Saturday, November 29, 2014

Artikel ini membahas tentang Berkarya Kolaboratif pada Proyek Seni. Semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Berkarya Kolaboratif pada Proyek Seni

Pada aktivitas kerja berkarya kolaboratif pada Proyek Seni, siswa harus dapat berkolaborasi untuk menghasilkan karya seni non konvensional, dengan memanfaatkan unsur-unsur rupa, gerak, bunyi, lakon, atau unsur lain dalam kombinasi baru dengan tujuan untuk menghasilkan seni yang sifatnya eksperimental. Diharapkan saat karya seni disajikan kepada pemirsa umum eksistensinya bukanlah karya seni rupa, bukan karya musik, bukan juga karya tari, dan bukan pula karya teater, melainkan karya “seni multimedia” atau “seni alternatif ” yang mengekspresikan sebuah tema tertentu yang telah dipilih sebelumnya.

Pada aktivitas pembelajaran berbasis proyek yang memfokuskan pada kerjasama ini, harus ada gagasan dan ide seni sebagai tantangan kreatif yang memerlukan pengintegrasian beberapa elemen seni (rupa, tari, musik, teater, atau ditambah unsur lain) untuk mengejawantahkan gagasan menjadi suatu seni yang kreatif dan inovatif (pendekatannya adalah prinsip estetika modernisme) atau suatu seni yang berpihak pada teori pluralisme seni (pendekatannya adalah prinsip estetika kontemporer), bila seni bersifat eklektik, parodi, ironi, pastiche, kebermainan, dan merayakan budaya permukaan tanpa mempedulikan kedalaman (maka pendekatannya adalah prinsip estetika posmodern).
Berkarya Kolaboratif pada Proyek Seni
Secara ringkas tugas dari suatu proyek seni dimulai dari penetapan:
  1. Konsep seni (sumber inspirasi, interes bentuk, interes seni, prinsip estetik). Selanjutnya gagasan seni yang disepakati didiskusikan untuk proyek seni yang akan dikerjakan cara kolaborasi. 
  2. Tujuan seni ditetapkan agar semua orang yang terlibat memiliki persepsi yang sama memahami untuk apa seni diciptakan. Misalnya hubungan manusia dengan kepercayaan (religius), hubungan manusia dengan alam (keindahan alam, perusakan hutan, go green, bencana alam, dan lain-lain). Hubungan manusia dengan sesama, misalnya hak asasi manusia, ketidakadilan, kesenjangan sosial, korupsi dan lain-lain, tatkala seni difungsikan untuk membela kepentingan sosial. 
  3. Fungsi seni dapat sangat luas, namun jika kita sederhanakan (pada kerja kolaboratif ini) seni bagi kreator adalah media ekspresi, sedangkan bagi apresiator (publik seni) merupakan sarana mendapatkan pengalaman estetis dan pengalaman menghayati nilai-nilai seni. 
  4. Media seni menggunakan unsur rupa, bunyi, gerak, ruang, peran, lokasi, alam, atau unsur yang dipilih dan ditentukan berdasarkan kepentingannya untuk merealisasikan gagasan seni.
  5. Teknik artistik adalah keterampilan dan langkah-langkah prosedural dalam mengerjakan bahan baku atau media seni, dari awal hingga sampai menjadi suatu karya proyek yang menghasilkan seni alternatif. 
  6. Proses kreasi meliputi tahap persiapan, pengendapan, elaborasi, dan penciptaan. Semua orang yang terlibat harus bekerja sama untuk mewujudkan proyek seni seoptimal mungkin.
  7. Proses penilaian karya seni multimedia atau seni alternatif tentunya membutuhkan pendekatan lain, artinya karya seni alternatif tidak dapat dinilai dengan kriteria seperti yang digunakan pada seni konvensional.
Dalam pelaksanaan proyek seni kolaboratif ini, perlu dibentuk tim kerja yang terdiri dari ketua, sekretaris dan anggota. Misalnya Tim Konsep Seni bertugas mencari, mendapatkan, dan menulis konsep seni yang akan diciptakan. Tim perumus tujuan seni bertanggung jawab dalam menetapkan untuk apa proyek seni ditujukan, misalnya seni instrumentalis (untuk tujuan tertentu), estetis (seni untuk seni), pragmatis (seni untuk kebutuhan fungsional) reflektif (seni sebagai hasil renungan) atau yang lainnya.


Sumber : S.C. Bangun dkk. Buku Seni Budaya SMK/MA/SMA/MAK Kelas IX Semester I Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2014




Friday, November 7, 2014

Artikel ini membahas tentang Merancang Karya Teater dari Naskah Adaptasi. Semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Merancang Karya Teater dari Naskah Adaptasi

Berdasarkan naskah Filipina, karya Marcelino Acana Jr, Noorca “Mentang-mentang dari New York”,  Marendra memindahkan setting peristiwanya ke kampung Jelambar, di wilayah Jakarta Barat. Lakon ini bercerita tentang Bi Atang (seorang janda) dan anak gadisnya, Ikah yang sok kaya. Perabotan rumahnya terdiri dari seperangkat kursi rotan yang sederhana dan sebuah radio besar. Lakon ini sangat terbuka untuk diadaptasi ke semua propinsi di Tanah Air, dengan memindahkan setting peristiwanya ke daerah setempat. Persoalan yang diungkapkan oleh lakon pada naskah itu tidak berjarak dengan persoalan-persoalan di semua Negara berkembang.

1. Membentuk staf produksi

Langkah pertama yang dilakukan oleh pelatih adalah mengumpulkan semua orang yang akan turut mendukung pementasan, lalu membentuk staf produksi, dengan pembagian tugas sebagai berikut:


  1. Memilih dan menentukan orang yang berminat di staf artistik; Pemain, penata musik, penata gerak, penata dekor, penata penata busana, penata rias, dan penata cahaya.
  2. Memilih dan menentukan orang yang berminat di staf managemen; pimpinan produksi, dana dan usaha, keuangan, dokumentasi, konsumsi dan bagian umum.


Merancang Karya Teater dari Naskah AdaptasiSemua orang yang turut mendukung pementasan harus saling bekerjasama dengan baik. Dan untuk memperlancar kerjasama diperlukan pembagian kerja dan batasan yang jelas mengenai wewenang dan kewajibannya masing-masing, sehingga tidak terjadi salah presepsi selama bekerja.

2. Memilih dan menentukan pemain
Setelah membaca dan memahami isi naskah, pelatih menjelaskan alur cerita dan melukiskan dan menentukan pemain yang akan memerankan tokoh-tokoh yang ada di dalam naskah. Caranya bisa dimulai dengan membaca naskah secara bergiliran kemudian ditentukan pemerannya. Atau dengan cara lain, pemain memilih peran yang mereka sukai, kemudian diberi waktu untuk mempresentasikan peran yang telah dipilihnya itu.

