Hal ini dilakukan agar kalian memiliki ketahanan tubuh, suara yang memadai dan kepekaan rasa dalam mencapai tujuan pembelajaran berpengalaman seni peran atau akting.

1.Olah Tubuh

Olah tubuh adalah pembelajaran praktik melalui pengolahan atau pelatihan agar tubuh kalian memiliki; stamina yang kuat, kelenturan tubuh dan daya refleks tubuh. Dalam hal ini jelas, kalian harus memakai pakaian latihan (olah raga).
Teknik Dasar Pemeranan

a. Stamina / Kekuatan Tubuh
kekuatan tubuh adalah pelatihan pada tubuh agar kalian memiliki ketahanan fisik dan pernapasan yang sehat.

Latihannya, kalian dengan bimbingan guru berlari beberapa keliling sesuai dengan luas lapangan atau sesuai dengan luas ruangan (kalau di dalam gedung). Latihan pernapasan, dengan menarik dan membuang udara pernapasan melalui hidung dengan dada, diagfrahma dan perut kembung kempis. Setelah kalian melakukan pengolahan daya tubuh dilanjutkan dengan aktifitas peregangan bagian otot tubuh.

b. Streching/Peregangan
Peregangan adalah pengolahan atau latihan pada bagian otot-otot tubuh agar lentur dan mempunyai daya gerak refleks.

Latihannya, kalian dengan bimbingan guru, mulai dari; mata, mulut, muka, leher, bahu, dada, pinggul, pantat, lengan, pergelangan tangan, jari tangan, paha, kaki, dengkul kaki, betis, engkel kaki, tumit, dengan cara digerakan-gerakan atas-bawah, kanan-kiri, putaran, ke luar-ke dalam atau dengan cara penguncian dengan 2 X 8 hitungan. Setelah melaksanakan peregangan latihan dilanjutkan dengan menjaga keseimbangan tubuh.

c. Keseimbangan tubuh
Pelatihan keseimbangan tubuh membekali kalian agar dilatih kemampuan otak dalam menguasai tubuhnya. Tumpuan keseimbangan ini penekanan pada kekuatan kaki.

Latihannya, kalian bersama guru melaksanakan gerakan berdiri dengan dua kaki, satu kaki, dengan posisi tangan bisa di pinggang atau lepas seperti terbang. Cara latihannya dengan diam beberapa hitungan, berdiri atas bawah atau dengan penguncian atau dengan staccato (patah-patah). Setelah melaksanakan latihan keseimbangan tubuh dilanjutkan pada olah suara.

2.Olah Suara

Olah suara adalah praktik pengolahan atau pelatihan elemen-elemen yang berhubungan dengan suara melalui teknik pernapasan dan pengucapan agar kalian memiliki; artikulasi yang jelas, intonasi suara, dinamika suara dan kekuatan suara.

a. Artikulasi
Artikulasi dapat diartikan kejelasan dalam pengucapan kata-kata agar apa yang dikatakan menjadi jelas dengan apa yang diterima pendengarnya. Latihannya, kalian dengan bimbingan guru melaksanakan pengucapan kata-kata bersuara atau tidak bersuara dengan tempo yang berbeda-beda untuk membantu pengolahan suara melalui mulut dan bibir secara diulang dengan pernapasan yang teratur. Berikutnya latihan kalian terfokus pada materi intonasi.

b. Intonasi
Intonasi suara adalah irama suara dengan penekanan mengucapkan kata- kata sehingga dihasilkan pengucapannya yang tidak monoton atau kesan datar.

Latihannya, kalian dengan bimbingan guru dengan mengucapkan sebuah kalimat atau dialog yang pendek dengan cara diulang dan melaksanakan tekanan pada salah satu kata yang dianggap penting.

Contohnya :
Pagi ini hujan tidak turun. (penekanan pada kata pagi ini)
Pagi ini hujan tidak turun. (penekanan pada kata hujan)
Pagi ini hujan tidak turun. (penekanan pada kata tidak turun).

Setelah kalian berlatih intonasi dilanjutkan pada materi dinamika.

c. Dinamika
Dinamika suara adalah tempo pengucapan suara; cepat-lambat-sedang (wajar) dari sebuah kalimat.

Latihannya, kalian dengan bimbingan guru dengan mengucapakan sebuah kalimat atau dialog yang pendek dengan cara diulang dan melaksanakan perubahan tempo pengucapan pada salah satu kata yang dianggap penting.

Contohnya:
Pagi ini hujan tidak turun. (ucapkan dengan cepat)
Pagi ini hujan tidak turun. (ucapkan dengan lambat)
Pagi ini hujan tidak turun. (ucapkan dengan sedang).

Latihan tempo pengucapan telah kalian lakukan, selanjutnya latihlah kekuatan suara kamu.

d. Power / Kekuatan
Kekuatan suara adalah keras lemahnya suara yang dihasilkan dari pengucapan suatu kata atau kalimat.

Latihannya, kalian dengan bimbingan guru dengan pengucapan sebuah kalimat atau dialog yang pendek dengan cara diulang dan melaksanakan pengucapan terdengar tidaknya apa yang kalian katakan, tetapi tidak berteriak.

Contohnya:
Pagi ini hujan tidak turun. (ucapkan dengan suara keras)
Pagi ini hujan tidak turun. (ucapkan dengan suara lemah)

Olah rasa adalah suatu proses latihan yang menempatkan perasaan sebagai objek utama dari pengolahan / latihan. Latihan dilakukan untuk menggali “Potensi Dalam” agar dapat diatur dan dikendalikan sesuai dengan kebutuhan emosi peran.

3.Olah Rasa / Sukma

Fungsi latihan Olah Rasa disisi lain akan mampu membangun kejujuran rohani dan pembebasan rohani dari hal-hal yang mengikat dan membatasi.
Selanjutnya pembebesan itu diharapkan membantu sikap perasaan untuk melahirkan ide-ide/ilham dan kreativitas pemeranan.

Adapun materi latihan yang kalian harus lakukan antara lain:

a. Teknik Konsentrasi
Konsentrasi adalah “Gerbang“ yang sangat menentukan kelangsungan mengatur dan mengendalikan fenomena psikologis seorang aktor dalam menguasai peran. Pada bagian ini (konsentrasi) seorang aktor akan berupaya meng-Alienansi (mengasingkan) dirinya dari kehidupan nyata yang dijalaninya sehari-hari untuk selanjutnya ia akan menimbulkan segala cipta, rasa dan karsanya pada satu pusat perhatian.

Pada dasarnya ajaran konsentrasi adalah ajaran mengenai penguasaan/ pengendalian diri atau pemusatan pikiran serta rohani kita pada apa yang akan dan sedang kita lakukan dalam waktu yang kita perlukan. Unsur -unsur penting fenomena psikologis dalam sentuhan konsentrasi antara lain: Pembebesan dari pengendalian diri, kejujuran dan kepasrahan hati, kepekaan rasa, kesiapan dan kekuatan mental, pemusatan pikiran dan perhatian.

Latihan dapat kalian lakukan dengan cara:

  • Latihan mengosongkan pikiran,
  • Pemusatan pikiran pada suatu objek, misalnya; lilin yang menyala, bunga, kursi, warna, bunyi, suara, kucing, dan harimau.
  • Pemusatan pikiran pada peristiwa tertentu secara khayal.

b. Pengindraan
Kemampuan peralatan tubuh dalam merespon atau bereaksi pada berbagai hal terutama yang berhubungan dengan sifat-sifat, yaitu :

  • Mata, berfungsi untuk menangkap dan bereaksi pada objek-objek penglihatan (visual).
  • Hidung, berfungsi untuk menangkap dan bereaksi pada objek-objek aroma (penciuman).
  • Telinga, berfungsi untuk menangkap dan bereaksi pada objek-objek suara / bunyi (pendengaran).
  • Lidah, berfunsi untuk menangkap dan bereaksi pada rasa (Taste): manis, asin, pahit, masam dst. (pengecapan).
  • Tubuh, berfungsi untuk menangkap dan bereaksi pada sentuhan/ rabaan.

Seluruh kemampuan Panca Indra dalam hubungan olah rasa senantiasa ditujukan untuk membangun kepekaan rasa yang nantinya hadir sebagai rangsangan emosi dalam teknik pemeranan.

c. Kepekaan Sukma / Rasa

Tahapan pembelajaran/ latihan bagian ini adalah tujuan utama dari latihan Olah Rasa, dimana sejak diawali tahapan : Konsentrasi, Meditasi dan Pengindraan maka diharapkan kalian memiliki suatu kepekaan Sukma / Rasa atau penghayatan batin yang mampu menghadirkan keterampilan mengatur/ mengendalikan permainan emosi kapan saja bila diperlukan. Rasa/sukma adalah kekuatan dalam dari pada aktor yang lalu ditampilkan kepada penonton melalui media-media : Mime / Mimik (Air Muka), gesture (Gerak-gerik Tubuh), Emosi Suara (Dialog), Laku Dramatik dan Karakter atau perwatakan.

Media-media di atas secara langsung atau tidak langsung absolut dapat dihadirkan sebab ada dorongan perasaan yang melatarbelakanginya. Dorongan perasaan itu diantaranya melalui latihan kepekaan emosi: Rasa sedih, Rasa takut, Rasa marah, Rasa gembira, Rasa benci.

d. Imajinasi

Imajinasi adalah kemampuan dalam menciptakan daya khayal sebagai hasil kepekaan ingatan emosi dari kehidupan sehari-hari, perumpamaan (metaforik) pada binatang, tumbuhan, unsur alam atau hasil sebuah perenungan mendalam yang mampu menghadirkan khayalan positif.

Latihan dapat kalian lakukan dengan bimbingan guru.

  • Berimajinasi melaksanakan kegiatan keseharian, seperti : orang berjumpa (jabat tangan–memeluk), orang berpisah jauh (melambaikan tangan), dan orang berpapasan (senyum – membungkuknya badan).
  • Berimajinasi dengan berbuat seolah-olah menirukan gerakan atau jalan manusia, binatang: orang lumpuh, orang pincang, orang tua, anak muda, bayi, harimau, kucing, kanguru, bangau, dan kera.
  • Berimajinasi dengan andai aku menjadi (metaforik): angin, air, suara, benda tertentu, matahari, bulan, bintang, pohon, dan burung.


4.Ruang

Teknik Dasar Pemeranan
Pengertian ruang dalam seni teater adalah tempat bermain peran (acting) dengan lingkup peralatan dan perlengkapan dekorasi yang dihadirkan di atas pentas. Tempat bermain peran dapat dilakukan di lapang, di dalam kelas atau khusus diciptakan di atas panggung pertunjukan. Ruangan ini oleh pemeran wajib diisi dan dihidupkan menjadi satu kesatuan yang utuh, sehingga mendukung peran yang dibawakan. Teknik di dalam mengisi dan menghidupkan ruang untuk seorang pemeran adalah kemampuan merespons kepekaan; blocking, moving, businees, dan leveling pada ruang dan lawan main.

a. Blocking
Blocking berhubungan dengan latihan-latihan untuk mendukung elemen artistik, dimana para pemeran wajib memiliki kepekaan ruang. Artinya para calon aktor wajib dilatih bagaimana memosisikan dirinya pada wilayah pentas, terutama apabila pentas di isi lebih dari 1 (satu) orang pemeran.

