Friday, February 27, 2015

Artikel ini membahas tentang Pengertian Menggambar Perspektif. Semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Pengertian Menggambar Perspektif


Perspektif berasal dari kata "to spect" yang berarti memandang, mengawasi. Dalam bahasa Itali disebut "Prospettiva" yang berarti gambar pandangan.
Gambar perspektif adalah gambar sesuai kesan pandangan mata. Jadi menggambar perspektif merupakan menggambar sesuai kesan pandangan mata.

POSISI SUDUT PANDANG
Sudut pandang tinggi, yaitu posisi melihat dari tempat yang lebih tinggi dari obyek. Jadi, letak garis horizon berada pada garis itu, bisa di bagian kiri, tengah, atau kanan. Bahkan bisa juga ditelakkan di luar bidang gambar. Setiap objek yang digambar, garisnya bersumber dari titik lenyap.

Sudut pandang normal yaitu . Dengan demikian, bagian atas dan bagian bawah nya terlihat seimbang. Letak garis horizon tepat di tengah-tengah bidang dan titik hilang bisa diletakkan di mana saja pada garis itu. Semua objek yang digambar garisnya berasal dari satu titik hilang

Sudut pandang rendah  yaitu posisi melihat dari tempat yang lebih rendah.dari obyek. Pada sudut pandang ini, seolah-olah mata kita dalam posisi tiarap dan melihat kedepan sehingga penampakan objek bagian atas akan lebih domain. Letak Garis horizon di bagian bawah bidang gambar dan letak titik hilang pada garis horizon. Titik hilang ini dijadikan pusat untuk menarik garis dalam menggambarkan setiap objek benda.

Pengertian Menggambar PerspektifBerdasarkan hasil penglihatan perspektif dibagi atas dua macam, yaitu (1) Perspektif Areal : Penggambaran perspektif yang berdasar penglihatan, dengan bentuk-bentuk garis batas suatu benda yang dekat dengan mata berbentuk lebih jelas sedangkan yang jauh semakin kabur, dan (2) Perspektif Linear : Penggambaran perspektif yang cara pembuatannya menggunakan bantuan titik lenyap dan garis-garis yang memusat ke titik lenyap itu.

Menentukan Sudut Pandang dan Titik Mata

Kadang kita menemui gambar perspektif yang terlihat tidak seimbang atau beberapa furniturnya terpotong. Permasalahan ini dapat di atasi dengan cara:

  • Garis Horison dapat diturunkan atau dinaikkan sehingga bagian objek dapat terjangkau oleh sudut pandang pengamat.
  • Kedudukan pengamat dimundurkan lebih jauh dari bidang gambar sehingga seluruh bagian objek dapat terjangkau oleh sudut pandang pengamat.


Untuk menentukan titik mata dapat dengan cara menentukan terlebih dahulu bagian ruang yang akan ditampilkan secara maksimal. Pada perspektif satu titik, bila bagian ruang yang akan ditampilkan merupakan bagian kanan, maka titik mata cenderung berada di sebelah kiri menjauhi garis normal dan bagian kanan ruang pada gambar. Cara ini berlaku untuk bagian ruang lainnya. Sedangkan pada perspektif dua titik, bila bagian ruang yang akan ditampilkan merupakan bagian kanan, maka titik mata sebelah kiri akan menjauhi dan titik mata kanan akan mendekati bagian kanan ruang pada gambar.





Artikel ini membahas tentang Pengertian Pameran dan Pagelaran. Semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Pengertian Pameran dan Pagelaran

1. Pengertian Pameran

Pameran merupakan kegiatan untuk memperkenalkan atau menunjukan hasil karya seni rupa atau hasil produksi kepada masyarakat luas. Pameran adalah cara untuk melakukan komunikasi antara pencipta karya dan penikmat karya seni rupa.

Pameran bersifat Statis/diam  :  Pameran lukisan, pameran patung, pameran bunga.
Pengertian Pameran lebih lengkap dapat dibaca di artikel ini.


2. Pengertian Pergelaran

Pergelaran/Pementasan merupakan kegiatan untuk memperkenalkan atau menunjukan hasil karya seni  musik, tari, teater/drama dan lainnya kepada masyarakat luas. Pergelaran adalah cara untuk melakukan komunikasi antara pencipta karya dan penikmat karya .