3. Menentukan Karakterisasi
Menganalisa tokoh-tokoh yang ada dalam naskah “Mentang-mentang dari New York”. Di dalam kegiatan ini, ada tiga sumber informasi mengenai karakterisasinya, yaitu  (1) dari keterangan yang ada di dalam naskah. (2) ucapan tokoh itu sendiri. dan (3) ucapan tokoh lain tentang tokoh tersebut:

4. Ikah

Keterangan di dalam naskah menyebutkan; - “Ikah muncul, Ia mengenakan gaun mengesankan yang dihiasi kulit binatang

5. Menentukan bloking

Bloking adalah pergerakan atau perpindahan pemain dari satu tempat ke tempat lain, (misalnya, dari duduk dikursi, berjalan untuk membuka pintu dll.). Kelangsungan bloking pemain didasarkan pada nilai-nilai komposisi panggung dengan mempertimbangkan “motif ” atau alasan bergerak.

Ada pun alasan untuk bergerak sumbernya ada dua, Yaitu ; berdasarkan (1) alasan kewajaran dan (2) alasan kejiwaan.
Contoh dari alasan kewajaran: dalam percakapan di ruang tamu, seseorang berujar, “panas betul cuaca siang ini!” kemudian berjalan ke arah jendela dan membukanya. Atau berjalan lebih dahulu ke arah jendela dan membukanya, baru berkata, “panas betul cuaca siang ini!”
Contoh alasan kejiwaan: adalah saat seorang pemain mengekspresikan ketakutan kemudian mengerutkan badannya. Atau saat seorang pemain melompat untuk mengekspresikan kegembiraannya.

Inti dari "mendengar" di dalam seni peran adalah menanggapi. Adapun menanggapi itu ada tiga:

  1. menanggapi lawan main : ekspresi dari percakapan dua orang atau lebih dalam sebuah pementasan drama. 
  2. menanggapi sifat adegan : merupakan ekspresi dari tokoh lakon yang menyesuaikan diri dengan keadaan sifat adegan sedih atau gembira, yang sedang berlangsung dalam suatu pementasan. 
  3. menanggapi lingkungan adegan : hal ini berhubungan dengan setting peristiwa. Misalnya, adegan sedang berlangsung dengan latar tempat di puncak gunung, latar waktu malam hari yang dingin, pemain yang muncul, mengerutkan tubuhnya. memakai sal berbulu pada lehernya. 

Kemudian, dianalissis apa saja yang dikatakan Ikah dalam naskah tersebut. Dan apa yang dikatakan tokoh lain tentang Ikah. Demikian juga dalam menganalisis tokoh-tokoh lainnya, seperti; Bi Atang, Otong, Anen, dan Fatimah.

6. Tata Rias

Sering kali dijumpai penokohan yang usianya lebih tua dari usia pemain,- seperti peran ibu, bapak, lurah, dokter, raja, ratu, dst. Karenanya, diperlukan tata rias untuk mendekatkan pemain yang berusia muda pada tokoh yang mereka perankan. Tata rias yang berdasar pada penokohan tersebut disebut Tata rias karakter.

7. Tata Busana

Tata busana yang dimaksudkan adalah tata busana untuk kebutuhan penokohan. Sumber dari tata busana penokohan tidak lain adalah naskah lakon yang akan dipentaskan. Misalnya, bagaimana busana yang dikenakan oleh tokoh Ikah digambarkan; - “Ikah muncul, ia mengenakan gaun mengesankan yang dihiasi kulit binatang berbulu pada lehernya. Sebelah tangannya mengayun-ayunkan sehelai sapu tangan sutra yang selalu dilambai-lambaikan saat berjalan atau bicara. Dan inilah gaya Hollywood yang gila itu”.

8. Tata Pentas

Tata Pentas yang dimaksudkan adalah segala sesuatu (termasuk set dekorasi) yang diatur berdasarkan kebutuhan pengadeganan. Misalnya, untuk set dekor untuk naskah lakon “Mentang-mentang dari New York”: Ruang tamu di rumah keluarga Bi Atang di kampung Jelambar. Pintu depannya di sebelah kiri, jendela sebelah kanan, di sebelah pentas ini, ada seperangkat kursi rotan yang sederhana, di sebelah kanan ada radio besar yang merapat ke dinding belakang. Di tengah dinding tersebut terdapat sebuah pintu yang menghubungkan ruang tamu dengan bagian dalam rumah itu.

9. Tata Cahaya

Tata cahaya merupakan kualitas penyinaran berdasarkan suasana adegan. Misalnya untuk kebutuhan pementasan “Mentang-mentang dari New York”: Pagi hari, saat layar mulai di buka, terdengar pintu depan diketuk orang, Bi Atang muncul dari pintu melepas apronnya, dan bersungut-sungut. Tata cahaya menggambarkan suasana pagi dengan mengkombinasikan penyinaran dari lampu-lampu spot yang diberi gelatin (warna cahaya).


Sumber : S.C. Bangun dkk. Buku Seni Budaya SMK/MA/SMA/MAK Kelas IX Semester I Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2014




Artikel ini membahas tentang Ragam Permainan untuk Teater. Semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Ragam Permainan untuk Teater

1. Ragam Permainan untuk Teater: Menghindar dari Serangan Lebah


Permainan ini dilakukan secara berkelompok. Mula-mula kita berjalan dari X ke Y dan kembali lagi ke posisi X. Lalu berjalan lagi sambil membayangkan ada seekor Kumbang/Tawon menyerang kita. Kita harus menghindar dari serangan Kumbang/Tawon itu. Latihan dilanjutkan dengan membayangkan Kumbang/Tawon-nya bertambah banyak 5, 10, 50, 100 dan seterusnya. Kemudian kita mencoba untuk menjadi lebahnya.

2. Ragam Permainan untuk Teater: Jalan yang Licin


Ragam Permainan untuk TeaterPermainan ini juga dilakukan secara berkelompok. Masing-masing pemain membayangkan berjalan di jalan yang licin. Jaraknya ditentukan oleh pelatih. Misalnya, dari sudut X ke Y yang berjarak 10 sampai 20 meter. Apa pun yang dilakukan oleh pemain adalah yang terbaik. Jangan disalahkan. Yang salah adalah bila ada pemain yang meniru apa yang dilakukan temannya. Dalam latihan seperti ini, yang dihindari adalah meniru. Pelatih harus membebaskan pemain. Biarkan mereka berlaku berdasarkan imajinasinya masing-masing.

Variasi dari latihan ini, ialah:
a. Berjalan di jalanan yang lengket.
b. Berjalan di jalanan yang berlubang.
c. Berjalan di jalanan yang tergenang atau banjir.
d. Berjalan di jalanan yang panas.
e. Berjalan dengan kaki yang tidak bisa ditekuk.
f. Berjalan dengan kaki yang tidak bisa diluruskan.