Untuk pembagian wilayah pentas atau tempat yang perlu diketahui oleh kamu, pada dasarnya dapat dibagi dalam tiga wilayah, sembilan wilayah dan atau 16 wilayah, dengan kalkulasi semakin ke belakang panggung atau pentas wajib dilakukan dengan peninggian panggung atau dilakukan leveling.

b.Movement
Kanan Depan Pentas Depan Tengah Pentas Kiri Depan Pentas Kiri Tengah Pentas Pusat Pentas Kanan Tengah Pentas Kanan Belakang Pentas Belakang Tengah Pentas Kiri Belakang Pentas

Movement artinya bergerak atau berpindah tempat. Kata “Moving” dikenal juga dengan movement yaitu pergerakan atau pindah tempat yang dilakukan pemain di atas pentas.

Pergerakan atau perpindahan tempat untuk seorang pemeran/pemain dapat dilakukan ke depan, ke samping, ke belakang, mendekat atau menjauh asalkan perpindahan yang dilakukan pemain tidak menutup atau menghalangi pemain lain.

Movement dapat kalian lakukan dengan cara :

  1. Lintasan ke depan pemain, dengan garis lintasan; lurus horizontal, lurus vertikal, lurus diagonal, melingkar, zigzag atau gabungan.
  2. Lintasan ke belakang pemain, dengan garis lintasan; lurus horizontal, lurus vertikal, lurus diagonal, melingkar, zigzag atau gabungan.
  3. Lintasan ke samping pemain, dengan garis lintasan; lurus horizontal, lurus vertikal, lurus diagonal, melingkar, zigzag atau gabungan.
  4. Lintasan mendekat–menjauh dari pemain, dengan garis lintasan; lurus horizontal, lurus vertikal, lurus diagonal, melingkar, zigzag atau gabungan.
  5. Lintasan menjauh – mendekat kepada pemain, dengan garis lintasan; lurus horizontal, lurus vertikal, lurus diagonal, melingkar, zigzag atau gabungan.

c. Businees
Businees atau bisnis adalah usaha yang dilakukan pemeran dalam membunuh dari rasa membosankan atau kejenuhan atau kebingungan atau kekakuan dalam berbuat sesuatu dalam mengisi luang atau kekosongan waktu yang ada. Dengan kata lain bahwa Businees adalah suatu tindakan atau upaya menanggapi pada peran yang dibawakan dengan pertolongan handprop atau peralatan tangan (benda yang digunakan), seperti; mengambil pisang - dialog - dikupas - dialog - dimakan - buang kulit pisang - dialog dan seterusnya. Contoh-contoh Businees dalam bermain peran sangat tergantung pada peran yang dibawakan dengan daya dukung handprop apa yang memungkinkan, seperti; memainkan topi, memainkan tongkat, memainkan dasi, memainkan perangkat musik, memakai dan membuka sepatu, baju, kaos kaki, dst.

d. Leveling
Istilah leveling atau dari asal kata yakni tingkatan atau undak-undak. Maka dalam konteks seni peran (Teater) pengaturan tinggi rendah pemain dalam ruang pentas. Pengaturan tinggi rendah pemain baik personal atau grouping selalu dilakukan bahwa pemain yang berada di belakang pemain lain hendaknya mempunyai kesadaran wajib lebih tinggi dan pemain yang berada Gambar 7.22 Leveling di depannya memberikan level lebih rendah Dalam Adegan Pemeranan agar keduanya tampak menguntungkan terlihat oleh penonton.

Sesungguhnya untuk pertunjukan apapun termasuk seni teater, audience (penonton) akan memperoleh kesan mendalam apabila menonton sebuah pertunjukan baik, manakala pertunjukan itu dimainkan oleh para pemain yang berkarakter. Pelaksanaan latihan teknik laku dramatik atau karakter pada bagian akhir digunakan naskah atau skenario, dan tema lakon atau tema cerita yang dibawakan sebagai sumber acuan.

Kamu telah memahami dan berpraktik seni peran melalui materi teknik pemeranan sebagai pengalaman kalian dalam mengolah dan meningkatkan kualitas potensi unsur–unsur pemeranan kamu.

Selanjutnya, kalian melalui latihan kelompok, terstruktur dan terbimbing dengan guru dan teman kamu, diajak untuk berkreativitas seni peran sesuai dengan watak tokoh yang akan kalian tampilkan dari naskah atau lakon yang telah dibaca dan ditentukan bersama!

Setelah kalian belajar mengenai teknik pemeranan, jawablah beberapa pertanyaan di bawah ini!
1. Apa saja yang kalian ketahui mengenai teknik pemeranan?
2. Jelaskan hubungan teknik pemeranan dengan watak tokoh dalam pemeranan !




Wednesday, August 26, 2015

Artikel ini membahas tentang Unsur-unsur Pemeranan dalam Seni Teater. Semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Unsur-unsur Pemeranan dalam Seni Teater


Apa yang wajib kamu lakukan agar pemeranan kamu, dapat mempesona ? Modal dasar seorang pemeran tidak sebatas penguasaan tubuh, ekspresi mimik, penghayatan, suara dan kemampuan pikir yang wajib dimiliki, tetapi dalam pembelajaran seni peran perlu ditunjang dengan pengetahuan dan pemahaman pada unsur -unsur lain sebagai penunjang pemeranan didalamnya, yaitu cerita atau naskah, rias, busana, asesori (kostum), peralatan, irama permainan atau kepekaan musikalitas dan kepekaan ruang (tempat bermain peran).

Pentingnya unsur-unsur pemeranan dimaksud adalah untuk memberikan kesempurnaan dan totalitas ekspresi watak tokoh dan pesan moral yang diungkapkan seorang pemeran dalam suatu hubungan. Hubungan pemeranan yang dimaksud bahwa seorang pemeran tidak diam saja, duduk tertidur, berdiri kaku, melangkah seenaknya dan berbuat sekehendak hati tanpa dorongan dan motivasi yang jelas dalam menciptakan irama permainan secara bersama dan bekerjasama dengan kedatangan tokoh dan atau unsur artistik lainnya. Perlu kalian ingat kembali, inti dari seni teater adanya tokoh, pemeran, pelaku dengan media utamanya manusia. Inti dari cerita yang disampaikan tokoh adalah konflik atau pertentangan yang dijalankan oleh susunan cerita dalam hubungan sebab dan akibat (plot cerita) dengan mengusung tema cerita, yaitu pertentangan; tokoh utama dengan tokoh yang lainnya (heroic), tokoh utama dengan dirinya sendiri (psikologi), pertentangan dengan lingkungannya (social) dan pertentangan dengan keyakinannnya (religi). Tema-tema cerita itu menjadi unsur penting dalam penulisan naskah lakon atau drama atau seni teater. Terutama pada bentuk pertunjukan teater non tradisional.
Unsur Pemeranan dalam Seni Teater

Kata lakon sama halnya dengan istilah ‘ngalalakon-boga lalakon’ (dalam, Bahasa Sunda), atau ‘ngelelakon’ (dalam, Bahasa Jawa) artinya melakukan, melakoni cerita yang dilakukan seorang tokoh, biasanya tokoh atau pemeran utama dengan kata-kata (verbal) atau tanpa berkata-kata (non verbal) dalam suatu peran yang dibawakan.

1.Lakon

Kedudukan lakon, cerita atau naskah adalah unsur penting dalam seni teater sebagai nyawa, nafas atau ruh dalam menjalin hubungan cerita (struktur cerita) melalui tokoh atau peran yang dibawakan seorang pemeran. Lakon, cerita atau naskah adalah hasil karya pemeran, seniman dan atau sastrawan yang diwujudkan atau diangkat ke atas pentas seni teater, baik pertunjukan langsung atau tidak langsung (seni rekam), yakni; Sinematografi, TV Play, Sandiwara Radio dan Film. Karena tidak semua kreator teater (drama) mampu menulis naskah atau lakon atau skenografi sendiri, oleh sebab itu, naskah atau lakon yang ditulis orang lain (pengarang) di mata seniman teater adalah bahan baku atau sumber ide, gagasan dan pesan moral yang mengilhami untuk berkreativitas melalui karya teater.

Penulisan naskah atau lakon teater, baik pertunjukan teater panggung, sinetron, film dan radio mempunyai kekhasan tersendiri. Pemilihan tema dan panjang pendeknya cerita sangat tergantung pada babak, serial, episodic naskah dari ketertarikan setiap orang termasuk kalian (bersifat personal) dalam memahami: isi cerita, struktur cerita dan unsur-unsur cerita untuk dijadikan subjek karya teater. Dasar pemilihan naskah atau cerita yang akan diangkat ke atas pentas pertunjukan teater wajib bersikap hati-hati sesuai dengan tingkat perkembangan kejiwaan kamu. Naskah yang ada yang kalian baca secara tematik belum tentu sesuai dengan tingkat perkembangan kalian dan penonton yang akan diundang. Oleh sebab itu wajib bersikap selektif dan perlu kalian pertimbangkan baik buruknya, mudah sukarnya dalam pewujudannya.

Sumber-sumber cerita atau naskah atau lakon dapat kalian peroleh melalui: cerita-cerita fiksi, cerita sejarah, cerita–cerita daerah Nusantara atau cerita Jawa Barat lebih khususnya. dll. Sumber cerita Teater remaja dengan sarat nilai pendidikan terdapat pada dongeng binatang, fable (Si Kancil, Sang Harimau, dll.), kisah 1001 malam (Lampu Aladin, Ratu Balqis, Sang Penyamun, dll.), legenda (Sangkuriang, Sangmanarah, Lutungkasarung dll.), sejarah (Pangeran Borosngora, Pangeran Gesan Ulun, Pangeran Kornel, Wali Songo, dst.).

2.Unsur Penokohan dan Perwatakan

Penokohan atau kedudukan Tokoh yang disajikan oleh seorang dan atau beberapa pemeran adalah unsur penting dalam pemeranan berasal dari lakon, cerita, naskah yang ditulis atau tidak ditulis oleh seorang pengarang.

Penokohan didalam seni teater dapat dibagi dalam beberapa kedudukan tokoh atau peran, antara lain: Protagonis, Antagoni, Deutragonis, Foil, Tetragoni, Confident, Raisonneur dan Utility.