Pergelaran Teater secara umum, adalah proses komunikasi atau peristiwa interaksi antara karya seni dengan penontonya yang dibangun oleh suatu sistem pengelolaan, yakni manajemen seni pertunjukan. Manajemen Seni Pertunjukan dapat dipahami sebagai serangkaian tindakan yang dilakukan seorang pengelola seni (pimpinan produksi) dalam memberdayakan sumber-sumber (potensi) yang ada berdasarakan fungsi- fungsi manajemen (POAC) secara efektif dan efisien guna mencapai tujuan seni.

Tujuan seni di dalam manajemen seni pertunjukan, termasuk di dalamnya Teater adalah guna mencapai kualitas karya seni yang bermutu dan menjaga kesejahteraan beberapa awak pendukung pergelaran di dalamnya. Dalam hal ini, kualitas karya seni ditanggungjawabi oleh seorang Manager Artistik, dikenal dengan Sutradara. Dan kesejahteraan bagi beberapa awak pendukungnya dipercayakan kepada seseorang yang mengetahui secara ilmu dan praktik sebagai Puncak Kreativitas pengelolaan pergelaran, yakni Manager Produksi Pergelaran Teater atau Pimpinan Produksi.

Pergelaran Teater adalah puncak dari sebuah proses latihan para kreator seni dan proses kreativitas seni dari seorang sutradara. Melalui proses seni inilah Teater dapat terwujud sebagai karya seni yang perlu dikomunikasikan kepada penontonnya. Oleh sebab itu, komunikasi seni menjadi penting dan tidak terpisahkan dengan proses yang dilakukan sebagai bagian dari evaluasi dan penghargaan yang pantas diberikan kepada para kreatornya. Pergelaran Teater dalam prosesnya mulai dari perencanaan, persiapan hingga dapat dikatakan suatu tantangan dan peluang para kreator seni di dalamnya untuk bahu membahu, bekerjasama menciptakan karya seni yang tidak sedikit pengorbanannya.

Tantangan yang dihadapi oleh para kreator seni adalah proses latihan yang mereka lakukan untuk menyiapkan materi pergelaran Teater minimal tiga bulan berkonsetrasi melatih diri dengan penuh tanggungjawab pada peran masing-masing. Pada kenyataannya dengan proses latihan yang cukup memakan waktu,tidak jarang terjadi pergantian atau ke luar masuk para pemain. Hal ini, terjadi pada kreator seni yang belum mempunyai mental berkesenian. Karenanya, apakah proses penyiapan materi Teater di sekolah perlu dilakukan seperti proses berkesenian di luar sekolah, yakni minimal tiga bulan ? Jawabannya, bisa ya, bisa lebih dari pada tiga bulan dalam proses penyiapan materi Teater. Proses latihan berkesenian dapat di lakukan dengan cepat ataur lambat dalam pelaksanaan, hal ini sangat bergantung pada kemampuan keterampilan dari para kreator seni pendukungnya. Pemeranan yang memadai, pemilihan naskah yang tepat, ditunjang para penata artistik yang memadai pergelaran Teater di sekolah dapat diselenggarakan dengan efektif dan efisien dengan cara memadatkan jadwal latihan serta ditunjang kemampuan dana yang memadai.

Peluang yang memungkinkan bagi kreator seni dalam pergelaran Teater sebagai unjuk kemampuan prestasi sekaligus membekali kalian menambah pengalaman berkesenian lebih nyata dan objektif. Dengan demikian kalian tidak sebatas diberikan materi seni tetapi di beri kesempatan dalam berpenampilan di depan publik adalah pembuktian dari hasil tindakan dalam mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan panitia pergelaran. dapat pula dikatakan sebagai tahap pelaksanaan dari fungsi-fungsi manajamen, dalam tahapan: perencanaan, pengorganisasi, penggerakan dan pengawasan pada tujuan yang telah ditetapkan panitia agar terselenggara dengan baik dan optimal.


Pergelaran bersifat Dinamis/bergerak : Pergelaran musik, pergelaran tari, pergelaran busana.