Sumber : S.C. Bangun dkk. Buku Seni Budaya SMK/MA/SMA/MAK Kelas IX Semester I Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2014




Wednesday, November 5, 2014

Artikel ini membahas tentang Teknik Dasar Akting Teater. Semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Teknik Dasar Akting Teater

Teknik Dasar Akting Teater 1 : Aktor dengan Suara dan Tubuhnya

Seorang aktor atau aktris dalam pekerjaan sehari-harinya pasti akan berhadapan dengan berbagai masalah yang menyangkut suara dan tubuhnya. Berbagai perasaan yang berkecamuk dibathin tokoh yang diperankan, harus mampu diejawantahkan melalui suara dan tubuhnya. Kondisi-kondisi badaniah yang dihadapi sang tokoh harus mampu dikemukakan dengan memanfaatkan suara dan tubuhnya. Melalui suara dan tubuhnya itulah seorang aktor-aktris berkomunikasi. Dengan suara dan seluruh bagian dari tubuhnya, ia harus mampu bercerita sehingga dapat meyakinkan orang lain.

Tuntutan dari segi suara dan fisik tidak kalah banyaknya dengan tuntutan yang ada dari segi kejiwaannya. Bagi seorang aktor/aktris teater, kondisi suara dan fisik yang prima menjadi syarat ang mutlak. Ia tidak perlu bersuara merdu bagai biduan dan berbadan bak seorang binaragawan, atau ratu kecantikan. Tidak perlu pula baginya untuk bersuara alto atau sopran, atau berpotongan tubuh bak seorang pesenam. nyaSuara boleh biasa-biasa saja dan tubuhnya pun boleh berbentuk bagaimana saja, sesuai kebutuhan tokoh yang ia perankan. Ia bisa bersuara cempreng, bertubuh pendek gemuk, kurus tinggi, besar tegap atau sedang-sedang saja dan berbagai bentuk suara dan tubuh yang biasa kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Tapi dari dirinya dibutuhkan kesiapan yang mutlak, artinya suara dan tubuhnya harus siap pakai dalam kondisi seperti apapun juga. Kelenturan suara dan tubuh, keluwesan gerak, kesanggupan untuk bersikap tak melawan atau berpasif dengan seluruh tubuhnya, dan berbagai sikap serta perbuatan lainnya harus mampu dilahirkannya. Dan ini semua harus dilakukan secara logis, jelas dan tegas. Untuk segalanya inilah, maka seorang aktor/aktris dituntut untuk senantiasa melatih suara dan tubuhnya.

Salah satu usaha untuk itu adalah latihan olah suara dan latihan olah tubuh. Dapatkah suara dan tubuh diolah? Kalau seorang aktor/aktris ingin melihat suara dan tubuhnya sebagaimana seorang seniman keramik melihat tanah liat. Maka dapatlah ia mengolah suara dan tubuhnya. Seperti sang seniman keramik menyiapkan adonan tanah liat yang diaduk-aduk dan diremas-remasnya sebelum membentuk benda yang ingin dibuatnya. Harus seperti itulah sikap aktor/aktris terhadap suaranya dan tubuhnya.

Teknik Dasar Akting Teater 2 :  Olah Suara

Suara pemain teater harus dapat menempuh jarak yang lebih jauh dibanding dengan suara pemain film dan sinetron, karena suara pemain teater tidak hanya dituntut terdengar oleh lawan main, akan tetapi juga harus terdengar oleh seluruh penonton. Pertunjukan yang secara visual baik, kalau suara pemainnya tidak cukup terdengar, akan membuat penonton tidak dapat menangkap jalan ceritanya. Pertunjukan yang secara visual buruk, tapi kalau ucapan pemainnya cukup terdengar oleh penonton,
asih dapat membuat penonton bisa menikmati jalan cerita dari pertunjukan tersebut. Ini menunjukkan bahwa, suara mempunyai peranan yang cukup penting. Agar tujuannya tercapai, pemain teater harus melatih:
  1. Kejelasan ucapan. Agar setiap sukukata yang ia ucapkannya cukup terdengar.
  2. Tekanan ucapan. Agar isi pikiran dan isi perasaan dari kalimat yang diucapkannya bisa ditonjolkan.
  3. Kerasnya ucapan. Agar kalimat yang diucapkannya cukup terdengar oleh seluruh penonton.

1) Melatih Kejelasan Ucapan
  1. Latihan berbisik: Dua pemain berhadapan, membaca naskah dalam jarak 2-3 meter, dengan cara berbisik.
  2. Latihan mengucapkan kata atau kalimat dengan variasi temponya, cepat dan lambat: “zengzeng teeeengtes sreseptep brebeeeet ... maka para pesulap mengeluarkan kertas berwarna-warni dari mulut dowernya yang kebanyakan mengunyah popcorn, kentucky, pizza, humberger di rumah-rumah makan eropa-amerika dan membuat jamur dari air ludahnya pada kertas panjang yang menjulur bagai lidah sungai yang menuju jalan layang bebas hambatan kemudian melilit bangunan-bangunan mewah disekitar pondok indah cinere pantai indah kapuk bumi serpong damai  pluit pulomas sunter hijau kelapa gading permai dan tugu monas yang menjulang tinggi ke angkasa...”

2) Melatih Tekanan Ucapan

Tekanan ucapan ada tiga macam; 1). Tekanan Dinamik. 2). Tempo. 3). Tekanan Nada.

a. Tekanan Dinamik
Tekanan Dinamik ialah keras dan pelannya suatu ucapan. Gunanya untuk menggambar isi pikiran dan isi perasaan dari suatu kalimat. Contohnya; “Hari Sabtu ibu ke pasar” (artinya, bukan hari minggu atau hari lainnya). “Hari Sabtu ibu ke pasar” (artinya, bukan saya atau kakak saya). “Hari Sabtu ibu ke pasar” (artinya bukan ke toko buku atau ke toko makanan).

b. Tekanan Tempo
Tekanan Tempo maksudnya adalah cepat dan lambatnya ucapan. Gunanya sama dengan tekanan dinamik. Untuk menggambarkan isi pikiran dan isi perasaan dari suatu kalimat. Contohnya:

  • “Ha-ri Sab-tu ibu ke pasar”
  • “Hari Sabtu i-bu ke pasar”
  • “Hari Sabtu ibu ke pa-sar”

Tekanan nada merupakan lagu dari sebuah ucapan, contohnya; “Wah, dia pandai sekali!” atau “Gila, ternyata dia dapat menjawab pertanyaan yang serumit itu!”