  1. Protagonis adalah tokoh utama, pelaku utama atau pemeran utama (boga lalakon) disebut sebagai tokoh putih. Kedudukan tokoh utama adalah memainkan cerita hingga cerita mempunyai peristiwa dramatis (konflik pertentangan)
  2. Antagonis adalah lawan tokoh utama, penghambat pelaku utama disebut sebagai tokoh hitam. Kedudukan tokoh berlawanan adalah yang mengahalangi, menghambat itikad atau maksud tokoh utama dalam menjalankan tugasnya atau mencapai tujuannya. Tokoh Antagonis dan Protagonis biasanya mempunyai kekuatan yang sama, artinya sebanding menurut kacamata kelogisan cerita di dalam membangun keutuhan cerita.
  3. Deutragonis adalah tokoh yang berpihak kepada tokoh utama. Biasanya tokoh ini membantu tokoh utama dalam menjalankan itikadnya. Kadangkala, tokoh ini menjadi tempat pengaduan atau memberikan nasihat kepada tokoh utama.
  4. Foil adalah tokoh yang berpihak kepada lawan tokoh utama. Biasanya tokoh ini membantu tokoh Antagonis dalam menghambat itikad tokoh utama. Kadangkala, tokoh ini menjadi tempat pengaduan atau memberikan nasihat memperburuk kondisi kepada tokoh Antagonis.
  5. Tetragonis adalah tokoh yang tidak memihak kepada kepada salah satu tokoh lain, lebih bersifat netral. Tokoh ini memberi masukan-masukan positif kedua belah pihak untuk mencari jalan yang terbaik.
  6. Confident adalah tokoh yang menjadi tempat pengutaraan tokoh utama. Pendapat-pendapat tokoh utama itu pada biasanya tidak boleh diketahui oleh tokoh-tokoh lain selain tokoh itu dan penonton.
  7. Raisonneur, adalah tokoh yang menjadi corong bicara pengarang kepada penonton.
  8. Utilitty, adalah tokoh pembantu baik dari kelompok hitam atau putih. Tokoh ini dalam dunia pewayangan disebut goro-goro (punakawan). Kedudukan tokoh Utilitty, kadangkala ditempatkan sebagai penghibur, penggembira atau hanya sebatas pelengkap saja, Artinya, kedatangan tokoh ini tidak terlalu penting. Ada atau tidaknya tokoh ini, tak akan mempengaruhi keutuhan lakon secara tematik. Kalau pun dihadirkan, lakon akan menjadi panjang atau menambah kejelasan adegan peristiwa yang dibangun.


Perwatakan atau watak tokoh atau karakteristik yang dimiliki tokoh atau pemeran di dalam lakon, dihadirkan pengarang adalah ciri-ciri, tanda-tanda, identitas secara khusus bersifat pencitraan sebagai simbol yang dihadirkan tokoh, berupa; status sosial, fisik, psikis, intelektual dan religi. Status sosial sebagai ciri dari perwatakan adalah menerangkan kedudukan atau jabatan yang diemban tokoh dalam hidup bermasyarakat pada lingkup lakon, antara lain; orang kaya, orang miskin, rakyat biasa atau jelata, penggangguran, gelandangan, tukang becak, kusir, guru, mantri, kepala desa, camat, bupati, gubernur, direktur atau presiden.

Status sosial sebagai ciri dari perwatakan adalah menerangkan kedudukan atau jabatan yang diemban tokoh dalam hidup bermasyarakat pada lingkup lakon, antara lain; orang kaya, orang miskin, rakyat biasa atau jelata, pelajar, mahasiswa, penggangguran, gelandangan, tukang becak, kusir, guru, ulama, Ustad, Ustadzah, mantri, kepala desa, camat, bupati, gubernur, direktur atau presiden.

Fisik sebagai ciri dari perwatakan, menerangkan ciri-ciri khusus mengenai jenis kelamin (laki perempuan atau waria), kelengkapan pancaindra atau keadaan kondisi tubuh (cantik-jelek, tinggi-pendek, kurus-buncit, kekar-lembek, rambut hitam atau putih, buta, pincang, lengan patah, berpenyakit atau sehat. Psikis sebagai ciri dari perwatakan menerangkan ciri-ciri khusus tentang hal kejiwaan yang dialami tokoh, seperti; sakit ingatan atau normal, depresi, traumatic, penyimpangan seksual, mudah lupa, pemarah, pemurah, penyantun, pedit, pelit, dan dermawan.

Intektual sebagai ciri dari perwatakan menerangkan ciri-ciri khusus tentang hal sosok tokoh dalam bersikap dan berbuat, terutama dalam mengambil sebuah keputusan atau menjalankan tanggungjawab. Misalnya, kecerdasan (pandai-bodoh, cepat tanggap-masa bodoh, tegas-kaku, lambat-cepat berpikir), kharismatik (gambaran sikap sesuai dengan kedudukan jabatan), tanggungjawab (berani berbuat berani menanggung resiko, asalkan dalam koridor yang benar). Unsur pemeranan selanjutnya adalah tubuh pemeran sebagai media ungkap wujud fisik dengan kelenturan dan ekspresi tubuhnya.

3.Unsur Tubuh

Tubuh dengan seperangkat anggota badan dan ekspresi wajah adalah unsur penting yang perlu dilakukan pengolahan atau pelatihan agar tubuh kalian memiliki; stamina yang kuat, kelenturan tubuh dan daya refleks atau kepekaan tubuh. Untuk mendapat tujuan dimaksud secara maksimal, bahwa seorang pemeran wajib rajin dan disiplin melaksanakan olah tubuh sebagai materi penting yang akan dibahas melalui teknik pemeranan. Disamping mempunyai kemampuan tubuh yang memadai untuk seorang pemeran, jangan lupa kalian harus sadar akan potensi kalian dalam hal memfungsikan unsur suara atau vokal.

4.Unsur Suara

Suara atau bunyi yang dikeluarkan indra mulut dan hidung melalui rongga dan pita suara adalah salah satu unsur pemeranan yang berfungsi untuk penyampaian pesan pemeranan melalui bahasa verbal atau pengucapan kata-kata. Unsur suara sebagai sarana dalam pemeranan seni teater agar berfungsi dengan baik, dan mempunyai manfaat ganda dalam menunjang seni peran perlu dilakukan pengolahan berupa pelatihan pada unsur-unsur anggota tubuh yang terkait dengan pernapasan dan pengucapan melalui teknik pemeranan.

5.Unsur Penghayatan

Penghayatan adalah penjiwaan, mengisi suasana perasaan hati, kedalaman sukma yang digali dan dilakukan seorang pemeran saat membawakan pemeranannya di atas pentas. Unsur penghayatan dalam seni peran perlu memperoleh perhatian khusus, sebab setiap pemeran dalam membawakan pemeranannya akan terasa berbeda. Sekalipun berasal penokohan yang sama dari naskah yang sama. Hal ini, sangat tergantung pada sejauhmana upaya pengalaman pemeranan dalam mengasah kepekaan sukmanya sehingga memunculkan kesadaran rasa simpati dan empati diri sendiri pada orang lain dan kepekaan menanggapi peristiwa yang terjadi dalam kehidupan. Latihan untuk mendapat kepekaan rasa atau sukma atau pengaturan emosi untuk seorang pemeran dapat dilakukan melalui teknik olah rasa yang akan dibahas pada sub bab pemeranan selanjutnya.

6.Unsur Ruang

Ruang dalam pemeranan adalah unsur yang menunjukan tentang; ruang yang diciptakan pemeran dalam bentuk mengolah posisi tubuh dengan jarak rentangan tangan dengan anggota badannya; lebar (gerak besar), sedang (gerak wajar), kecil (gerak menciut). Contohnya, gerak besar, biasanya pemeran mendapat suasana; angkuh, sombong, menguasai, agung, kebahagiaan, perpedaan status, dan atau marah dst. Adapun, ruang wajar dan bersahaja biasanya dilakukan seorang pemeran pada suasana; akrab, bersahaja, status sama, damai, tenang dan nyaman. Ruang pemeranan yang dibangun seorang pemeran dengan gerak atau respon kecil, biasanya dilakukan dalam suasana: tertekan, sedih, takut, mengabdi, dan budak.

Memahami pengertian ruang biasanya adalah tempat, area, wilayah untuk bermain peran dalam melaksanakan gerak diam (pose) atau gerak berpindah (movement). Hal ini dapat dilakukan dengan pengolahan pada irama gerak langkah (cepat, lambat dan sedang), garis dan arah langkah (horizontal, vertikal, diagonal, zigzag, melingkar dan berputar atau melingkar dalam suatu adegan peran.

7.Unsur Kostum

Pengertian kostum dalam seni peran adalah semua perlengkapan yang dikenakan, menempel, melekat, mendandani untuk memperindah tubuh pemeran pada wujud lahiriah dalam aksi pemeranan di atas pentas. Kostum meliputi unsur ; rias, busana, dan asesori sebagai penguat, memperjelas watak tokoh, baik secara fisikal, psikis, moral atau status sosial. Contohnya dalam berpakaian, seperti; Polisi, Tentara, Hansip, Satpam, Guru, Kepala Desa, Pejabat, Rakyat, Pengemis, Wadam, dan Anak Sekolah.

8.Unsur Property

Pemahaman Property dalam pemeranan adalah semua peralatan yang digunakan pemeran, baik yang dikenakan atau yang tidak melekat ditubuh, tetapi dapat diolah dengan menggunakan tangan (handprop) dan berfungsi untuk penguat watak atau karakter seorang pemeran, seperti : tas, topi, cangklong, tongkat, pentungan, kipas, panah dan busur, dan golok.

9.Unsur Musikal

Unsur musikal atau unsur pengisi, penguat, pembangun suasana laku pemeranan di atas pentas, meliputi; irama suasana hati atau sukma dalam membangun irama permainan dengan lawan main, irama vocal, suara pengucapan (Opera, Gending Karesmen, dan Wayang Wong) sang pemain, atau aktor, dan irama musik sebagai penguat karakter tokoh (Cepot, Bodor, Semar, dan Raja.) berupa; gending, musik, suara atau bunyi dan efek audio, baik melalui iringan musik langsung (live) atau musik rekaman (playback), contohnya; Musik Kabaret, dan Musik Operet.

Setelah kalian belajar mengenai aspek pemeranan, jawablah beberapa pertanyaan di bawah ini!
  1. Apa saja yang termasuk unsur pemeranan dalam seni teater?
  2. Apa perbedaan penokohan dan perwatakan di dalam seni peran?
  3. Apa yang dapat kalian lakukan setelah kalian mengetahui dan memahami unsur-unsur pemeranan?
Kamu telah mengetahui dan memahami unsur–unsur pemeranan sebagai pengalaman kalian dalam meningkatkan kualitas pengalaman belajar dalam memfungsikan potensi; wiraga, wirahma, wirasa dan wicara. Pembelajaran selanjutnya kalian diharapkan dapat mengolah potensi utama seni peran, melalui praktik dan latihan Teknik Pemeranan dengan terstruktur dan terbimbing dengan guru agar kalian memiliki penguatan dan kepekaan dalam bermain seni peran!