3. Manfaat Pameran atau Pergelaran :
a. Melatih mengapresiasi karya
b. Melatih tanggung jawab
c. Melatih mengevaluasi karya
Pengertian Pameran dan Pagelarand. Membangkitkan motivasi
e. Melatih kegiatan bersama
f. Melatih mandiri

4. Tujuan Pameran atau Pergelaran
a. Menawarkan karya kepada masyarakat
b. Berkomunikasi dengan masyarakat
c. Memberikan Informasi Kepada msyarakat
d. Melatih masyarakat untuk ber- apresiasi

5. Fungsi Pameran atau Pergelaran
a. Sarana Apresiasi
b. Sarana Rekreasi
c. Sarana Edukasi/Pendidikan
d. Sarana ajang prestasi

6. Istilah-Istilah dalam Pameran atau Pergelaran
a. Pameran/Pergelaran
b. Exhibition
c. Eksposisi/Pertunjukan
d. Festival/Perayaan/Pesta
e. Show
f. Bazar/Pameran dan menjual karya

7. Perlengkapan Pameran atau Pergelaran :
a. Karya Seni
b. Dekorasi/tata ruang
c. Meubeler
d. Sound system
e. Tempat/Ruang
f. Buku Katalog
g. Tempat Display
h. Buku Tamu dan buku Kesan/Pesan

8. Perencanaan Pameran atau Pergelaran :
a. Pembuatan denah ruang
b. Penataan karya/penampilan
c. Seleksi karya
d. Penata Ruang/tempat

9. Cara-Cara  Melakukan Apresiasi merupakan :
a. Mengamati
b. Menghayati
c. Memahami
d. Menanggapi
e. Menilai
f. Implementasi/Penerapan

10. Tempat Pameran atau Pergelaran ada 2 yaitu :
a. Pergelaran Tertutup : Tempat pergelaran di dalam gedung
b. Pergelaran Terbuka : Tempat pergelaran di luar gedung





Saturday, February 14, 2015

Artikel ini membahas tentang Seni Tari Sebagai Media Pengembangan Bakat. Semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Seni Tari Sebagai Media Pengembangan Bakat


Seni adalah istilah yang identik dengan keindahan, kesenangan, dan rekreasi. Saat kita mendengar  kata seni maka yang mungkin muncul dalam benak kita merupakan suatu karya seni entah berupa benda, musik, bangunan, lukisan atau benda-benda indah lainnya yang dihasilkan oleh seorang seniman yang tentunya sangat berbakat dan mempunyai kreatifitas tinggi.

Tari sebagai media mengembangkan bakat adalah salah satu peran tari selain sebagai media ekspresi, media komunikasi dan media berpikir kreatif. Umumnya orang berpendapat bahwa bakat dibawa anak sejak lahir, namun bakat yang terpupuk sejak lahir akan lebih baik perkembangannya, sebaliknya walaupun berbakat tetapi tidak dipupuk maka pudarlah bakat itu. Pendidikan seni tari yang ideal memberikan kesempatan kepada anak yang berbakat untuk memelihara dan mengembangkan bakatnya sejak awal masa sekolah.

Bakat merupakan kemampuan alamiah untuk mendapat pengetahuan dan keterampilan, baik yang bersifat umum atau yang bersifat khusus. Bakat umum apabila kemampuan yang berupa potensi itu bersifat umum, misalnya bakat intelektual umum, sedangkan bakat khusus apabila kemampuan yang berupa potensi itu bersifat khusus, misalnya bakat akademik, bakat kinestetik, bakat seni, atau bakat sosial.  Berkaitan dengan adanya perbedaan individual, setiap anak mempunyai bakat yang berbeda-beda.
Seni Tari Sebagai Media Pengembangan Bakat
Melalui seni tari kita dapat mengetahui bakat anak dalam bidang itu. Kemudian kita juga dapat mengembangkan bakat tari itu sehingga dapat meningkatkan kualitas diri anak itu. Dengan mempelajari seni tari, para murid dapat mengembangkan bakat dan minatnya untuk memilih karirnya di masa mendatang. Tidak terbatas menjadi seorang seniman tari, tetapi bidang pekerjaan lain yang terkait.

Kesenian memberikan ruang yang luas kepada seseorang untuk berimajinasi kreatif dan mengembangkan kreatifitas melalui proses kesenian khususnya seni tari. Di dalam penelitian yang dilakukan pakar seni, dibuktikan bahwa murid yang mempelajari kesenian pada biasanya memperlihatkan orisinalitas dan kreatifitas dalam hal lain. Dengan adanya latihan tari, kita dapat mengukur tingkat respon anak, sensifitas anak hingga minat anak. Biasanya dapat kita lihat pada raut muka, tatap mata dan perilaku anak saat latihan ini berlangsung. Akan tetapi penelitian ini akan memerlukan waktu tertentu sebab ekspresi anak bersifat temporal, tidak menentu, tergantung pada kondisi emosionalnya.