3) Melatih Kerasnya Ucapan

Teknik ucapan pemain teater ternyata lebih rumit dibanding dengan tehnik ucapan bagi pemain film dan sinetron. Ucapan pemain teater tidak hanya dituntut jelas dan menggambarkan isi pikiran dan isi perasaan, tetapi juga dituntut harus keras, karena ucapan pemain di atas panggung menempuh jarak yang lebih jauh. Untuk itu kerasnya ucapan harus dilatih dengan berbagai macam cara. Diantaranya;
  1. Mengucapkan kata atau kalimat tertentu dalam jarak 10 meter atau 20 meter. Dalam latihan ini, yang harus selalu dipertanyakan ialah: a). Apakah sudah jelas? b). Apakah sudah menggambarkan isi pikiran dan isi perasaan? c). dan pertanyaan yang terpenting, apakah sudah wajar?
  2. Latihan mengguman. Gumaman harus stabil dan konstan. Kemudian harus menggunakan imajinasi dengan mengirim gumaman ke cakrawala. Bayangkanlah “gumaman” yang dikeluarkan lenyap di cakrawala.
Ketiga teknik ucapan di atas (kejelasan ucapan, tekanan ucapan dan kerasnya ucapan), pada dasarnya merupakan satu kesatuan yang utuh ketika seseorang berbicara atau berdialog. Ketiga teknik itu saling mengisi dan melengkapi. Sebelum melatih ketiga tekhnik ucapan di atas, sebaiknya dilakukan pemanasan terlebih dahulu. Misalnya, dengan mengendurkan urat-urat leher, urat-urat pembentuk suara, dan membuat rileks seluruh anggota tubuh.

Teknik Dasar Akting Teater 3 : Olah Tubuh

Bentuk tubuh kita, dan cara-cara kita berdiri, duduk dan berjalan memperlihatkan kepribadian kita. Motivasi-motivasi kita untuk melakukan gerak lahir yang berasal dari sumber-sumber fisikal (badaniah), emosional (perasaan), dan mental (pikiran), dan setiap tindakan (aksi) kita berasal dari satu, dua atau tiga macam desakan hati (impuls). Banyak sekali interaksi atau pengaruh timbal-balik dan perubahan urutan yang tak habis-habisnya.
Teknik Dasar Akting Teater

Saat tubuh kita kedinginan dan bergetar, kita merasakan dingin dan ketidak nyamanan, maka kita berkata: “dingin”. Pengalaman badaniah memberi petunjuk bagi perasaan dan pikiran kita. SaaKita diliputi kegembiraan, maka kita melompat, menari dan menyanyi. Aliran perasaan yang meluap meledak ke dalam bentuk aktifitas badaniah. Seorang aktor tidak akan bergerak demi gerak itu sendiri dan tidak pula membuat gerak indah demi keindahan. Bila dari dirinya diminta agar menari, maka ia akan melakukannya sebagai seorang tokoh tertentu, pada waktu, tempat dan situasi tertentu. Latihan olah tubuh bagi seorang aktor adalah suatu proses pemerdekaan diri.

Tulang punggung dapat menyampaikan kepada para penonton berbagai kondisi yang sedang kita alami, apakah lagi tegang atau tenang, panas atau dingin, letih atau segar, tua atau muda, dan ia juga membantu keberlangsungan perubahan sikap tubuh dan bunyi suara kita. Secara anatomis bagian-bagian tulang punggung terdiri dari:
a. 7 ruas tulang tengkuk
b. 12 ruas tulang belakang
c. 5 ruas tulang pinggang
d. 5 ruas tulang kelangkang bersatu dan 4 ruas tulang ekor.

Teknik Dasar Akting Teater 4 : Latihan kepala dan leher

  1. Jatuhkanlah kepala ke arah depan dengan seluruh bobotnya dan ayunkan dari sisi ke sisi.
  2. Jatuhkan kepala ke arah kanan, ayunkan ke arah kiri melalui bagian depan, lalu ayunkan ke arah kanan melalui punggung.
  3. Lalukan latihan yang sama untuk “bahu”.
  4. Untuk tangan dan kaki, dapat menggunakan variasi rentangan.

Teknik Dasar Akting Teater 5 : Latihan tubuh bagian atas

Berdiri dengan kedua kaki dengan sedikit direnggangkan berjarak antara 60 sentimeter. Tekukkan lutut sedikit saja. Benamkan seluruh tubuh bagian atas ke arah depan di antara kedua kaki. Biarkan tubuh bagian atas bergantung seperti ini dan berjuntai- juntai untuk beberapa saat. Tegakkan kembali seluruh tubuh melalui gerakan ruas demi ruas, sehingga kepalalah yang paling akhir mencapai ketinggiannya dengan seluruh tulang punggung melurus. Dengan cara yang sama, coba membongkokkan tubuh ke arah kiri, ke arah kanan, dan ke arah belakang.

Teknik Dasar Akting Teater 6 : Latihan pinggul, lutut dan kaki

  1. Berdiri tegak dengan kaki rapat. Turunkan badan dengan menekuk lutut dan kembali tegak.
  2. Berdiri tegak dengan satu kaki, kaki yang lain dijulurkan ke depan. Turunkan badan dengan menekuk lutut dan kemudian kembali tegak. Ganti dengan kaki yang lain.
  3. Putar lutut ke kiri dan ke kanan. Buatlah berbagai variasi dengan konsentrasi pada lutut.

Teknik Dasar Akting Teater 7 : Seluruh batang tubuh

  1. Berdiri dan angkatlah tangan ke atas setinggi-tingginya, regangkan diri bagaikan sedang menguap keras merasuki seluruh tubuh. Ketika kita mengendurkan regangan tubuh, berdesahlah ambil lemaskan diri sehingga secara lemah lunglai mendarat di lantai. Jangan dilakukan secara mendadak, tapi biarkanlah bobot tubuh kita sedikit demi sedikit luruh ke bawah/ke lantai.
  2. Pantulkan diri dengan goyangkan lengan-lengan, tangan-tangan, lutut, kaki dan telapak kaki ketika berada di udara. Keluarkan teriakan singkat ketika kita memantul.

Teknik Dasar Akting Teater 8 : Berjalan

  1. Mengkakukan tulang punggung dan rasakanlah betapa langkah yang satu terpisah dari langkah lainnya.
  2. Mendorong leher ke arah depan.
  3. Mengangkat dagu.
  4. Menunduk/menjatuhkan kepala ke depan.
  5. Mengangkat bahu ke atas tinggi-tinggi.
  6. Menarik bahu ke arah belakang.
  7. Menjatuhkan atau membungkukkan bahu ke arah depan.
  8. Sambil menggerak-gerakkan tangan pada siku-sikunya.
  9. Memantul-mantulkan diri dari kaki ke kaki.
  10. Dengan membengkokkan telapak kaki ke atas dan bertumpu pada tumit-tumit kaki.
  11. Mencondongkan seluruh tubuh ke arah belakang dan perhatikan betapa ini meninggalkan berat bobot tubuh di belakang saat melangkah maju.