Artikel ini membahas tentang Pengertian Pemeranan dalam Seni Teater. Semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Pengertian Pemeranan dalam Seni Teater

Mengawali pembelajaran seni teater, pemeranan adalah salah satu unsur penting dalam seni teater. Alangkah baiknya, kalian mengetahui dan memahami keberadaan diri sendiri dan orang lain dalam lingkungan; rumah tinggalmu, masyarakat sekitar dan sekolahmu. Setiap waktu kalian belajar dan beribadat, setiap hari kalian sekolah kecuali hari libur, setiap minggu kalian berkumpul dengan keluarga, setiap bulan kalian minta uang untuk liburan. Kamu kini, mencapai usia remaja mempunyai peran dan kedudukan yang sama dengan teman kalian yakni, sebagai; anak dari orang tuamu, warga masyarakat dari lingkungan sekitarmu dan murid dari sekolahmu. Rentang usiamu adalah pengalaman dari hidupmu. Pengalamanmu sangatlah berbeda dengan temanmu. Tetapi semua orang, mendamba kehidupan damai dan penuh cinta kasih antar sesamanya. Namun kenyataan yang ada, dan kalian rasakan tidaklah demikian. Setiap saat, gejolak membayangi kedamaian. Cinta kasih terkubur sebab salah paham, ambisi, angkuh, kesombongan, dst. Ambisi pribadi dan keserakahan manusia menentang kenyataan menjadi watak seseorang, hingga timbul pertentangan (konflik) antarsesama atau dengan lingkungan sebab tanpa kepasrahan dan kesadaran peran dalam memaknai hidup.

Coba sejenak merenung! Perhatikan orang-orang di rumah, lingkungan sekitar, sekolah, dan atau pengalaman kalian yang menakjubkan (menarik hati) atau menyakitkan! Apa yang dapat kalian ceritakan dari orang-orang itu dan dari pengalaman hidupmu? Apakah kalian merasa kagum (suka, senang), benci, atau menyesali dengan; kedudukan, ketampanan, kecantikan, kepribadian orang atau temanmu dan atau dengan pengalaman yang kalian alami? Keterlibatan dan pengalaman hidup kalian secara langsung dengan orang-orang di rumah, di lingkungan masyarakat dan di sekolah, sebenarnya kalian tengah menjalani pemeranan dengan peran atau tokoh dalam kehidupan nyata. Sungguh beruntung manakala kalian dapat berperan dalam menjalani kehidupan sejalan dengan kesadaran orang banyak (baik). Tidak berpihak pada laku jahat, mati hati, sepi rasa dan tidak peduli siapa pun, sehingga kalian dicemooh, diasingkan, dibenci, dicaci, dan diusir orang lain dari lingkungan masyarakat sekitarmu.

Peran dengan perwatakan orang-orang di sekitarmu termasuk kamu, dengan memerhatikan; status sosial, fisik, psikis, kecerdasan dan mental spiritual yang nampak cenderung bersifat relatif, khas, unik, dan beragam. Keragaman dan keunikan orang-orang bersifat hitam putih, senda gurau serius, tinggi pendek, cantik jelek, jahat baik itu adalah watak atau karakteristik manusia sebagai identitas tokoh dari cerita dalam kehidupan nyata. Watak atau karakteristik orang atau tokoh yang khas, unik dan mempesona biasanya sangat berkesan dalam ingatanmu. Begitu pula dengan orang lain saat melihat kalian dalam berperan di masyarakat atau membawakan peran atau pemeranan dalam suatu penokohan cerita teater.

Dengan kesadaran dan berperan aktif dalam kehidupan di masyarakat dengan menghormati kelebihan dan kelemahan potensi seseorang termasuk kemampuan kalian dan teman kalian adalah inti dalam memaknai peran hidup dalam keragaman dan kekhasan (keunikan). Manusia sebagai sumber rangsang kreativitas dan modal dasar mendalami seni peran (pemeranan) dalam pembelajaran seni teater yang akan kalian alami. Setelah kalian menyaksikan seni teater di gedung pertunjukan, di tengah lapang, di media jejaring sosial, di televisi atau layar perak (bioskop), unsur-unsur pertunjukan apa saja yang kalian lihat (tonton)? Coba kalian amati gambar di bawah ini, untuk mengidentifikasi peran atau tokoh dalam pemeranan!



Kamu perhatikan gambar di atas lebih seksama, lalu jawablah pertanyaan di bawah ini!
  1. Gambar manakah yang menunjukkan karya seni teater atau seni pertunjukan yang kalian ketahui dan ada di sekitarmu?
  2. Dapatkah kalian melakukan salah satu pemeranan berdasar gambar itu?
  3. Apa perbedaan yang menonjol dari sudut pandang watak tokoh dalam pemeranannya?
  4. Dapatkah kalian mengidentifikasi watak tokoh pemeran dari contoh gambar itu?
  5. Bagaimanakah tata rias dan busana melalui contoh gambar itu? Berdasarkan pengamatan melalui gambar, sekarang kalian kelompokkan dan isilah tabel di bawah ini sesuai dengan karakter/ watak tokoh dalam pemeranan atau seni peran!
Agar kalian lebih mudah memahami, bacalah konsep mengenai seni peran atau pemeranan beserta unsur -unsur nya. Selanjutnya, kalian lakukan pengamatan atau apresiasi pada karakter/ watak tokoh pemeran dengan melihat pertunjukan langsung ataupun menonton tayangan dari video, media jejaring sosial, televisi atau film di gedung bioskop serta membaca referensi dari berbagai sumber belajar lainnya.

Pemeranan adalah unsur penting dalam seni teater. Pengertian seni mengandung arti keindahan (estetik) atau kehalusan budi pekerti, oleh sebab itu seni selalu menawarkan keindahan bentuk dan kehalusan pesan atau nilai moral. Pengertian teater (Theatron, Inggris) biasanya dapat diartikan sebagai “ Gedung Pertunjukan” dan Teater pun dapat dikatakan semua jenis pertunjukan, baik menggunakan media pertunjukan langsung (seni tari, seni musik, seni drama) atau tidak langsung atau seni rekam: sinematografi, TV Play dan film. Teater dalam pengertian khusus dapat diartikan sebagai drama. Kata drama sendiri diambil dari bahasa Yunani “ dramoi” atau “to act to” dalam bahasa Inggris yang berarti berbuat, melaksanakan atau bertindak atau berbuat menjadi atau berbuat seolah-olah menjadi di luar dirinya. Dari kata “to act” lahirlah istilah actor yakni pemeran pria dan actrees, pemeran wanita. Oleh karenanya berbicara masalah pemeran yang mempunyai padanan; pemain, pelaku, dan tokoh. tidak dapat dipisahkan dengan pemeranan sebagai ilmu dan seni didalam seni teater.

Pengertian Pemeranan

Istilah pemeranan disebut juga dengan seni peran, atau seni akting. Seorang pemeran dalam melaksanakan pemeranannya dikenal dengan sebutan aktor, aktris, pemain, tokoh, dst. Aktor, aktris, pemain, tokoh adalah inti dalam seni peran dan seni teater pada umumnya. Oleh karenanya, tanpa seorang pemeran seni pertunjukan tak akan hadir dihadapan kita. Namun perlu diingat, dalam pemeranan tidak semua aktor, pemeran, tokoh tidak atau kurang berhasil dalam membawakan pemeranannya. Mengapa demikian? Hal ini sangat terkait dengan beberapa unsur seni peran yang menjadi persyaratan didalamnya, antara lain;

  1. Cerita atau naskah yang dibawakannya wajib mengandung konflik atau pertentangan antar tokoh yang satu dengan tokoh yang lainnnya. Dapat pula permengenai tokoh cerita dengan lingkungan, dengan dirinya sendiri (keyakinannya) dst.
  2. Adanya kerjasama dan kerja bersama baik antar pemain dan sutradara dalam membangun irama permainan seni peran, dengan beberapa unsur artistik pentas yang hadir melingkupi tokoh dalam suatu adegan, babak atau disebut dengan kepekaan ruang dalam membangun atmosfir pertunjukan.
  3. Menghindari terjadinya kesalahan pemilihan tokoh atau miss casting dalam pemeranan, sehingga terjadi over acting (akting yang berlebihan) atau under acting (akting di bawah standar, kurang ekspresif dari tuntutan peran yang dibawakan). Pemeran, aktor, aktris baik adalah manusia kreatif yang selalu berinsiatif untuk mendadani dan melengkapkan tubuhnya, mentalnya, sosialnya tanpa wajib menunggu perintah orang lain dan atau sutradara.
  4. Adanya keberanian untuk mencoba dan gagal (trial and error). Pada dasarnya suatu keberhasilan, kalian harus meyakini dari kegagalan. Itulah pentingnya suatu kegigihan dan kemauan yang keras perlu ditanamkan olehmu.
  5. Memiliki wawasan dan suka bergaul. Karena itu disyaratkan untuk gemar membaca, menonton pertunjukan dan wajib peka pada kejadian sekitar dan isu-isu yang aktual untuk melatih ingatan dan emosi pemeran sekaligus sebagai bahan apa yang akan dibicarakan secara tematik.
  6. Harus percaya diri, mempunyai kesadaran potensi atas kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Tidak sedikit orang di sekitar kita memiliki; kecantikan, ketampanan, jelek, pendek, jangkung atau postur tubuh tidak ideal, tidak menarik dan menjadi pusat perhatian orang lain. Tetapi dengan ketampanan, kecantikan di dalam Sinetron Lorong atas rata-rata atau di bawah rata-rata dan Waktu. ditunjang dengan kemampuan lebih dari dirinya menjadi luar biasa dalam bidang pemeranan. Contohnya; Resa Rahardian, Dude Herlino, Olga Syahputra, Sule, Bopak, Adul, Daus Mini, Ucok Baba, Soimah, Omaswati, Rina Nose, Christine Hakim, Deddy Miswar, dst.

Dengan demikian, seorang pemeran bersifat langsung di atas panggung atau tidak langsung melalui media televisi atau film dituntut untuk membawakan perannya dengan ekspresif, totalitas tubuh sesuai dengan watak tokoh yang diembannya. Pemeran baik wajib mampu menjadi mediator pesan moral (cerita) dan estetis (keindahan pemeranan) melalui ekspresi totalitas tubuhnya, dengan segenap cipta, rasa, dan karsanya.

Untuk menuju atau minimalnya kalian mengetahui dan mengalami pembelajaran seni peran, perlu diingat bahwa para ahli teater atau teaterawan berpendapat bahwa seorang aktor, aktris, pemeran adalah seperti halnya tanah lempung atau tanah liat. Seorang aktor wajib siap dan mampu dibentuk dan dibuat jadi apa saja. Artinya, bahwa aktor atau seorang pemeran itu sebagai bahan baku yang mampu menjadi media utama dalam seni peran atau pemeranan dari cerita yang diekspresikan secara estetis melalui simbol atau lambang audio (suara, kata-kata), visual (tubuh atau ragawi) dan gerak (gerak-gerik dan perlakuan di atas pentas).

Pemeranan atau seni peran dalam seni teater melalui penyajiannya dapat dibedakan dalam dua jenis, yakni pemeranan di atas panggung pertunjukan bersifat langsung, sesaat dengan gaya dan unsur pemeranannya dapat dilakukan dengan teknik stilasi (penyederhanaan) dan distorsi (penglebihan). Pemeranan sinematografi atau film bersifat wajar, tidak langsung, diulang melalui media rekam dan proses editing.