Artikel ini membahas tentang Seni Tari Sebagai Media Berpikir Kreatif. Semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Seni Tari Sebagai Media Berpikir Kreatif

Tari sebagai media berpikir kreatif adalah salah satu peran tari selain sebagai media ekspresi, media komunikasi dan media mengembangkan bakat. Kecerdasan manusia meliputi tujuh aspek, yaitu logika, bahasa, visual, kinestik, musik, intrapersonal, dan interpersonal. Ketujuh aspek itu perlu memperoleh perhatian yang seimbang dalam pendidikan sehingga murid akan bisa lebih berpikir kreatif. Seni tari, sebagai salah satu pendidikan seni di sekolah, dapat mengembangkan kemampuan dalam aspek kinestik. Seni tari bisa menjadi sebuah media untuk bisa berpikir kreatif.

Era global yang didominasi oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan individu-individu yang kreatif dan produktif. Oleh sebab itu, kreatifitas perlu ditumbuhkambangkan khususnya pada anak-anak usia dini, sebab pada usia itu berlangsung periode puncak perkembangan kreatifitas. Pada saat inilah krastivitas secara alamiah muncul sangat tinggi, tercermin dalam perilaku anak yang selalu ingin tahu dan senang bertanya serta mempunyai daya khayal tinggi.

Secara umum sudah banyak dipahami bahwa dalam rangka mengembangkan kreatifitas, peran pendidik sangatlah penting. Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan kreatifitas, baik dirumah atau disekolah. Upaya itu mangacu pada hakekat kretivitas, peranan pendidik dalam pengembangan kreatifitas, dan upaya peningkatan kreatifitas anak pada usia dini. Anak yang kreatif dan cerdas tidak  akan jadi dengan sendirinya, melainkan harus diarahkan. Salah satunya dengan memberi kegiatan yang dapat mengembangkan kreatifitas anak. Disisi lain kreatifitas yang mensyaratkan kebebasan tak akan berkembang apabila si anak tidak diberi kesempatan. Kesempatan tanpa bataspun dapat berakibat buruk dan justru tidak menunjang kreatifitas, sebaliknya disiplin yang kaku tanpa toleransi akan berpotensi mematikan kreatifitas. Oleh sebab itu, kebebasan dan disiplin harus dimainkan secara serasi agar dapat mengembangkan potensi secara optimal.
Seni Tari Sebagai Media Berpikir Kreatif

Untuk menjadikan bibit unggul yang berkualitas suasana kasih sayang dan stimuli mental diperlukan untuk merangsang daya kreatifitas anak. Rangsangan itu bisa dengan musik, mengunjungi pameran, menonton pertunjukan wayang, olah raga dan lain-lain. Aktifitas berkesenian baik di ruangan kelas ataupun di luar kelas, pada dasarnya dapat merangsang perkembangan jiwa anak. Kelancaran dalam mengungkapkan perasaan dalam bentuk seni yang tidak harus mementingkan hasil sebagai tujuan, dapat mendorong fungsi-fungsi jiwa anak berkembang aktif. Fungsi jiwa anak seperti merasakan, berfantasi, berfikir, berkehendak  dan kemampuan motorik dalam merespon yang ada, akan terbina dan melatih kepekaan. Ketajaman inderawi yang diasah melalui kegiatan seni yang mengedepankan proses, pada gilirannya dapat membantu jiwa anak tanggap pada lingkungan sekitarnya. Sebab aspek emosional yang dominan dalam kegiatan seni akan tersalurkan secara wajar. Keragaman rangsang itu dapat memberi kontak langsung dengan potensi unggul yang dimiliki anak pada usia dini guna meningkatkan kecerdasan serta krativitas. Imajinasi merupakan kata kunci kreatifitas. Tanpa imajinasi kreatifitas tak akan berkembang. Jangan heran, ada banyak penemuan-penemuan ilmiah yang berawal justru dari imajinasi.

Dalam upaya memberdayakan seni tradisi sebagai media pengembangan kreatifitas, selain kesiapan pendidik dan anak didik beberapa hal yang perlu diperhatian adalah, tersedianya sarana penunjang, lingkungan yang mendukung, memberi kesempatan bebas, keterbukaan, dan penghargaan. Jika berbicara seni tradisi akan berhadapan dengan dua substansi yaitu benuk fisik dan non fisik. Bentuk fisik merupakan yang terlihat oleh indera kita seperti, geraknya, komposisi ruangnya, busananya, rias busananya, dsb. Sedangkan bentuk non fisik merupakan isi, spirit, ceritera, rasa, kesan yang muncul dari peristiwa seni. Keduanya adalah sumber yang tak akan habis sebagai bahan pengembangan kreatifitas.