Teknik Dasar Akting Teater 9 : Berlari

Berdiri dan tarik napas terlebih dahulu, kemudian hembuskan napas ke depan sambil berlari, mengeluarkan suara “haaaa” sepanjang kemampuan napas yang dikeluarkan. Kemudian berbalik lagi ke tempat ketika berhenti, lalu tarik napas dan ulangi gerak lari yang sama. Gerakan dan suara akan membentuk ungkapan atau ucapan yang selaras. Tariklah napas dalam-dalam, ketika mengeluarkan napas larilah mundur sambil membungkukkan tubuh bagian atas ke arah depan.

Teknik Dasar Akting Teater 10 : Melompat

  1. Berlari menuju ke titik suatu lompatan. Rasakan betapa sifat memantulnya berat tubuh mengangkat kita.
  2. Ayunkan kedua kaki sebebas-bebasnya dan melompatlah lebih tinggi lagi.
Seluruh rangkaian latihan olah tubuh tersebut harus dilakukan dengan menggunakan imajinasi (pikir dan rasa), dan dapat ditambahkan berbagai variasi dengan membunyikan musik instrumentalia.


Sumber : S.C. Bangun dkk. Buku Seni Budaya SMK/MA/SMA/MAK Kelas IX Semester I Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2014




Tuesday, November 4, 2014

Artikel ini membahas tentang Merangkai Gerak Dasar Tari Tradisional Indonesia. Semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Merangkai Gerak Dasar Tari Tradisional Indonesia

Untuk merangkai gerak dasar tari tradisional Indonesia, kita mengacu pada komposisi gerak tari secara umum. Secara teori, komposisi gerak dibuat dengan 4 proses atau 4 bagian yaitu (1) Eksplorasi, (2) Improvisasi, (3) Evaluasi dan (4) Komposisi.

1. Eksplorasi

Eksplorasi merupakan pengalaman penari dalam melakukan penjajakan gerak, untuk menghasilkan ragam gerak. Pada kegiatan ini, penari  berimajinasi melakukan interpretasi terhadap apa yang telah dia lihat, dengar, atau dia raba. Penari dapat dengan bebas bergerak mengikuti apa kata hatinya, mengikuti imajinasi dan juga interpretasinya.

2. Improvisasi

Merangkai Gerak Dasar Tari Tradisional IndonesiaYang dimaksud dengan improvisasi adalah pengalaman penari yang secara spontanitas mencoba atau mencari-cari berbagai kemungkinan ragam gerak yang telah diperoleh pada waktu eksplorasi. Dari setiap ragam gerak yang telah dihasilkan pada waktu eksplorasi, selanjutnya dapat dikembangkan dari aspek tenaga, ruang dan waktu sehingga menghasilkan ragam gerak yang sangat banyak.

3. Evaluasi

Yang dimaksud dengan evaluasi adalah pengalaman penari untuk menilai sekaligus menyeleksi ragam gerak yang telah mereka hasilkan pada tahap improvisasi. Dalam kegiatan ini penari mulai menyeleksi ragam gerak yang mereka rasakan tidak sesuai agar tidak digunakan dan memilih ragam gerak yang sesuai dengan gagasannya. Hasil inilah yang akan digarap selanjutnya oleh penari pada tahap komposisi tari.

4. Komposisi

Komposisi merupakan tujuan akhir mencari gerakan untuk selanjutnya membentuk tari dari gerak yang ditemukan.

Aktivitas-aktivitas untuk Mengeksplorasi Gerak
  1. Lakukanlah eksplorasi gerak berdasarkan ragam gerak kepala, badan, tangan dan kaki.
  2. Lakukanlah improvisasi dari eksplorasi yang dilakukan sebelumnya.
  3. Lakukanlah pemilihan gerak menurut kata hatimu.
  4. Rangkaikanlah gerak yang telah terpilih sehingga menjadi komposisi tari.
  5. Tampilkanlah komposisi tarian yang dibuat itu di lingkungan sekolahmu.

Sumber : S.C. Bangun dkk. Buku Seni Budaya SMK/MA/SMA/MAK Kelas IX Semester I Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2014




Artikel ini membahas tentang Beberapa Jenis Teater Tradisional Nusantara. Semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Beberapa Jenis Teater Tradisional Nusantara

Teater Tradisional adalah bentuk pertunjukan seni dimana pesertanya berasal dari daerah setempat karena terkondisi dengan adat istiadat setempat, sosial masyarakat dan struktur geografis masing-masing daerah.

Kata tradisi berasal dari kata dalam bahasa Inggris "tradition", yang berarti buah pikiran, kepercayaan, adat-istiadat, atau pandangan hidup yang diturunkan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tradisional adalah ; bentuk tontonan yang diwariskan oleh nenek moyang secara turun-temurun kepada generasi berikutnya. Dramawan atau orang-orang yang bermain drama secara alami berupaya untuk mengaktualisasikan teater tradisional itu dengan konsep-konsep masa kini atau modern, hal itu dilakukan agar tontonan yang ditampilkan lebih mudah diterima oleh para penontonnya.

Beberapa teater tradisional nusantara antara lain adalah sebagai berikut :

1. Lenong (Teater tradisional nusantara dari Betawi)

Ada dua bentuk Lenong;
(1) Denes
Tontonan Lenong Denes lakonnya tentang raja-raja dan pangeran di suatu kerajaan, sekarang sudah jarang kita jumpai, karena hampir tidak ada penerusnya. Cerita-cerita yang dipentaskan pada Lenong Denes antara lain : Indra Bangsawan, Danur Wulan, Jula-Juli Bintang Tujuh, dan cerita-cerita lain yang diambil dari Cerita 1001 Malam, misalnya kisah Abunawas. Karena Lenong denes memainkan cerita kerajaan, maka busana yang digunakan oleh tokoh-tokoh pemerannya sangat gemerlapan, seperti peran raja, bangsawan, pangeran, putri, atau hulubalang. Akhirnya kata denes (dinas) jadi melekat pada cerita dan busana yang dipakai.

Adapun Bahasa yang digunakan dalam pementasan lenong denes bahasa adalah bahasa Melayu tinggi. Contoh kata-kata Melayu tinggi yang sering digunakan antara lain : baginda, tuanku, kakanda, adinda, daulat tuanku, beliau, syahdan, hamba dan lain sebagainya. Dialog dalam lenong denes sebagian besar dilakukan dengan nyanyian. Dengan cerita kerajaan dan berbahasa Melayu tinggi, para pemain lenong denes jadi tidak leluasa untuk melakukan humor. Agar pertunjukan tidak terlalu monoton dan bisa menampilkan kejenakaan, maka ditampilkan tokoh dayang atau khadam (pembantu) yang menggunakan bahasa Betawi. Adegan-adegan perkelahian dalam lenong denes tidak menggunakan jurus-jurus silat, tetapi tinju, gulat, dan main anggar (pedang).