Dalam perkembangannya pemeranan terutama dalam dunia sineas, sinematografi lebih dikenal dengan seni “acting“. Kata acting sendiri dalam bahasa Indonesia ditulis akting, dari turunan kata kerja “to act“ artinya berbuat, bertindak seolah-olah atau menjadi sesuatu. Sesuatu itu dapat berupa; orang (dengan identitas ketokohannya), atau benda dan mahluk hidup lain berasal dari kehidupan nyata lalu diangkat ke atas pentas dalam wujud seni peran atau akting dengan karakter atau watak tokoh yang diperankan. Oleh sebab itu pemeranan disebut juga dengan seni peran atau seni akting yakni seni dalam membawakan peran orang lain di luar dirinya dengan perwatakan bersifat; tepat takaran, logis (wajar), etis dan estetis.

Seorang pemeran wajib mampu membawakan pemeranannya secara prima dan mempesona di atas pentas. Sebagai rasa tanggungjawab yang dipikulnya, maka seorang pemeran atau aktor, aktris untuk senatiasa selalu mengasah kemampuan dirinya melalui pengolahan unsur penting pemeranannya, yakni: tubuh, suara, rasa atau penghayatan yang melingkupinya. Dengan demikian kepekaan dan mengolah kesadaran unsur pemeranan yang melingkupinya mampu menampilkan penokohan sesuai watak tokoh dengan takaran pemeranan yang mempesona dalam suatu pementasan. Artinya, dalam pemeranan akan dialami dan ditemukan persoalan takaran atau ukuran dalam menciptakan irama permainan apakah lebih mengarah pada “over acting“ atau akting yang berlebihan atau bersifat “under acting” atau akting dibawah ukuran atau takaran yang seharusnya, sehingga irama permainan menjadi monoton, tidak berkembang, menjemukan, membosankan lawan main dan penonton.

Dalam seni peran atau pemeranan terjadi kebebasan tafsir, orsinil, bersifat laku jujur atas peran atau penokohan yang diemban pemerannya. Tokoh atau peran yang sama dari satu naskah dengan pengarang yang sama, diperankan oleh seseorang akan terjadi kesan pemeranan atau akting yang berbeda. Contohnya, Film Nagabonar yang diperankan oleh Dedy Miswar akan berbeda kesan (ruh, greget) pemeranannya dengan tokoh Nagabonar yang diperankan Tora Sudiro. Karena jam terbang dan pengalaman dalam dunia seni peran yang berbeda dan itulah membuktikan bahwa dalam dunia seni peran bersifat kejujuran tanpa manipulasi. Penghargaan baik tidaknya atau memikat tidaknya pemeranan yang dibawakan oleh seseorang hanya dapat diberikan oleh penontonnya, bukan atas penilaian diri sendiri pemeran atau aktor.

Jenis dan bentuk teater yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat pedesaan dan perkotaan di Indonesia, pengungkapannya dapat dibedakan menjadi teater tradisional (teater rakyat dan teater klasik) dan non tradisional (teater modern dan sinematografi/film). Berdasarkan jenis dan bentuk teater itu sangat mempengaruhi ciri atau identitas pembentuk seninya, termasuk di dalam hal pemeranan.

Dalam perkembangannya setelah masuknya teori atau keilmuan barat, yakni pengaruh dunia pendidikan seni teater di Indonesia. Maka dunia seni peranpun dapat dibedakan dengan berbagai gaya atau aliran yang berkembang: teater realis, non realis (surealis dan absurd). Seni akting dari bersifat idiom-idiom tradisi berkembang pada seni teater non tradisional (teater barat, teater eksperimen, teater ekstrim dst. sebagai pengaruh dari budaya postmodernisme. Sehingga lahirlah beberapa istilah bentuk pertunjukan, seperti; teater tubuh, teater gerak, teater jeprut, happing art, dan teater jalanan.

Namun demikian, kalian harus memahami bahwa belajar pemeranan atau seni peran atau seni akting sebagai unsur atau elemen pentingnya adalah hadirnya pemeran, aktor, aktris yang mempunyai karakter/ watak dengan unsur penunjangnya. Unsur yang dimaksud adalah tubuh, suara, rasa, pikir dan artistik penunjangnya, hingga mencapai kesadaran dan kepekaan yang kuat melalui latihan dengan beberapa penguasaan teknik seni peran agar memunculkan sosok pemeranan yang menganggumkan, mempesona, mengigit, mempunyai greget, mengandung ruh dan peran menjadi hidup (menarik hati penonton). Dan inilah sejatinya yang wajib dilakukan seorang pemeran atau aktor.

Setelah kalian membaca artikel mengenai pengertian pemeranan ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut!

  1. Apa yang dimaksud dengan seni peran atau akting ?
  2. Apa perbedaan pemeranan teater tradisional dan non tradisional?
  3. Apa yang wajib kamu lakukan agar pemeranan kamu, dapat mempesona ?







Tuesday, August 25, 2015

Artikel ini membahas tentang Latar Belakang Munculnya Seni Rupa Modern. Semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Latar Belakang Munculnya Seni Rupa Modern

Seni rupa modern di Indonesia dirintis sejak abad ke 18 Masehi atau pada masa Kolonialisme Belanda. Ada perubahan yang cukup mendasar pada fungsi kesenian di zaman modern daripada masa sebelumnya. Pada masa traditional, pencipta karya seni selalu dihubungkan dengan fungsi sakral, seperti pembuatan patung nenek moyang, pendirian candi, masjid, dan lain–lain yang semuanya ditunjukkan untuk mendorong semangat beribadah. Adapun di zaman modern, nilai - nilai kreativitas dan estetika menjadi dasar penciptaan. Dorongan akan kebebasan berekspresi dan pengaruh individualisme Barat pun muncul. Karya - karya seni rupa banyak beralih fungsinya yang awal dikontribusikan untuk kepentingan ibadah atau sakral, kepentingan tradisi atau untuk memenuhi fungsi sosial lainnya, berubah menjadi seni yang berfungsi individual yaitu sebagai media ekspresi murni estetis untuk para senimannya. Seni rupa modern adalah seni rupa yang tidak terbatas pada kebudayaan suatu adat atau daerah, namun tetap berdasar sebuah filosofi dan aliran-aliran seni rupa. Ciri-cirinya adalah Konsep penciptaannya tetap berbasis pada sebuah filosofi , tetapi jangkauan penjabaran visualisasinya tidak terbatas. Tidak terikat pada pakem-pakem tertentu.

Karya seni rupa yang banyak dibicarakan di zaman modern adalah karya seni lukis. Berbeda dengan seni lukis traditional, seni lukis modern bersifat tarditional. Pengertiannya adalah bahwa seni lukis modern telah melepaskan diri dari tata cara yang sudah ada dan lebih
bersifat membentuk kepercayaan dan kepribadian seseorang Perintis pertama seni lukis modern dilakukan Raden Saleh Syarif Bustaman sepulang dari studinya di Eropa walaupun sebenarnya terjadi secara tidak disengaja. Hampir setengah abad lalu muncullah bentuk seni lukis Indonesia yang dikenal dengan nama Indonesia Jelita atau Mooi Indie atau disebut juga Hindia Molek.
Nama Mooi Indie pada dasarnya untuk menamai tipe karya dan pengarahan tema seni lukis Hindia Belanda pada tahun 1925 - 1938. Bisa dikatakan pelukis - pelukis Mooi Indie adalah Abdullah Suryo Subroto ( 1878 - 1941 ) yang adalah putra Dr Wahidin Sudirohusodo, Wakidi, M. Pirngadi, Sujono Abdullah, Basuki Abdullah, Trijoto Abdullah, dan pelukis - pelukis  keturunan Cina seperti Lee Man Fong dan Oui Tiang Boen. Juga ada sebagian dari kalangan  pelukis barat seperti Lee Mayeur, Walter Spies, Rudolf Bonet, Van Mooyen, Max Fleischer, Duchatel, Carel Dake, Isaac Israel, J.Frank, Hofker, dan Ernest Desentje.
Latar Belakang Munculnya Seni Rupa Modern

Pada tahun 1938, muncul sebuah perkumpulan seniman lukis yang mendasari gerakannya dengan jiwa nasionalisme tinggi. perkumpulan seniman lukis itu disebut PERSAGI. Para  anggota yang tergabung didalamnya saling mendidik satu sama lain tanpa bekal metode yang benar. Kelompok ini memang tidak mementingkan teknik, namun lebih mementingkan isi jiwa. Anggota PERSAGI antara lain adalah Agus Jaya ( Ketua ), S. Sujoyono ( juru bicara ), L. Sutiyoso, Rameli, Latief, Hebert Hutagalung, Abdul Salam, Otto Jaya, Emiria Sunasa dan Surono. Tujuan PERSAGI itu adalah mengembangkan seni lukis dikalangan masyarakat Indonesia dangan mencari corak Indonesia baru. Salah satu tokohnya, Sujoyono melarang para generasi muda untuk menjadi seniman penjiplak. Dia terkenal dengan ungkapannya bahwa seni adalah jiwa ketok.

Masa setelah PERSAGI adalah masa pendudukan Jepang yang berlangsung antara tahun 1942 – 1945 Jepang mendirikan Poetra ( Poesat Tenaga Rakjat ) dimana kesenian diberi kesempatan luas untuk tumbuh. Pada tahun 1943, Affandi mengadakan pameran tunggalnya yang lalu  dilanjutkan dengan adanya pameran gabungan karya - karya Affandi dan Basuki Abdullah serta pelukis - pelukis lainnya. Setelah peristiwa Proklamasi 17 Agustus 1945 dicatat sebagai masa pendirian sanggar - sanggar. Pertumbuhan seni rupa berjalan terus hingga tahun 1950 dimana lahir lembaga - lembaga pendidikan kesenian formal seperti Akademi Seni Rupa ( ASRI ) Yogyakarta dan Balai Perguruan Tinggi Guru Gambar yang lalu menjadi bagian Seni Rupa ITB yaitu sebuah lembaga yang khusus mendidik calon seniman dan guru gambar.

Sekitar tahun 1975, muncullah karya - karya seni rupa baru yang tidak lagi dapat disebut sebagai seni lukis dalam arti umum. Pada pameran tahun 1975 itu, kedatangan seni rupa baru itu disambut dengan tanggapan kurang positif, bahkan cemoohan oleh para seniman, masyarakat, juga kaum kritisi seni rupa. akan tetapi, sebagai sesuatu yang baru sebenarnya hal itu adalah kewajaran. Pameran seni rupa baru tahun 1975 adalah sikap pemberontakan pada kemapanan seni dan seniman yang ada. Karya - karya seni rupa yang baru itu cenderung bersigat eksperimental atau memberi  pengalaman yang baru dari apa yang telah ada. Konsep berkarya tidak juga hanya mencari sisi  lain yang berbeda, tetapi bermaksud pula memenuhi tuntutan zaman dan situasi yang berkembang. Di dalam grup seni rupa baru ini tercatat nama - nama seperti Harsono, Nanik Mirna, Siti Adiyati Subangun, Ris Purwono, S. Prinka, Bonyong Munni Ardhi, dan Jim Supangkat. Munculnya gerakan seni rupa baru itu memberi keleluasaan kepada seniman muda untuk berekspresi. Gerakan itu memunculkan seniman muda yang potensial dibeberapakota  di Indonesia seperti Agus Kamal dan Ivan Sagito.