Setting budaya jawa yang masih ada sekarang sebetulnya mempunyai kekayaan, keragaman seni tradisi yang luar biasa banyaknya, yang semuanya dapat digunakan sebagai bahan dalam mengembangkan kreatifitas. Tradisi kita mempunyai kekuatan yang besar sebab berada dalam suatu lingkungan, dimana setting kulturnya jelas, yaitu kebudayaan “jawa”. Dan apabila kita membicarakan tradisi, jangan terimajinasi dengan pemikiran  “tradisi” itu kuno, kolot, ketinggalan jaman, dan sebagainya. Tradisi akan selalu berjalan, berkembang sesuai dengan jamannya. Oleh sebab itu nilai-nilai yang terkandung di dalam seni, selalumacam -macam pula bentuk, gaya, corak, dan kualitas serta fungsinya. Permasalahannya adalah; masihkah kita memahami seni tradisi kita, jangan-jangan kita hidup dalam setting budaya jawa yang mempunyai seni tradisi banyak, tetapi kurang mengkaji substansinya, sehingga tumpuannya hanya pada ragangane saja. Karena kekurang pahaman kita, lalu menjadi gampang berubah moyak-mayik. Kalau kita ingin sesuatu yang esensial, kita harus mau mancari betul atau mengakaji sedalam-dalamnya. Sebagai contoh; kalau kita akan mengembangkan seni tari tradisi jawa sebagai sumber kreatifitas, idealnya kita harus mengaji esensi tari sedalam-dalamnya, “sastra gendinge” jangan hanya dari sisi geraknya saja. Sebab kalau hanya dari sisi gerak/jogedanya saja ragangannya tipis sekali. Gerak dalam tari tradisi gaya Sala  itu terbatas sekali.

Seni tradisi secara mendasar mempunyai vokabuler-vokabuler yang lalu menyatu dalam keutuhan yang mapan, dan digunakan secara terus menerus dari generasi kegenerasi. Keragaman vokabuler inilah kekayaan tidak ternilai sebagai bahan yang dapat secara leluasa dikembangkan sesuai dengan penafsiran dan kreatifitas masing-masing. Seni tari apabila dicermati terdiri dari komponen-komponen, yang masing-masing komponen mempunyai vokabuler yang berbeda. Diantara komponen itu al: strukturnya, pendukungnya, geraknya, kostumnya, iringannya, propertinya, tata pentasnya, pola lantainya, fungsinya, latar belakang, ceritanya, dll. Dari komponen geraknya, tari tradisi jawa mempunyai vokabuler seperti; tanjak, lumaksana, srisik, besud, ulap-ulap, sabetan, nikel warti, sembahan dan masih banyak lagi. Demikian juga rias busana tari tradisi juga mempunyai vokabuler, seperti paesan, dodot, supit urang, panjen, dll. Beruntung sekali, bahwa gerak yang ada dalam seni tradisi jawa tidak ada pembedaan atau klasifikasi berdasar umur, dengan demikian membuat ruang gerak kreatif untuk keperluan kreatifitas anak-anak sangat leluasa.

Dalam laku kreatif, sebenarnya apa saja dapat digunakan sebagai sumber kreasi, termasuk seni tradisi. Namun yang perlu diperhatikan bahwa vokabuler atau bahan yang telah ada dalam tradisi merupakan  sebagai sarana, sarana untuk kebutuhan ungkapan atau kepentingan tertentu, bukan sebagai tujuan. Apabila kita dapat memahami hal ini, maka perlakuan kita dalam mengolah bahan adalah  wilayah kerja yang sangat leluasa, penuh interpretasi, serta selalu terformat dalam bingkai nilai yang aktual. Pengertian kreatifitas dalam pembelajaran seni itu sebenarnya tebanya sangat luas dan mempunyai modus, sistem, kerja, achievement, out put berbeda-beda. Keberhasilan sebuah pengembangan kreatifitas akan saling berkaitan antara individu dan komunitasnya.




Artikel ini membahas tentang Fungsi Seni Tari Sebagai Media Komunikasi. Semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Fungsi Seni Tari Sebagai Media Komunikasi

Tari sebagai media media komunikasi adalah salah satu peran tari selain sebagai media ekspresimedia berpikir kreatif dan media mengembangkan bakat. Seni merupakan alat komunikasi yang halus sebab simbolis yang terkandung dalam karya seni yang bersangkutan sehingga dalam seni dituntut lebih banyak persyaratan untuk dapat mengungkapkan misi yang akan di sampaikan.

