Friday, November 7, 2014

Artikel ini membahas tentang Merancang Karya Teater dari Naskah Adaptasi. Semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Merancang Karya Teater dari Naskah Adaptasi

Berdasarkan naskah Filipina, karya Marcelino Acana Jr, Noorca “Mentang-mentang dari New York”,  Marendra memindahkan setting peristiwanya ke kampung Jelambar, di wilayah Jakarta Barat. Lakon ini bercerita tentang Bi Atang (seorang janda) dan anak gadisnya, Ikah yang sok kaya. Perabotan rumahnya terdiri dari seperangkat kursi rotan yang sederhana dan sebuah radio besar. Lakon ini sangat terbuka untuk diadaptasi ke semua propinsi di Tanah Air, dengan memindahkan setting peristiwanya ke daerah setempat. Persoalan yang diungkapkan oleh lakon pada naskah itu tidak berjarak dengan persoalan-persoalan di semua Negara berkembang.

1. Membentuk staf produksi

Langkah pertama yang dilakukan oleh pelatih adalah mengumpulkan semua orang yang akan turut mendukung pementasan, lalu membentuk staf produksi, dengan pembagian tugas sebagai berikut:


  1. Memilih dan menentukan orang yang berminat di staf artistik; Pemain, penata musik, penata gerak, penata dekor, penata penata busana, penata rias, dan penata cahaya.
  2. Memilih dan menentukan orang yang berminat di staf managemen; pimpinan produksi, dana dan usaha, keuangan, dokumentasi, konsumsi dan bagian umum.


Merancang Karya Teater dari Naskah AdaptasiSemua orang yang turut mendukung pementasan harus saling bekerjasama dengan baik. Dan untuk memperlancar kerjasama diperlukan pembagian kerja dan batasan yang jelas mengenai wewenang dan kewajibannya masing-masing, sehingga tidak terjadi salah presepsi selama bekerja.

2. Memilih dan menentukan pemain
Setelah membaca dan memahami isi naskah, pelatih menjelaskan alur cerita dan melukiskan dan menentukan pemain yang akan memerankan tokoh-tokoh yang ada di dalam naskah. Caranya bisa dimulai dengan membaca naskah secara bergiliran kemudian ditentukan pemerannya. Atau dengan cara lain, pemain memilih peran yang mereka sukai, kemudian diberi waktu untuk mempresentasikan peran yang telah dipilihnya itu.

3. Menentukan Karakterisasi
Menganalisa tokoh-tokoh yang ada dalam naskah “Mentang-mentang dari New York”. Di dalam kegiatan ini, ada tiga sumber informasi mengenai karakterisasinya, yaitu  (1) dari keterangan yang ada di dalam naskah. (2) ucapan tokoh itu sendiri. dan (3) ucapan tokoh lain tentang tokoh tersebut:

4. Ikah

Keterangan di dalam naskah menyebutkan; - “Ikah muncul, Ia mengenakan gaun mengesankan yang dihiasi kulit binatang

5. Menentukan bloking

Bloking adalah pergerakan atau perpindahan pemain dari satu tempat ke tempat lain, (misalnya, dari duduk dikursi, berjalan untuk membuka pintu dll.). Kelangsungan bloking pemain didasarkan pada nilai-nilai komposisi panggung dengan mempertimbangkan “motif ” atau alasan bergerak.

Ada pun alasan untuk bergerak sumbernya ada dua, Yaitu ; berdasarkan (1) alasan kewajaran dan (2) alasan kejiwaan.
Contoh dari alasan kewajaran: dalam percakapan di ruang tamu, seseorang berujar, “panas betul cuaca siang ini!” kemudian berjalan ke arah jendela dan membukanya. Atau berjalan lebih dahulu ke arah jendela dan membukanya, baru berkata, “panas betul cuaca siang ini!”
Contoh alasan kejiwaan: adalah saat seorang pemain mengekspresikan ketakutan kemudian mengerutkan badannya. Atau saat seorang pemain melompat untuk mengekspresikan kegembiraannya.

Inti dari "mendengar" di dalam seni peran adalah menanggapi. Adapun menanggapi itu ada tiga:

  1. menanggapi lawan main : ekspresi dari percakapan dua orang atau lebih dalam sebuah pementasan drama. 
  2. menanggapi sifat adegan : merupakan ekspresi dari tokoh lakon yang menyesuaikan diri dengan keadaan sifat adegan sedih atau gembira, yang sedang berlangsung dalam suatu pementasan. 
  3. menanggapi lingkungan adegan : hal ini berhubungan dengan setting peristiwa. Misalnya, adegan sedang berlangsung dengan latar tempat di puncak gunung, latar waktu malam hari yang dingin, pemain yang muncul, mengerutkan tubuhnya. memakai sal berbulu pada lehernya. 

Kemudian, dianalissis apa saja yang dikatakan Ikah dalam naskah tersebut. Dan apa yang dikatakan tokoh lain tentang Ikah. Demikian juga dalam menganalisis tokoh-tokoh lainnya, seperti; Bi Atang, Otong, Anen, dan Fatimah.

6. Tata Rias

Sering kali dijumpai penokohan yang usianya lebih tua dari usia pemain,- seperti peran ibu, bapak, lurah, dokter, raja, ratu, dst. Karenanya, diperlukan tata rias untuk mendekatkan pemain yang berusia muda pada tokoh yang mereka perankan. Tata rias yang berdasar pada penokohan tersebut disebut Tata rias karakter.

7. Tata Busana

Tata busana yang dimaksudkan adalah tata busana untuk kebutuhan penokohan. Sumber dari tata busana penokohan tidak lain adalah naskah lakon yang akan dipentaskan. Misalnya, bagaimana busana yang dikenakan oleh tokoh Ikah digambarkan; - “Ikah muncul, ia mengenakan gaun mengesankan yang dihiasi kulit binatang berbulu pada lehernya. Sebelah tangannya mengayun-ayunkan sehelai sapu tangan sutra yang selalu dilambai-lambaikan saat berjalan atau bicara. Dan inilah gaya Hollywood yang gila itu”.

8. Tata Pentas

Tata Pentas yang dimaksudkan adalah segala sesuatu (termasuk set dekorasi) yang diatur berdasarkan kebutuhan pengadeganan. Misalnya, untuk set dekor untuk naskah lakon “Mentang-mentang dari New York”: Ruang tamu di rumah keluarga Bi Atang di kampung Jelambar. Pintu depannya di sebelah kiri, jendela sebelah kanan, di sebelah pentas ini, ada seperangkat kursi rotan yang sederhana, di sebelah kanan ada radio besar yang merapat ke dinding belakang. Di tengah dinding tersebut terdapat sebuah pintu yang menghubungkan ruang tamu dengan bagian dalam rumah itu.

9. Tata Cahaya

Tata cahaya merupakan kualitas penyinaran berdasarkan suasana adegan. Misalnya untuk kebutuhan pementasan “Mentang-mentang dari New York”: Pagi hari, saat layar mulai di buka, terdengar pintu depan diketuk orang, Bi Atang muncul dari pintu melepas apronnya, dan bersungut-sungut. Tata cahaya menggambarkan suasana pagi dengan mengkombinasikan penyinaran dari lampu-lampu spot yang diberi gelatin (warna cahaya).


Sumber : S.C. Bangun dkk. Buku Seni Budaya SMK/MA/SMA/MAK Kelas IX Semester I Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2014




No comments:

Post a Comment