Wednesday, August 12, 2015

Artikel ini membahas tentang Pengertian dan Proses Kreativitas Tari. Semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Pengertian dan Proses Kreativitas Tari

Setelah mempelajari artikel tentang Pengertian dan Proses Kreativitas Tari ini, kalian diharapkan dapat mengapresiasi dan berkreasi seni tari, yaitu:

  1. Memahami pengertian kreativitas tari.
  2. Memahami proses kreativitas.
  3. Mengklasifikasikan proses kreativitas.
  4. Memahami tahapan dalam menyusun karya tari.
  5. Mengklasifikasikan tahapan dalam menyusun karya tari. 6. Membuat rangkaian gerak tari hasil dari proses kreatif.
  6. Mengkomunikasikan seni tari dengan menyajikan karya seni tari.

Kreativitas baik adalah aktualisasi dari pribadi yang positif. Antara lain wajib memiliki inisiatif, keberanian dan kemampuan penalaran. Dalam menata sebuah tarian ada kalanya dimulai dari sebuah ide lalu dikembangkan dalam bentuk gerak namun dimulai dengan merangkai gerakkan lalu mencari ide, yang terpenting gerak yang dipilih wajib memiliki motivasi untuk pembentukaan tarian.

Penataan tarian dapat dimulai dengan cara eksplorasi gerak yang akan menghasilkan gerak yang baru . Dalam pengembangan selanjutnya eksplorasi diolah bersama ketiga elemen dasar pada seni tari yaitu gerak, waktu/ritme, ruang / pola lantai dan tenaga.

Cari dan amatilah beberapa gambar orang yang sedang menari di internet. diskusikan bersama dengan teman-temanmu. Termasuk ke dalam genre tari apakah gerak-gerak yang terdapat pada gambar itu.
  1. Apakah gambar itu termasuk gerak tari?
  2. Apa pendapat kalian tentang seluruh gambar itu?
  3. Gerak manakah yang termasuk gerak maknawi dan gerak murni?
  4. Lakukanlah gerak-gerak pada gambar itu?
  5. Gambar manakah yang sulit dan mudah untuk dilakukan? Jelaskan alasan kalian?
  6. Lakukan salah satu dari gerak pada gambar tersebut dan kembangkanlah gerak itu menjadi gerak yang baru dari hasil imajinasi kalian
Setelah kalian menjawab pertanyaan di atas, lalu diskusikanlah dengan teman-temanmu. Agar kalian lebih mudah memahami, bacalah konsep-konsep mengenai kreativitas tari, tahapan kreativitas tari, menyusun tari. Selanjutnya kalian dapat menampilkan karya tari dengan menggunakan iringan.

Pengertian Kreativitas Tari

Kata kreatif bukan adalah hal yang asing dan sering kita dengar. Kata kreatif sering dikaitkan dengan membuat karya. Tari salah satu bidang yang dapat dijadikan sebagai objek kreativitas karya seni. Dalam menyusun karya seni sangat dibutuhkan kreativitas tinggi untuk menghasilkan karya seni baik. Menyusun karya seni dapat menggunakan pembendaharaan gerak tradisi yang sudah ada atau melalui pencarian dan pengembangan gerak yang belum terpola sebelumnya yaitu dengan cara melaksanakan eksplorasi gerak, improvisasi gerak dan komposisi gerak yaitu penyusunan gerak menjadi sebuah tarian. Pengalaman dan kemampuan seseorang baik secara teoritis atau praktek dapat dijadikan bekal dalam mewujudkan kreativitas yang diwujudkan dalam karya seni.

Pernahkah kalian melihat seseorang yang sedang menciptakan karya seni tari? Bagaimanakah cara mereka membuat karya tari? Perhatikan dan amatilah gambar di bawah ini. Jelaskan bentuk pengembangan gerak pada gambar di bawah ini!

Pengertian dan Proses Kreativitas Tari

Mencipta adalah dorongan untuk merasakan, menemukan dan menuangkan ide-ide yang ada untuk dikembangkan. Tari tidak tercipta secara instan, terdapat sebuah proses atau langkah-langkah yang wajib ditempuh dalam menciptakan tarian. Proses untuk mencipta atau membuat karya tari dimulai dari mencari ide-ide, yaitu melalui eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan (komposisi).

Setelah kalian memahami tentang kreativitas tari. Jawablah pertanyaan di bawah ini:
1. Jelaskan yang dimaksud dengan kreativitas?
2. Sebutkan dan jelaskan tahapan melaksanakan proses kreativitas dalam berkarya seni?

Proses Kreativitas Tari

Pada dasarnya setiap orang mempunyai potensi kreatif. Meskipun dalam kadar yang berbeda, sebab setiap orang mempunyai kemampuan dan intensitas yang berbeda. Namun kreatif dapat dikembangkan melalui pendidikan dan latihan-latihan. Seperti menggambar jika tidak mencoba dan melaksanakan latihan secara rutin maka gambar yang dapat dibuat hanya pemandangan gunung saja. Kreatif tidak muncul begitu saja, tetapi wajib melalui proses terlebih dahulu yaitu dengan mencoba , melaksanakan dan berlatih secara berkelanjutan.

Kreativitas seseorang dapat dilihat dari hasil akhir kreatif yaitu karya. Hasil akhir itu dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal seperti faktor lingkungan, sarana, keterampilan, identitas, orisionalitas, dan apresiasi. Mengapa sebuah karya wajib orisionalitas? Apa penyebabnya jika karya itu tidak orsinil?Jelaskan pendapat kalian?

Proses kreativitas tari dapat dilakukan dengan tahapan yaitu: Eksplorasi gerak, yaitu proses berfikir, imajinasi merasakan dan merespon dari suatu objek yang kita jadikan sebagai bahan karya seni.

  • Improvisasi yaitu spontanitas sebab memiliki kebebasan dalam gerak dapat dilakuakan mulai gerak yang sederhana lalu dikembangkan.
  • Komposisi atau penciptaan karya seni yaitu menata, mengatur dan menata bagian-bagian sehingga satu dengan yang lainnya saling menjalin menjadi kesatuan yang utuh.


Buatlah kelompok dengan masing-masing kelompok terdiri dari lima orang. Masing-masing orang mencari gerak yang ada di sekiling kalian. Imajinasikanlah gerak itu, menjadi gerak yang indah. Rangkai gerak-gerak dari masing-msaing individu menjadi satu bentuk tari.

Menyusun Karya Tari

Dalam menyusun karya tari dapat mempergunakan gerak tradisi yang suadah ada atau melalui pencarian gerak yang belum terpola sebelumnya. Perlu diperhatikan bahwa tari sebagai ekspresi seni menuntut kemampuan lebih dari sekedar merangkai gerak menjadi sebuah koreografi, melainkan wajib memiliki nilai estetis. Setelah gerak-gerak yang dimaksud telah terkumpul, lalu dirangkai menjadi tarian. Menyusun gerak baik adalah memadukan gerak maknawi dengan gerak murni, dirangkai sesuai dengan tema yang sudah ditentukan dan sudah mencakup arah gerak dan arah hadap. Arah memberikan orientasi pada tarian. Ada dua macam arah dalam menari, yaitu:


  1. Arah Hadap, menunjukkan kemana penari menghadap, ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang, menengadah atau menunduk.
  2. Arah Gerak (lintas gerak), menunjukkan kemana penari akan bergerak, membuat lingkaran, zig-zag, berjalan maju dan mundur, serong diagonal, spiral dsb.


1. Level

Tingkat jangkauan gerak atau tinggi rendahnya gerak. Ada tiga level dalam menari, yaitu:
a. Level Tinggi : Meloncat
b. Level Sedang : Membungkuk
c. Level Rendah : Duduk

Dari hasil pengolahan suatu gerakan atau gerak yang telah mengalami sitisasi atau distorsi lahir dua jenis gerak tari. Pertama, gerak tari yang bersifat gerak murni dan yang kedua bersifat gerak maknawi.

Gerak murni adalah gerak tari dari hasil pengolahan gerak yang dalam pengungkapannya tidak mempertimbangkan suatu pengertian dari gerak tari itu. Disini yang dipertimbangkan adalah faktor nilai keindahan gerak tarinya saja. Misalnya gerak-gerak memutar tangan pada pergelangan tangan, beberapa gerak leher seperti pacak-jangga di Jawa, dan sebagainya. Sedangkan yang dimaksud dengan gerak maknawi adalah gerak wantah yang telah diolah menjadi suatu gerak tari yang dalam pengungkapannya mengandung suatu pengertian atau maksud disamping keindahannya.


2. Desain


Penata tari baik juga memperhatikan desain tari. Desain adalah garis yang terlihat oleh penonton yang ditimbulkan oleh gerak penari. Garis yang dilalui di lantai oleh para penari disebut desain bawah. Misalnya, garis diagonal, horizontal, zig-zag, spiral dll. Garis yang dilihat oleh penonton sebagai gerakan penari di atas pentas adalah desain atas. Contohnya, loncatan, gerak payung, dan pita.

Merangkai gerak agar menarik perlu ada adanya keseimbangan dasar dengan elemen lainnya, yang perlu diperhatikan yaitu sebagai berikut.

  1. Irama sebagai pengiring dan pemertegas gerak.
  2. Penguasaan ruangan dengan desain atas, bawah dan medium.
  3. Penataan komposisi penari untuk mengatasi kejenuhan sesuai dengan jumlah penari.
  4. Penggunaan rias dan busana yang selaras dan mencerminkan tema.

Desain musik adalah bagian yang terpenting dalam tari, musik adalah bagian pendukung dalam seni tari yaitu sebagai pengiring, pemberi suasana dan memberikan ilustrasi (ekspresi). Musik juga mengatur cepat lambatnya gerak dan membantu mewujudkan dramatik.

Tugas kelompok: Buatlah gerakan sederhana dengan iringan musik Cublak- Cublak Suweng hasil kreasi kalian dan tampilkan di depan kelas.

Menampilkan Karya Tari dengan Iringan


Menampilkan tari Lenggang Patah Sembilan

Dinamakan tari Lenggang Patah Sembilan sebab sesuai dengan pepatah Melayu lama. “Lenggang Patah Sembilan, semut dipijak tidak mati, antan terlan patah tiga”. Makna yang tersirat pada tarian mengungkapkan corak tarian ini sangat lembut namun pasti. Menyatakan bahwa seseorang itu wajib memiliki budi pekerti yang halus dan luhur, tetapi mempunyai ketegasan dalam berpikir dan bertindak. Lagu yang mengiringi tarian ini adalah Kuala Deli, Damak, Makan Sirih, Anak Tiung, Tudung Periuk, Batu Belah, Tudung Saji, Mas Merah , Burung Putih.