Lenong denes biasanya dimainkan di atas panggung berukuran 5 x 7 meter. Penggunaan dekor atau seben untuk menyatakan susunan adegan-adegan. Misalnya ada dekor singgasana, taman sari, hutan, dan sebagainya. Musik pengiring teater lenong denes adalah gambang kromong. Dalam adegan perkelahian alat musik pengiringnya ditambah dengan tambur.


(2) Lenong Preman
Pertunjukan lenong Preman lakonnya tentang rakyat jelata, seperti yang kita kenal sekarang, pada awalnya, Lenong Preman dimainkan semalam suntuk. Karena jaman berkembang dan tuntutan keadaan, maka terjadi perubahan-perubahan.

Beberapa Jenis Teater Tradisional NusantaraBersamaan dengan diresmikannya TIM (Taman Ismail Marzuki), lenong yang tadinya hanya dimainkan di kampung-kampung, oleh SM. Ardan, dibawa ke TIM, tapi waktu pertunjukannya diperpendek menjadi satu atau dua setengah jam saja.

Teater tradisional Betawi yang lain diantaranya adalah  Topeng Betawi, Topeng Blantek dan Jipeng (Jinong).

  • Lenong menggunakan alat musik Gambang Kromong
  • Topeng Betawi menggunakan alat musik Tabuhan Topeng Akar
  • Topeng Blantek menggunakan alat musik Tabuhan Rebana Biang
  • Jipeng atau Jinong menggunakan alat musik Tanjidor


Bahasa yang digunakan pada pertunjukan Lenong adalah bahasa Betawi. Berdasarkan sejarahnya, Lenong mendapat pengaruh dari teater Bangsawan.

2. Longser (Teater tradisional nusantara di Jawa Barat)

Teater Longser berasal dari daerah Jawa Barat. Pengertian longser dapat kita lihat dari asal katanya, kata Longser berasal dari kata "melong" yang memiliki arti melihat dan "seredet" yang artinya tergugah. Secara umum Longser berarti  bahwa barang siapa yang melihat atau menonton pertunjukan tersebut, maka hatinya akan tergugah. Sama halnya dengan teater-teater tradisional yang lain, Longser dari Sunda ini juga bersifat hiburan yang sederhana, jenaka dan menghibur.

Tontonan Longser dapat diselenggarakan di mana saja, karena tidak memerlukan dekorasi yang rumit. Penonton bisa menyaksikan Longser dengan posisi duduk melingkar. Berbicara tentang sejarah longser, puncak popularitas teater Longser berada pada tahun 1920 – 1960. Tokoh- tokohnya, antara lain; Ateng Japar, Bang Tawes, Tilil Bang, Bang Soang, dan lain-lain.

Seni Longser yang sampai sekarang masih dilestarikan oleh beberapa kelompok seniman di Jawa Barat, Kesenian Longser saat ini dipadukan dengan kondisi jaman, selain untuk melestarikan seni budaya teater longser, sekaligus agar teater ini dapat dicintai dan diminati oleh generasi saat ini, agar seni tradisi ini dapat abadi dengan bumbu modernisasi yang tidak menghilangkan keaslian dari seni budaya itu sendiri.

3. Ketoprak (Teater Tradisional di Jawa Tengah)

Ketoprak adalah teater rakyat yang paling populer, terutama di daerah Yogyakarta dan daerah Jawa Tengah. Namun di Jawa Timur pun dapat ditemukan ketoprak. Di daerah-daerah itu ketoprak adalah kesenian rakyat yang menyatu dalam kehidupan mereka dan mengalahkan kesenian rakyat lainnya seperti srandul dan emprak.

Kata ‘kethoprak’ berasal dari nama alat yaitu Tiprak. Kata Tiprak ini bermula dari prak. Karena bunyi tiprak adalah prak, prak, prak. Serat Pustaka Raja Purwa jilid II tulisan pujangga R. Ng. Rangga Warsita dalam bukunya Kolfbunning tahun 1923 menyatakan “… Tetabuhan ingkang nama kethoprak tegesipun kothekan” ini berarti kethoprak berasal dari bunyi prak, meskipun awalnya bermula dari alat bernama tiprak.

Kethoprak juga berasal dari kothekan atau gejogan. Alat bunyi-bunyian yang berupa lesung oleh pencipta kethoprak ditambah kendang dan seruling. Ketoprak adalah salah satu bentuk teater rakyat yang sangat memperhatikan bahasa yang digunakan. Bahasa sangat mendapat perhatian, walaupun yang digunakan bahasa Jawa, namun harus diperhitungkan masalah unggahungguh bahasa. Dalam bahasa Jawa terdapat tingkat-tingkat bahasa yang digunakan, yaitu:
- Bahasa Jawa biasa (sehari-hari)
- Bahasa Jawa kromo (untuk yang lebih tinggi)
- Bahasa Jawa kromo inggil (yaitu untuk tingkat yang tertinggi)

Menggunakan bahasa dalam ketoprak, yang diperhatikan bukan saja penggunaan tingkat-tingkat bahasa, tetapi juga kehalusan bahasa. Karena itu muncul yang disebut bahasa ketoprak, bahasa Jawa dengan bahasa yang halus dan spesifik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Kethoprak adalah seni pertunjukan teater atau drama yang sederhana yang meliputi unsur tradisi jawa, baik struktur lakon, dialog, busana rias, atau bunyi-bunyian musik tradisional yang dipertunjukan oleh rakyat.

Beberapa Jenis Teater Tradisional NusantaraTeater ketoprak berasal dari Jawa Tengah, pada mulanya Ketoprak hanyalah permainan para penduduk desa yang sedang menghibur diri mereka dengan menggunakan lesung yang ditabuh di bulan Purnama, hiburan ini disebut gejogan. Pada perkembangannya, hiburan Ketoprak menjadi suatu bentuk tontonan teater tradisional yang lengkap dan paling populer di Jawa Tengah.

Ketoprak pertama kali dipentaskan sekitar tahun 1909. Awalnya teater ini disebut ketoprak lesung, tapi setelah musik gendang, terbang, suling, nyanyian dan lakon yang menggambarkan kehidupan rakyat di pedesaan dimasukkan sebagai unsurnya, maka lengkaplah Ketoprak sebagaimana yang kita kenal saat ini.

4. Ludruk (Teater tradisional nusantara Jawa Timur)

Ludruk adalah teater yang bersifat kerakyatan yang berasal dari kota Jombang yang dikenal dengan kota santri. Ludruk menggunakan bahasa Jawa dialek Jawa Timuran. Sejalan dengan waktu, Ludruk kemudian menyebar ke daerah-daerah di sebelah barat, karesidenan Madiun, Kediri hingga ke Jawa Tengah. Pada teater Ludruk, semua perwatakan dimainkan oleh pria.