Pengertian apresiasi tidak terbatas pada kemampuan mengungkap misi, baik yang menyampaikan  atau yang menerima misi (pemirsa atau pemerhati seni). Pada prinsipnya, apresiasi seni adalah aktivitas mental yang mencakup penghargaan yang bersifat subjektif, namun bagi kritikus seni penilaian sebuah karya tetap akan menjurus pada objektivitas.

Tarian daerah biasanya diciptakan untuk kepentingan sosial. Tari ini digunakan sebagai sarana pergaulan, komunikasi dan hiburan. Tarian ini sering ditampilkan dalam suatu perayaan. Dengan fungsi tari menjadi dekat rakyat kecil sehingga tarian untuk sosial kebanyakan digunakan tarian rakyat.

Fungsi Seni Tari Sebagai Media Komunikasi

Apabila disimak secara khusus, tari membuat seseorang tergerak untu mengikuti irama tari, gerak tari, atau unjuk kemampuan, dan kemauan kepada umum secara jelas. Tari memberikan penghayatan rasa, empati, simpati, dan kepuasan tersendiri terutama bagi pendukungnya. Tari pada kenyataan sesungguhnya adalah penampilan gerak tubuh, oleh sebab itu tubuh sebagai media ungkap sangat penting perannya bagi tari. Gerakan tubuh dapat dinkmati sebagai bagian dari komunikasi bahasa tubuh. Dengan itu tubuh berfungsi menjadi bahasa tari untuk mendapat makna gerak.

Tari adalah salah satu cabang seni yang memperoleh perhatian besar di masyarakat. Ibarat bahasa gerak, hal itu menjadi alat ekspresi manusia dalam karya seni. Sebagai sarana atau media komunikasi yang universal, tari menempatkan diri pada posisi yang dapat dinikmati oleh siapa saja dan kapan saja. Peranan tari sangat penting dalam kehidupan manusia. Berbagai acara yang ada dalam kehidupan manusia memnfaatkan tarian untuk mendukung prosesi acara sesuai kepentingannya. Masyarakat membutuhkannya bukan saja sebagai kepuasan estetis saja, melainkan juga untuk keperluan upacara agama dan adat.

Penampilan suatu seni tari menyampaikan pesan yang ada dalam setiap gerakannya. Contoh seni tari yang digunakan sebagai media komunikasi yaitu Tari Pakarena dari Sulawesi Selatan yang digunakan untuk mengucapkan selamat datang kepada para tamu. Contoh lainnya merupakan Tari Topeg Cirebonan, tari ini mengandung simbol-simbol yang melambangkan berbagai aspek kehidupan seperti nilai kepemimpinan, kebijaksanaan, cinta bahkan angkara murka serta menggambarkan perjalanan hidup manusia sejak dilahirkan hingga menginjak dewasa. Dalam hubungan ini maka seni Tari Topeng ini dapat digunakan sebagai media komunikasi yang sangat positif sekali.





Artikel ini membahas tentang Seni Tari Sebagai Media Ekspresi. Semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Seni Tari Sebagai Media Ekspresi

Tari sebagai media ekspresi adalah salah satu peran tari selain sebagai media komunikasimedia berpikir kreatif dan media mengembangkan bakat. Tari merupakan ekspresi jiwa manusia yang diubah oleh imajinasi dan diberi bentuk melalui media gerak sehingga menjadi bentuk gerak yang simbolisasinya sebagai ungkapan si pencipta tari. Masalah ungkapan tari sebagai ekspresi subyektif juga dikemukakan oleh La Meri, di sini ungkapan dimaksud lebih diubah proporsinya menjadi bentuk obyektif. Di sisi lain diungkapkan oleh Soedarsono, tari merupakan ekspresi jiwa manusia yang diungkapkan melalui gerak ritmis yang indah. Selanjutnya, pola dan struktur dari alur gerakan lebih berirama. Porsi alur gerak anggota tubuh diselaraskan dengan bunyi musik atau gamelan. Di mana bunyi gamelan diatur oleh irama yang sesuai dengan maksud dan tujuan tari.