1. Perhatikan contoh tari Lenggang Patah Sembilan dari Melayu
2. Lakukan gerak tari Lenggang Patah Sembilan secara berpasangan dengan iringan

Ragam gerak tari Lenggang Patah Sembilan

1. Lenggang di tempat dan Patah Sembilan 1 x 8
2. Lenggang mengubah arah dan patah sembilan (arah ke luar) 1 x 8
3. Lenggang mengubah arah dan patah sembilan (arah ke belakang) 1 x 8
4. Lenggang mengubah arah dan patah sembilan (arah ke dalam) 1 x 8
5. Lenggang mengubah arah dan patah sembilan (kembali ke depan) 1 x 8
6. Lenggang memutar satu lingkaran dan patah sembilan , 1 x 8
7. Lenggang maju lurus ke depan dan patah sembilan, 1 x 8
8. Lenggang memutar satu lingkaran dan patah sembilan, 1 x 8
9. Lenggang mengubah arah, maju lurus dan patah sembilan (ke luar) 1 x 8
10. Lenggang memutar satu lingkaran dan patah sembilan , 1 x 8
11. Lenggang mengubah arah, maju lurus dan patah sembilan (ke belakang) 1x8
12. Lenggang memutar satu lingkaran dan patah sembilan 1 x 8
13. Lenggang mengubah arah, maju lurus dan patah sembilan ( ke dalam )
14. Hitungan 1 – 4 menghadap ke depan.


Evaluasi Pembelajaran 

Setelah kalian belajar dan menampilkan karya tari dengan iringan, jawablah pertanyaan berikut dengan Ya/Tidak

  1. Saya berusaha belajar kreativitas tari dengan sungguh-sungguh
  2. Saya berusaha belajar proses kratifitasi tari dengan sungguh-sungguh 
  3. Saya mengikuti pagelaran tari dengan tanggung jawab 
  4. Saya mengerjakan tugas yang diberikan guru tepat waktu 
  5. Saya mengajukan pertanyaan jika ada yang tidak dipahami 
  6. Saya berperan aktif dalam kelompok 
  7. Saya menyerahkan tugas tepat waktu 
  8. Saya menghargai hasil karya orang lain yang di pertunjukkan 
  9. Saya menghormati dan menghargai orang tua 
  10. Saya menghormati dan menghargai teman Saya menghormati dan menghargai guru


Rangkuman

Kreativitas adalah hasil dari interaksi antara individu dengan lingkungannya. Kata kreatif sering dikaitkan dengan membuat karya. Tari adalah bidang yang dapat dijadikan sebagai objek kreativitas. Proses kreativitas tari dapat dilakukan dengan tahapan yaitu:

  • Eksplorasi gerak, yaitu proses berfikir, imajinasi merasakan dan merespon dari suatu objek yang kita jadikan sebagai bahan karya seni.
  • Improvisasi yaitu spontanitas sebab memiliki kebebasan dalam gerak dapat dilakukan mulai gerak yang sederhana lalu dikembangkan.
  • Komposisi atau penciptaan karya seni yaitu menata, mengatur dan menata bagian-bagian sehingga satu dengan yang lainnya saling menjalin menjadi kesatuan yang utuh.

Dalam menyusun karya tari dapat mempergunakan gerak tradisi yang sudah ada atau melalui pencarian gerak yang belum terpola sebelumnya.untuk menyusun karya tari dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pertama musik sudah ada lalu dibuat gerak tari dan kedua dengan menyusun gerak tari dan juga membuat iringan tarinya.


Refleksi

Arah Gerak, menunjukkan kemana penari akan bergerak, membuat lingkaran, zig-zag, berjalan maju dan mundur, serong diagonal, spiral dsb. Dan menata tari perlu diperhatikan pula level (level atas, level tengah dan level bawah) dan desain (desain atas, desain bawah, dan desain musik). Menampilkan karya tari tradisional Lenggang Patah Sembilan dengan iringan tari Melayu.

Kegiatan kreativitas adalah kegiatan yang mengarah pada penciptaan karya tari. Seseorang dapat menciptakan karya tari bila dalam dirinya mempunyai kemauan dan kemampuan. Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda, kemampuan seseorang tergantung kepada kemauan dari orang itu sendiri.

Jika kita mau berusaha pasti akan diberikan jalan untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Bersikap jujur, disiplin dan tangggung jawab dengan hasil karya yang telah diciptakan akan membuahkan hasil yang memuaskan. Menghargai karya seni orang lain dengan memberikan apresiasi positif dan memberikan penghargaan pada kreativitas yang dihasilkannya.




Sunday, August 9, 2015

Artikel ini membahas tentang Pengertian, Fungsi, Simbol, dan Nilai Estetis Seni Tari. Semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Pengertian, Fungsi, Simbol, dan Nilai Estetis Seni Tari

Seni tari adalah bagian dari seni pertunjukkan, yang mencakup seni musik, seni rupa dan seni teater. Jika kalian melakukan gerak berjalan, gerak senam atau olah raga apakah sudah dapat dikatakan sebagai aktivitas menari? apakah itu juga merupakan gerak tari? apakah perbedaaan gerak tari dengan gerak berjalan atau gerak olah raga? Gerak adalah subtansi baku dari seni tari, dimana gerak menjadi bahasa media yang dapat mengungkapkan harapan yang berarti berbentuk pesan yang dikomunikasikan lewat gerak tari. Dengan menari seseorang dapat mengekspresikan dirinya melaui gerak. Karena tari adalah rangkaian dari gerak-gerak tubuh yang mempunyai nilai estetis.

Seni tari adalah cabang kesenian yang tidak dapat dipisahkan didalam kehidupan manusia. Dalam kelompok masyarakat tertentu tari adalah bagian terpenting sebagai bagian upacara keagamaan atau upacara adat. Seperti di Bali seni tari adalah bagian terpenting didalam setiap upacara keagamaan. Dan melalui tari seseorang dapat mengungkapkan perasaan, emosi dan gagasan pirannya yang diungkan melakui gerak Ketika kalian menyaksikan pertunjukan tari? apakah keunikan dari pertunjukan tari itu? Perhatikan dan amatilah gambar dibawah ini gerak dasar apa saja yang terdapat pada gambar dan jelaskan pendapatmu tentang keunikan dari setiap ragam gerak tari itu?

Pengertian, Fungsi, Simbol, dan Nilai Estetis Seni Tari


  1. Perhatikan gambar di atas, kelompokkan ragam gerak dasar tari sesuai dengan asal daerahnya
  2. Tirukanlah ragam gerak dasar tari pada gambar di atas (bisa di sesuaikan dengan kontek daerahnya)
  3. Apakah perbedaan yang menonjol dari berbagai gerak dasar tari itu?
  4. Adakah persamaan dalam setiap gerak dasar tari itu?
  5. Bagaimanakah teknik kepala, tangan, badan dan kaki dalam menggerakkan gerak dasar tari itu?
  6. Lakukan ragam gerak tari itu dengan menggunakan hitungan atau ketukan?

Berdasarkan pengamatan kamu, sekarang carilah informasi dari berbagai sumber, untuk dapat menjawab ragam gerak dasar yang terdapat pada gambar di atas dan asal daerah manakah gerak tari itu.

Agar kalian lebih mudah memahami, bacalah konsep-konsep mengenai ragam gerak dasar tari, fungsi tari, simbol pada gerak tari, nilai-nilai estetis yang terkandung dalam gerak tari. Selanjutnya, kalian bisa mengamati lebih lanjut dengan melihat pertunjukan langsung ataupun melihat gambar, tayangan dari video serta membaca referensi dari berbagi sumber belajar yang lain.

A. Pengertian Seni Tari

Setiap orang pasti pernah melihat tarian disadari atau tidak bahkan pernah menari. Seni Tari adalah cabang seni yang menggunakan tubuhnya sebagai media. Gerak adalah elemen pokok dalam tari yang terdapat unsur ruang, waktu dan tenaga. Apa Tari itu? tari dapat diartikan secara universal dan dapat dinikmati oleh siapa saja. Perlu kalian ketahui bahwa gerak tari mempunyai bentuk yang beraneka ragam. Setiap tarian mempunyai ciri khas atau keunikan geraknya masing-masing. Sehingga gerak tari tidak hanya terpaku pada gerak tari baku melainkan gerak tari dapat dikembangkan menjadi gerak tari kreasi.

Eksplorasi gerak dllakukan dengan cara proses berpikir, berimajinasi, merasakan dan merespon suatu objek yang diperoleh melalui panca indera. Objek ini bentuknya bisa Gibang pada tari topeng berupa benda, alam, suara dan rasa. Tari Betawi diklasifikasikan menjadi dua jenis tari yaitu bentuk tari Topeng dan tari Cokek. Ragam gerak dasar pada tari Betawi terdiri dari Gibang, selancar, rapat nindak, kewer, pakblang, goyang plastik dan gonjingan. Dari ragam gerak dasar itu dapat dikembangkan lagi menjadi gerak yang lebih ritmis dengan ruang gerak yang lebih luas.

Pengertian Seni TariTari adalah bagian dari kehidupan masyakat Bali, nyaris semua rutinitas upacara keagaman atau upacara adat didalamnya terdapat unsur tari. Ragam gerak dasar tari bali terdiri dari ngumbang, agem, angsel, piles dan ngeseh. Gerakkan tari bali yang sangat dimanis dengan ciri khas geraknya ditambah dengan gerakan Ngumbang pada tari Legong Kraton mata (nyeledet).

Ragam gerak dasar pada tari dayak yang berasal dari Kalimantan mempunyai gerak terbang, duduk, memutar gong dan merendah. Dengan properti tari di pegang ditangan dan terbuat dari bulu-bulu ekor burung Enggang. Seorang penari yang menari di atas Gendang menjadi ciri khas dari tari Pa’gellu dari Toraja (Sulawesi Selatan). Ragam gerak dasar tari Pa’gellu dari yaitu gerak Pa’gellu, Pa’tabe, Pa’gellu Tua, Pang’rapa Pentalun, Panggirik Tangtaru, Pa’tutu. Tari pa’gellu di pertunjukkan di setiap upacara/ritual syukuran atau “Rambu Tuka” dikalangan suku Toraja dengan diiringi intrumen gendang. Setiap gerakan-gerakannya dalam pa’gellu adalah simbol keseharian masyarakat Toraja yang mempunyai nilai filosofi yang dianut dalam ketentuan dan adat leluhur mereka.

Gerak yang baku dan dikembangkan menjadi gerak kreasi baru diperoleh dari hasil eksplorasi gerak yang dilakukan penari dengan rangsangan imajinasi dan terjadilah respon gerak yang spontan lalu diolah menjadi gerak yang indah.

Gerak pada tarian daerah Jawa biasanya tertuju pada gerak yang bertumbuh dan berkembang di keraton atau istana. Gerak – gerak yang berkembang di keraton mempunyai aturan- ketentuan tersendiri dalam melakukannya. Setiap gerak mempunyai makna dan filosofi tersendiri. Gerak dasar pada tari Jawa terdapat srisig, sabetan, hoyog, lumaksana, kengser, seblak sampur, ulap-ulap. Geraknya yang lembut menjadi ciri khas gerak tari Jawa. Tari Jaipong dari Jawa Barat yang berkembang dikalangan masyarakat atau rakyat mempunyai gerak dasar yaitu adeg-adeg, cindek, tumpang tali, keupat tumpang siku, incid diding.

Setelah kalian belajar mengenai konsep-konsep tari. Jawablah beberapa pertanyaan di bawah ini!

  1. Jelaskan yang dimaksud dengan Tari ?
  2. Jelaskan yang dimaksud dengan gerak tari?
  3. Jelaskan yang dimaksud dengan ruang, waktu dan tenaga yang terkandung didalam gerak tari?
  4. Apa yang dimaksud dengan tari tradisional?
  5. Apakah setiap daerah mempunyai tari tradisional?