Cerita yang dilakonkan mumnya  tentang sketsa kehidupan rakyat atau masyarakat, yang dibumbui dengan perjuangan melawan penindasan. Unsur parikan di dalam teater Ludruk pengaruhnya sangat besar. Misalnya, parikan yang dilantunkandi zaman penjajahan Jepang oleh Cak Durasim, yang membuat Cak Durasim berurusan dengan kempetei Jepang. Begini bunyi parikan itu: “Pagupon omahe doro melok Nipon tambah soro”

5. Arja (Teater tradisional nusantara Bali)

Di Bali sangat banyak bentuk teater tradisional. Salah satu diantaranya adalah Arja. Arja juga merupakan teater tradisional Bali yang bersifat kerakyatan. Arja menekankan tontonannya pada tarian dan nyanyian. Pada awalnya tontonan Arja dimainkan oleh laki-laki, tapi pada perkembangannya lebih banyak dilakukan oleh pemain wanita, karena penekanannya pada tari. Arja umumnya mengambil lakon dari Gambuh yang bertolak dari cerita Gambuh. Namun pada perkembangannya dimainkan juga lakon dari Ramayana dan Mahabharata. Tokoh- tokoh yang muncul dalam Arja adalah Melung (Inye, Condong) pelayan wanita, Galuh atau Sari, Limbur atau Prameswari, Raja Putri, mantri dan lain sebagainya.

6. Kemidi Rudat (Teater tradisional nusantara NTT)

Salah satu teater tradisional yang terkenal dari Nusa Tenggara Barat adalah Kemidi Rudat. Tontonan Kemidi Rudat hampir sama dengan tontonan di daerah-daerah lain. Bentuk tontonan Kemidi Rudat, pengajiannya dalam bentuk drama, yang dikombinasi dengan tarian dan nyanyian.

Ada yang mengatakan Rudat asalnya dari kata Rodat, yang artinya baris-berbaris. Dari tontonan teater tradisional Kemidi Rudat, tampak pengaruh Bangsawan, yang dilatar-belakangi kebudayaan Melayu. Irama musiknya pun bernuansa Melayu. Dengan instrumen musik tambur, rebana, biola dan gamelan. Bahkan lakon-lakonnya pun bersumber dari cerita Melayu lama, sedangkan dialognya diucapkan dalam bahasa Melayu.

7. Kondobuleng (Teater tradisional nusantara Makasar)

Kondobuleng adalah teater tradisional yang berasal dari Makassar (suku Bugis). Kondobuleng berasal dari kata kondo (bangau) dan buleng (putih). Sehingga kondobuleng artinya bangau putih. Tontonan Kondobuleng mempunyai makna simbolis. Sama seperti teater tradisional umumnya, tontonan Kondobuleng juga dimainkan secara spontan. Ceritanya simbolik, tentang manusia dan burung bangau yang dimainkan dengan gaya lelucon, banyolan yang dipadukan dengan gerak stilisasi. Yang unik dari tontonan ini adalah tidak adanya batas antara karakter pemain dengan properti yang berlangsung pada adegan tertentu. Mereka pelaku, tapi pada adegan yang sama mereka juga adalah perahu yang sedang mengarungi samudera. Tapi pada saat yang sama, mereka adalah juga penumpangnya.

8. Dulmuluk (Teater tradisional nusantara Palembang)

Dulmuluk dikenal sebagai teater tradisional yang berasal dari Palembang, Sumatera Selatan. Nama dulmuluk diambil dari nama tokoh utama cerita yang terdapat dalam Hikayat Abdoel Moeloek. Seni pertunjukan Dulmuluk ini bermulai dari syair Raja Ali Haji, seorang sastrawan yang pernah bermukim di Riau yang kemudian menyebar hingga ke Palembang. Teater tradisional Dulmuluk juga dikenal dengan sebutan Teater Indra Bangsawan. Tontonan Dulmuluk ini juga menggunakan sarana drama, tari, dan nyanyi sebagai bentuk penungkapannya, dan musik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tontonan, karena pemain-pemainnya juga menyanyikan dialog-dialognya. Humor dan banyolan sangat dominan dalam tontonan Dulmuluk dengan memadukan unsur-unsur tari, nyanyi, drama dan lawakan. Lawakan, yang biasa disebut khadam, sering mengangkat dan menertawakan ironi kehidupan masyarakat sehari-hari  saat itu.
.
Bentuk pementasan Dulmuluk hampir sama dengan lenong dari masyarakat Betawi di Jakarta. Akting di atas panggung dibawakan oleh pelakonnya secara spontan dan menghibur. Penonton pun dapat membalas percakapan di atas panggung. Pertunjukan Dulmuluk mulai dikenal sejak awal abad ke-20. Sejak masa penjajahan Jepang tahun 1942, seni rakyat Dulmuluk berkembang menjadi teater tradisional yang dipentaskan dengan panggung. Saat itu kelompok teater Dulmuluk bermunculan karena digemari oleh masyarakat. Perjalanan teater Dulmuluk mulai surut sejak tahun 1990-an, hal itu disebabkab semakin banyaknya alternatif media hiburan, terutama melalui televisi dan film layar lebar. Teater tradisi itu semakin merosot setelah masyarakat yang menggelar hajatan lebih memilih pertunjukan organ tunggal.


9. Randai (Teater tradisional nusantara Minangkabau)

Teater Tradisional Randai berasal dari aerah Minangkabau, Sumatera Barat. Teater Randi bertolak dari sastra lisan yang disebut kaba (yang artinya “cerita”). Kaba yang berbentuk gurindam dan pantun didendangkan dengan iringan rabab, saluang, bansi dan rebana. Tontonan berlangsung dalam pola melingkar berdasarkan gerak-gerak tari yang bertolak darigerakan silat. Gerak-gerak silat ini disebut gelombang. Cerita-cerita yang digarap menjadi tontonan adalah cerita-cerita lisan berupa legenda dan dongeng yang populer di tengah masyarakat.

Randai adalah tontonan yang menggabungkan musik, nyanyian tari, drama dan seni bela-diri silat. Secara Umum Randai dipertontonkan dalam rangka upacara adat atau festival.

10.Makyong (Teater tradisional nusantara Riau)

Teater tradisional makyong berasal dari pulau Mantang di daerah Riau. Pada mulanya tontonan makyong berupa tarian dan nyanyian, tapi pada perkembangannya kemudian dimainkan cerita-cerita tentang legenda-legenda kerajaan dan rakyat. Makyong digemari oleh para bangsawan dan para sultan, sehingga sering dipertontonkan di istana-istana. Tontonan Makyong dimulai dengan upacara yang dipimpin oleh seorang panjak (pawang) agar semua yang terlibat dalam persembahan diberi keselamatan. Unsur humor, tari, nyanyi dan musik mendominasi tontonan Maknyong.