Fungsi seni sebagai media ekspresi adalah fungsi yang utama dari kehadirannya. Pernah dalam suatu masa, fungsi ini adalah fungsi yang sangat ditonjolkan, bahkan mutlak, tidak dapat dicampuri oleh fungsi-fungsi yang lain. Seakan-akan adalah hal yang tabu bilamana seni itu dicampuri dengan soal dan masalah lain.
Seni Tari Sebagai Media Ekspresi

Seni sebagai satu-satunya media untuk mengekspresikan isi hati seniman, agar dapat diterima oleh masyarakat penikmat seni tari, sejak kelahirannya yang pertama hingga sekarang mengalami perkembangan. Dari mula-mula yang primitif hingga sekarang seni modern. Namun fungsi utama ini tetap tidak pernah berubah, semakin terampik dan berbakat seorang seniman menggunakan seni untuk mengekspresikan isi hatinya, semakin tinggi dan bermutu seni yang dia hasilkan dan semakin besar pula nama seniman itu. banyak nama-nama besar, baik dalam bidang seni rupa, musik, tari, karawitan, pedalangan atau sastra, yang adalah seniman dengan ketrampilan dan bakatnya dalam mengekspresikan jiwanya melalui seni. Jadi kebesaran para seniman itu selalu terletak pada fungsi seni.

Manusia mengenal berbagai media ekspresi. media ekspresi yang mengandung unsur artistik itu merupakan seni sedangkan yang tidak mengandung dan mengedepankan unsur artistik merupakan non seni. Berbagai media ekspresi itu pada dasarnya merupakan isyarat. Isyarat itu dapat menggunakan badan atau diri manusia itu sendiri dan isyarat yang menggunakan peralatan.

Adapun isyarat-isyarat yang menggunakan badan manusia itu sendiri misalnya dengan mengeluarkan suara seperti bersiul, berteriak, berkata. Dengan menggerakkan badan seperti melambai, menggeleng, menginjak-injakkan kaki dan menari. Isyarat yang menggunakan media misalnya memukul-mukul sesuatu, meniup sesuatu dan sebagainya.

Apabila sarana-sarana ekspresi itu disertai unsur artistik maka terjadilah seni, misalnya berkata yang disertai unsur artistik akan menjadi sastra, baik secara tertulis atau diucapkan. Berbunyi yang disertai dengan unsur artistik akan melahirkan musik dan nyanyi. Gerakan yang disertai unsur artistik akan melahirkan tari.

Demikianlah seni tari sebagai media ekspresi yang telah membawa seniman ke puncak kebesarannya. Sebaliknya, berkat seniman yang memanfaatkan seni tari untuk media ekspresinya, maka seni tari menjadi meningkat makin maju dan bermutu tinggi.




Artikel ini membahas tentang Perkembangan Tari di Nusantara. Semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Perkembangan Tari di Nusantara

Tari merupakan gerak tubuh secara berirama yang dilakukan di tempat dan waktu tertentu untuk keperluan pergaulan, mengungkapkan perasaan, maksud dan pikiran. Bunyi-bunyian yang disebut  musik pengiring tari mengatur gerakan penari dan memperkuat maksud yang ini disampaikan. Gerakan tari berbeda dari gerakan sehari-hari seperti berlari, berjalan atau senam.

Apresiasi seni adalah aktivitas mental yang mencakup penghargaan yang bersifat subjektif. Seni tari merupakan gerak yang mengandung makna simbol, yaitu gerak yang mengalami proses tertentu atau telah mengalami perubahan dari bentuk gerakan alami Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa karya seni tari adalah gerakan-gerakan yang telah mengalami stimulasi dan ritmis.

Tari Nusantara sangat banyak dan beragam. Setiap tarian mempunyai cirri yang mencerminkan kekhasan daerah masing-masing. Ciri itu bisa dilihat dari ragam gerak, tat arias, tata busana. Perkembangan tari Nusantara daerah setempat berkaitan erat dengan sejarah perkembangan kerajaan yang ada di Indonesia. Hal ini terjadi sebab tari pada mulanya tumbuh dalam lingkungan keraton. Raja dan penghuni keraton biasanya menyaksikan tarian sebagai pengisi hiburan. Berbagai bentuk tarian diciptakan oleh para koreografer istana yang mendapatkan fasilitas khusus untuk tinggal dan berekspresi di lingkungan istana, sehingga keberadaan tari terus berkembang mengikuti perkembangan zaman.