B. Fungsi Seni Tari

Sebelum memahami fungsi tari, cobalah kamu menjawab pertanyaan berikut ini: pertanyaan yang pertama apa tujuan kalian belajar? diantara jawaban kalian akan menjawab agar pintar dan agar mengetahui banyak pengetahuan. Pertanyaan yang kedua kenapa seseorang itu wajib bekerja? Jelaskan pendapat kalian keduapertanyaan itu.

Pada dasarnya segala aktivitas yang dilakukan manusia adalah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, seperti belajar, bekerja, bermain dan berkesenian. Namun tari sebagai cabang kesenian bukan hanya dapat memenuhi kebutuhan, tetapi juga dapat menunjang kepentingan kegiatan manusia. Indonesia adalah negara yang kaya dengan tari-tarian. Dari mulai tarian yang sangat sederhana seperti daerah-daerah pedalaman sampai daerah yang sangat indah seperti Bali dan Jawa. Namun walaupun tarian itu terdapat didaerah pedalaman tetap mempunyai nilai-nilai keindahan.

Berdasarkan fungsinya tari-tarian di Indonesia dapat dibagi menjadi 3 yaitu tari sebagai sarana upacara, tari sebagai sarana hiburan, tari sebagai sarana pertunjukan atau tontonan dan tari sebagai media pendidikan. Apakah kalian pernah melihat pertunjukan seni tari? dimanakah kalian melihatnya? Masuk kedalam fungsi tari apakah pertunjukan yang kalian tonton? dari masing masing fungsi tari mempunyai peranan yang berbeda-beda.

Setelah kalian belajar mengenai teknik dan prosedur gerak dasar tari, jawablah beberapa pertanyaan di bawah ini!
  1. Jelaskan fungsi tari sebagai upacara, tari sebagai hiburan, tari sebagai pertunjukan dan tari sebagai pendidikan?
  2. Apakah tempat pertunjukan mempengaruhi fungsi dari tarian itu?Jelaskan!

C. Simbol Dalam Seni Tari

Sebelum berangkat pada pemahaman simbol dalam gerak tari. Menurut kalian apakah yang dimaksud dengan simbol? apakah simbol hanya berupa benda, seperti pedang? Coba kalian sebutkan apa saja yang dapat dijadikan sebagai simbol?

Gerak dalam tari mengandung tenaga atau energi yang dikeluarkan dan mencakup ruang dan waktu. Gerak adalah aktivitas yang dilakukan manusia didalam kehidupan. Artinya manusia dalam mengungkapan segala perasaan marah, kecewa, takut, senang, akan nampak pada perubahan - perubahan yang ditimbulkan melalui gerakan anggota tubuh. Gerak berasal dari pengolahan hasil dari perubahan dan akan melahirkan dua jenis gerak yaitu gerak murni dan gerak maknawi yang dirangkai menjadi sebuah tarian.

Tari adalah ekspresi jiwa, oleh sebab itu didalam tari mengandung maksud-maksud tertentu. Dari maksud yang jelas dan dapat dirasakan oleh manusia. Maksud atau simbol gerak yang dapat dimengerti atau abstrak yang sukar untuk dapat dimengerti tetapi masih tetap dapat dirasakan keindahannya.

Untuk dapat lebih memahami tentang simbol gerak tari. perhatikan dan amatilah gambar dibawah ini. Sebutkan simbol gerak yang terdapat pada gambar itu? Setelah mempelajari simbol gerak dasar, amatilah satu pertunjukan seni tari yang ada disekitar daerahmu lalu identifikasikanlah simbol gerak yang terdapat pada tarian itu? Apakah semua gerak mempunyai simbol gerak? jelaskan alasan kalian?

D. Nilai Estetis Dalam Gerak Tari


Estetis sering dikatakan estetika dan diartikan hanya sebatas indah atau keindahan dan dari keindahan akan muncul suatu nilai seni. Pernahkah kalian mengalami pengalaman dalam melihat pementasan seni tari? apakah yang kalian rasakan saat melihat pementasan seni tari? setiap jawaban pasti tak akan sama sebab keindahan muncul dari pengalaman yang dialami oleh masing-masing individu.

Nilai estetis pada gerak tari adalah kemampuan dari gerak itu untuk menimbulkan suatu pengalaman estetis. Pengalaman estetika dari seorang penari dalam melaksanakan gerak wajib dilihat pula dalam kualiatas gerak yang dilakukannya. Setiap gerak tarian pasti mempunyai nilai estetis tersendiri yang dapat diuraikan dan dijelaskan secara cermat. Jadi apa itu estetis? Hal yang perlu dipahami dalam mengamati karya tari adalah adanya faktor subjektif dan objektif. Benda itu sangat estetis sebab adanya sifat yang melekat pada benda dan tidak terkait dengan orang yang mengamati. Selain itu juga dikatakan bahwa munculnya estetis itu sebab adanya tanggapan perasaan dari pengamat. Jadi, estetis itu ada sebab proses hubungan antara benda (karya tari) dan alam pikiran orang yang mengamati.

Pengertian, Fungsi, Simbol, dan Nilai Estetis Seni Tari
Tari Saman dari Aceh
Masing-masing gerak setiap daerah mempunyai keunikannya tersendiri yang tidak bisa terlepas dari pengaruh kebudayaan yang ada pada daerah itu sendiri. Genre dalam suatu daerah juga mempunyai pengaruh besar dalam menilai nilai estetis suatu gerak tari. Jenis tari berdasar penyajiannya terbagi menjadi dua yaitu tari tradisional dan kreasi baru. Tari tradisional terbagi lagi menjadi tiga yaitu tari primitif, tari rakyat dan tari klasik. Mengapa pada tari Bali mempunyai ciri khas pada mata yang melotot ( dalam istilah Balinya adalah Nuding) sedangkan pada tari Jawa gerak mata mengarah kebawah. Begitu pula pada tari saman dari Aceh yang mempunyai ciri khas kecepatan dalam menggerakkan tangan sedangkan pada tari pakarena dari Sulawesi gerak tangannya sangat lembut dan mengalir? Diskusikan bersama dengan teman-teman kalian dan berikan alasannya?

Tari Gambyong dari Jawa tengah Tari Gitek dari Betawi Setelah mempelajari nilai estetis pada gerak tari, jelaskan nilai estetika gerak pada tari primitif, tari rakyat dan tari klasik? Mengapa gerak pada tari mempunyai nilai estetika yang berbeda-beda?

E. Praktik Gerak Dasar Tari Sesuai Hitungan

Melakukan gerak tari dengan menggunakan hitungan akan lebih mengetahui bagaimana teknik dan proses dalam melakukannya. Dalam prosesnya melaksanakan gerak tari dapat dilakukan dengan perorangan, berpasangan atau berkelompok.

Sekarang, cobalah kita melaksanakan salah satu gerak burung terbang dengan hitungan 2 x 8, dengan tempo lambat dan lakukan kembali gerakan itu dengan tempo cepat. Apakah ada perbedaan dari gerak yang kalian lakukan? Berikan pendapat kalian?

Gerakan badan pada tari, diantaranya sebagai berikut. Hoyog, yaitu gerakan badan dicondongkan ke samping kanan atau kiri. Engkyek, yaitu gerakan badan dicondongkan ke kiri atau ke kanan, dengan sikap tangan lurus ke samping. Polatan, yaitu gerakan arah pandangan. Oklak, yaitu menggerakkan pundak ke depan dan belakang. Entrag, yaitu menghentakkan badan ke bawah berkali-kali, seolah-olah badan mengeper.

Gerak kepala dalam tari jawa yaitu pacak gulu, gebesan, gileg, gelieur, anggukan dan gelengan kepala tengok kanan dan kiri Gerakan kaki Debeg, yaitu menghentakkan ujung telapak kaki. Kengser, yaitu bergerak ke kiri atau ke kanan dengan menggerakkan kedua telapak kaki. Srisig, yaitu lari kecil dengan berjinjit. Trecet, yaitu telapak kaki jinjit bergerak ke kiri dan ke kanan. Tunjak tancep, yaitu sikap berdiri diam. Gerakan tangan Malangkerik, yaitu gerakan posisi tangan berkacak pinggang. Menthang, yaitu gerakan meluruskan tangan ke samping. Nggrodha, yaitu gerakan siku di tekuk. Panggel, yaitu mengadu pangkal pergelangan tangan

Setelah kalian belajar dan merangkai serta melaksanakan gerak tari, jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan Ya atau Tidak.
  1. Saya berusaha belajar ragam gerak dasar tari dengan sungguh-sungguh
  2. Saya berusaha belajar gerak tari daerah lain dengan sungguh-sungguh
  3. Saya mengikuti pembelajaran ragam gerak tari dengan tanggung jawab
  4. Saya mengerjakan tugas yang diberikan guru tepat waktu
  5. Saya mengajukan pertanyaan jika ada yang tidak dipahami
  6. Saya berperan aktif dalam kelompok
  7. Saya menyerahkan tugas tepat waktu
  8. Saya menghargai perbedaan gerak yang terkandung di dalam tari tradisional yang lain


Rangkuman

Setiap tari mempunyai ragam gerak dasar yang dirangkai menjadi sebuah tarian. Gerak dasar tari terdiri dari unsur gerak kepala, tangan, badan atau kaki. Gerak dan sikap yang dilakukan dengan teknik yang tepat akan melahirkan rasa dalam melakukannya. Teknik dalam melaksanakan gerak yang tepat akan mempengaruhi kesatuan struktur gerak yang dibuatnya.

Setiap tarian mempunyai simbol dan jenis ragam gerak dasar untuk menjadikan ciri khas gerak pada tarian itu. Sehingga tarian itu mempunyai nilai estetis tinggi untuk dapat dinikmati oleh penonton.

Refleksi

Ragam gerak dasar yang berbeda antara tarian satu dengan yang lainnya akan menjadi ciri khas tersendiri, menghargai perbedaan itu dan mensyukurinya bahwa Tuhan Yang Maha Esa telah menciptakan suku dan bangsa yang berbeda-beda.

Keanekaragaman ragam gerak dasar tari adalah rahmat Tuhan dan adalah kenyataan maka perlu dihargai dan disyukuri keberadaannya. Tuhan menciptakan manusia dari berbagai macam suku dan bangsa. Gerak berawal dari gerak-gerak tari primitif, gerak klasik dan gerak rakyat. Dari perbedaan gerak tari itu maka terlahir tarian yang mempunyai ciri khas gerak tertentu.

Tari telah menjadi bagian dari kehidupan seorang seniman tari. Dengan menari seorang penari dapat mengekspresikan jiwanya melalui gerak tari yang mempunyai nilai estetika tinggi. Gerak dasar tari yang mempunyai simbol atau makna dalam tarian itu akan mempunyai nilai estetis tersendiri. Melaluui gerak seorang penari dapat berkomunikasi dengan penikmatnya, dan sebab gerak seseorang dapat berekpresi dengan terus mengembangkan gerak itu menjadi lebih gerak yang baru.