Tidak seperti tontonan teater tradisional yang lain, yang pada umumnya dimainkan oleh laki-laki, pada tontonan Makyong yang mendominasi justru perempuan. Kalau pemain laki-laki muncul, mereka selalu memakai topeng, sementara pemain wanitanya tidak memakai topeng. Cerita lakon yang dimainkan berasal dari sastra lisan berupa dongeng dan legenda yang populer di masyarakat.

11.Mamanda (Teater tradisional nusantara Banjarmasin)

Teater Tradisional Mamanda adalah teater yang berasal dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Tahun 1897, syahdan datanglah rombongan Bangsawan Malaka ke Banjar Masin, yang ceritanya bersumber dari syair Abdoel Moeloek. Meskipun masyarakat Banjar sudah mengenal wayang, topeng, Rudat, joget, Hadrah dan Japin, tapi rombongan Bangsawan ini mendapat tempat tersendiri di masyarakat.

Dalam perkembangannya, nama Bangsawan merubah menjadi Badamuluk. Dan berkembang lagi menjadi Bamanda atau mamanda. Kata Mamanda berasal dari kata “mama” yang berarti paman atau pakcik dan “nda” berarti “yang terhormat” sehingga Mamanda berarti “Paman yang terhormat”. Struktur dan perwatakan pada Mamanda sampai sekarang tidak berubah. kecualipad tata busana, tata musik dan ekspresi artistiknya.


Sumber : S.C. Bangun dkk. Buku Seni Budaya SMK/MA/SMA/MAK Kelas IX Semester I Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2014




Artikel ini membahas tentang Beberapa Jenis Teater Tradisional Asia. Semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Beberapa Jenis Teater Tradisional Asia

Asia merupakan benua terbesar diantara lima benua yang ada di dunia dengan penduduk terpadat yang tinggal menyebar di 50 negara. Teater tradisional Asia sangat beragam dan banyak macamnya. Setiap Negara di Asia memiliki teater tradisionalnya masing-masing. Diantara beberapa jenis Teater Tradisional Asia, berikut ini akan dibahas tiga dari macam ragam teater tradisional.

1. Teater Tradisional China

Salah satu teater tradisional China yang terkenal adalah Opera Peking. Opera Peking menggabungkan musik, tari, nyanyian, pantomim dan akrobat. Tontonan opera ini muncul pada akhir abad ke-18 dan mulai populer di china pada pertengahan abad ke-19. Tata rias dan tata busananya penuh warna dan sangat rumit. Gerakan-gerakan pemainnya cenderung bersifat simbolik dan sugestif.

Beberapa Jenis Teater Tradisional AsiaLakon Opera Peking biasanya diambil dari sejarah China, legenda, cerita Rakyat, dan cerita-cerita kekinian. Dalam perjalanan sejarahnya, Opera Peking, terus mengalami perubahan hingga pada bentuknya yang sekarang. Opera Peking merupakan perpaduan dari banyak bentuk kesenian di China. Seperti juga teater tradisional di Indonesia, Opera Peking pada awalnya hanya dimainkan oleh pemain laki-laki. Pada tahun 1894 di Shanghai, barulah perempuan diperkenankan main. Selain di China, Opera Peking juga berkembang di negara lain seperti Taiwan.

2. Teater Tadisional Jepang

Beberapa Jenis Teater Tradisional Asia
Salah satu bentuk teater tradisional Jepang yang terkenal adalah Kabuki. Seperti juga teater tradisional China, tata rias dan tata busana Kabuki juga sangat rumit. Bentuk tontonannya berupa campuran dari musik, tarian, dan nyanyian.

Kabuki berasal dari tiga suku kata bahasa Jepang, Ka yang artinya menyanyi), bu yang artinya  menari, dan ki yang artinya ketrampilan. Sehingga kabuki sering diartikan sebagai seni menyanyi dan menari. Kabuki sebagai teater tradisional telah diturunkan dari generasi ke generasi oleh masyarakat pendukungnya di Jepang. Dalam sejarahnya, Teater Kabuki tidak banyak mengalami perubahan. Berbeda dengan teater Barat, di mana pelaku dan penonton dibatasi oleh lengkung proskenium, dalam tontonan teater Kabuki pelaku dan penonton tidak diberi jarak. Panggung Kabuki menjorok ke arah penonton.

3. Teater Tradisional India

Selaras dengan Aristoteles (384 SM – 322 SM) di zaman Yunani kuno yang menulis “Poetic”, risalah yang mengulas tentang puisi, tragedi, komedi, dll. Di India (1500 SM – 1000 SM), ada tokoh yang setara bernama Bharata Muni, yang menulis “Natya shastra", yaitu risalah yang ditujukan kepada penulis naskah, sutradara dan aktor. Risalah tersebut melukiskan tentang akting, tari, musik, struktur dramatik, arsitektur, tata rias, tata busana, properti, manajemen produksi, dll.

Teater tradisional India berawal dari bentuk narasi yang diekspresikan dalam nyanyian dan tarian. Pada perkembangannya gerak laku pada teater tradisional India kemudian didominasi oleh nyanyian dan tarian, yang merupakan suatu kesatuan yang saling melengkapi. Sementera, alur cerita dan struktur lakon mengikuti alur dan struktur dari kisah Mahabharata dan kisah Ramayana, dengan tema cinta dan kepahlawanan.

Makna Simbol dan Peran Teater Dunia Teater berawal dari upacara-upacara keagamaan yang bertujuan untuk kesuburan tanaman dan keselamatan masyarakat dalam perburuan. Pada perkembangannya kemudian berkembang menjadi pertunjukan yang dipertontonkan kepada khalayak umum, ketika adegan perburuan itu diperagakan oleh kelompok masyarakat pendukungnya.

Pada perkembangan berikutnya, teater menjadi sarana pengajaran dan hiburan yang mengusung nilai-nilai moral, ekonomi, sosial, politik, dll. Sama halnya dengan perkembangan pada teater tradisional di Asia dan di Nusantara. Lakon-lakon yang kita saksikan melalui “Oedipus Sang Raja”, “Romeo & Juliet”, “Mahabharata”, Ramayana, “Lutung Kasarung”, “Malin Kundang”, dll. Semua menceritakan nilai baik vs buruk, dimana masyarakat yang menontonnya bisa bercermin dan mengambil hikmah dari kebaikan atau keburukan yang dilakukan oleh manusia.

Sumber : S.C. Bangun dkk. Buku Seni Budaya SMK/MA/SMA/MAK Kelas IX Semester I Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2014