Para pencipta tari mempunyai kebebesan untuk menciptakan gerak sesuai dengan keinginan masing-masing. Pada masa sekarang, banyak bermunculan sanggar-sanggar tari yang msih mengkhususkan diri untuk mengajarkan tarian tradisional. Keberadaan sanggar-sanggar tari ini jelas membantu bagi pelestarian tari tradisional.

Perkembangan Tari di Nusantara

Pada zaman kerajaan, tarian diciptakan untuk melengkapi upacara sakral kerajaan. Pengelompokanan tari kreasi daerah dapat ditelusuri berdasar sejarah atau periodisasi perkembangannya, yaitu sebagai berikut.

a) Sejarah Perkembangan Tari Tradisi

Perkembangan Tari di NusantaraTari Topeng dicatat sebagai cikal bakal tari tradisi di Jawa. Tari Topeng diperkirakan mengalami puncak perkembangan pada zaman Kerajaan Majapahit. Dalam Kitab Negarakertagama, dijelaskan adanya atraksi besar-besaran tari dan nyanyian di Kerajaan Majapahit. Dijelaskan pula adanya tokoh-tokoh punakawan  dan beberapa penari menggunakan tutup kepala (irah-irahan) yang disebut tekes. Sampai sekarang, tekes digunakan pada semua Tari Tradisi Topeng, terutama Tari Topeng Panji.

Selanjutnya, Tari Topeng juga memperoleh perhatian dari Kerajaan Mataram tetapi, pada akhirnya tarian ini tersisihkan oleh Tari Bedhaya dan Tari Srimpi yang sekarang menjadi simbol keagungan dan budaya Kerajaan Mataram.

Pada tahun 1918, Pangeran Tedjo Kusuma dan Pangeran Suryadiningrat mendirikan sekolah yang bernama Sekolah Tari Krida Beksa Birama di Yogyakarta. Kreator terkemuka yang berasal dari sekolah ini diantaranya, Wisnoe Wardhana dan Bagong Kussudiardjo.

Pada tahun 1961 muncul seni tari Jawa baru yang disebut Sendratari Ballet Ramayana, istilah ini dibuat oleh G.P.H Jatikusumo. Dari sini, muncullah kreator tari diantaranya, Sardono W. Kusumo, Sal Mugiyanto, dan Retno Maruti.

Di Bali sekitar 1930-an, I Ketut Mario menciptakan gaya kebyar dalam karawitan dan Tari Bali.
Terdapat dua seniman legendaris di Priangan  yang mengembangkan Tari Kupu-Kupu dan Merak, yaitu Martakusuma dan Raden Tjetje Soemantri. Selanjutnya tari ini mengilhamkan terciptanya Tari Merak gaya Bagong Kussudiardjo dan S. Maridi (Surakarta). Tahun 1975-1980, Gugum Gumbira menciptakan Tari Ketuk Tilu menjadi Tari Jaipongan.

Tokoh lainnya yang menciptakan tari kreasi diantaranya Suprapto Suryodarmono dan Sardono W. Kusumo yang menggunakan spirit . Di Yogyakarta muncul Ben Suharto (alm) yang menggunakan konsep Mandala. Di Solo, Gendhon Humardani melakukan perubahan besar-besaran pada seni tari. Contohnya, pemadatan koreografi Tari Gambyong, Adaniggar, Bedhaya, Srimpi, dll.

b) Sejarah Perkembangan Tari Kreasi Baru

Diawali oleh I Ketut Mario tahun 1930-an, Bagong Kussudiardjo dan Wisnoe Wardhana tahun 1950-1958. Terdapat juga seniman baru, seperti Sal Murgiyanto, I Wayan Dibya, Gusmiati Suid, Endo Suanda, dan Sardono W. Kusumo.
Awalnya tema diambil dari derakan dasar tari tradisi. Namun, perkembangan selanjutnya tema diambil dari kejadian nyata yang tengah berkembang di masyarakat.

Pembaruan tari di Indonesia terus berkembang, terutama setelah para senior menimba ilmu di Amerika. Karya tari hasil pembaruan mereka, diantaranya Bedhaya Gendheng , dan Lorong karya Bagong Kussudiardjo. Selain itu, Meta Ekologi dan Hutan Plastik karya Sardono W. Kusumo.

c) Sejarah dan Perkembangan Tari Kontemporer

Sejarah perkembangan tari kontemporer dimulai menjelang dasawarsa akhir 70-an. Diperkenalkan oleh individu dan perguruan tinggi, seperti STSI Surakarta, dan ASTI Yogyakarta. Selain itu terdapat event-event yang mendukung perkembangan tari kontemporer.